Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Oktober 2025) |

Interaksi parasosial (bahasa Inggris: parasocial interaction) adalah bentuk hubungan psikologis satu arah yang terjadi antara individu baik penonton, pendengar, maupun pengikut dengan tokoh-tokoh media yang dibangun melalui suatu perantara, terutama televisi dan platform media sosial.[1][2][3][4] Dalam hubungan ini, individu merasakan kedekatan emosional terhadap tokoh media (seperti selebritas, pembawa acara, karakter fiksi, idol, atau influencer) dan menganggapnya sebagai teman, meskipun tidak ada hubungan timbal balik yang nyata.
Interaksi parasosial ini bermula dari paparan terhadap persona tokoh media yang menimbulkan ketertarikan.[5] Seiring paparan yang berulang, individu mengembangkan ilusi kedekatan, persahabatan, dan identifikasi, sehingga merasa seolah memiliki hubungan pribadi dan akrab dengan tokoh tersebut.[6] Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Donald Horton dan Richard Wohl pada tahun 1956 untuk menjelaskan fenomena psikologis yang muncul akibat perkembangan media massa.[7]
Interaksi parasosial yang berkelanjutan mampu membawa individu ke hubungan parasosial. Parasocial relationship (PSR) merupakan kondisi hadirnya ilusi hubungan antara pengguna media digital dengan tokoh tertentu yang ditampilkan. Hubungan parasosial merupakan tiruan komunikasi resiprokal, menjadikan perbedaan antara hubungan nyata dengan dengan hubungan parasosial bukan berdasarkan jenis tokoh yang terlibat, melainkan ada atau tidaknya timbal balik.[8] Persona yang ditimbulkan audiens terhadap tokoh mengacu pada ilusi keintiman yang diproyeksikan, respons yang ditimbulkan oleh penonton, dan kondisi penerimaan penonton terhadap peran partisipan serta daya tarik khusus terutama bagi mereka yang kesepian.
Perkembangan
suntingPada abad ke-19, individu dapat membangun PSR melalui tokoh fiksi dalam buku bacaan. Pada akhir abad ke-20, individu juga dapat membangun hubungan melalui karakter televisi. Kini, media sosial lah yang memungkinkan terbentuknya PSRย dengan selebritas, influencer, dan tokoh lainnya. Meskipun terdapat perbedaan media dalam membangun PSRย di setiap zamannya, secara umum objek dalam hubungan tidak menyadari adanya hubungan pribadi dengan audiensnya. [8]
Proses Terbentuknya
suntingProses terbentuknya interaksi parasosial berlangsung dalam beberapa tahap. Faktor seperti daya tarik, kredibilitas, kesamaan dengan audiens, interaktivitas, dan keterbukaan diri dari figur media berperan penting dalam membangun persepsi kedekatan. Kedekatan ini kemudian berkembang menjadi ikatan psikologis satu arah, di mana individu merasa seolah memiliki hubungan pribadi dengan figur tersebut.
Sebagai contoh, seorang remaja dapat merasa memiliki "teman dekat" dalam diri seorang influencer yang rutin diikutinya, meskipun hubungan tersebut hanya terjadi melalui layar digital. Mekanisme ini memperkuat keterikatan emosional yang konsisten dan dapat memengaruhi sikap maupun respons emosional, seperti rasa percaya, persepsi keaslian, dan sikap positif. Dengan demikian, hubungan parasosial berperan sebagai jembatan antara kebutuhan individu akan identitas, penerimaan sosial, dan dukungan emosional dengan kehadiran tokoh media yang tersedia secara berkelanjutan. [9]
Faktor Keintiman (Intimacy)
suntingIntimacy dapat didefinisikan sebagai kemampuan individu dalam membangun hubungan yang lebih intim dan penuh kasih sayang di tahap usia dewasa awal, sekitar 20 hingga 30 tahun, baik sebagai pasangan atau teman dengan tujuan menghindari terbawanya individu ke tahap isolasi sosial.[10] Individu yang mengalami hubungan parasosial akan menggunakan berbagai figur terkenal atau karakter fiksi sebagai teman atau pasangan dengan maksud menjadikannya tokoh yang mampu meningkatkan suasana hati dan perasaan dekat tanpa melibatkan orang lain.[11] Beberapa studi mengungkapkan, bahwa secara umum, orang-orang akan lebih mudah mengekspresikan emosinya kepada tokoh-tokoh tersebut karena karakternya mampu memberikan rasa aman dan nyaman tanpa adanya penilaian buruk terhadap individu sehingga individu mampu mengekspresikan kebutuhannya tanpa ada resiko penolakan.[12] Adanya sifat atau kesamaan yang ditemukan antara individu dan tokoh figur dapat menjadi alasan penguat mengapa individu dapat mengembangkan hubungan parasosial.
Kerentanan terhadap Interaksi Parasosial
suntingKeterlibatan seseorang dalam interaksi parasosial seringkali berakar dari kebutuhan emosional. Individu yang mengalami kesepian cenderung mencari figur publik yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Ketika kebutuhan tidak terpenuhi melalui interaksi nyata, hubungan parasosial menjadi salah satu cara untuk mengatasinya.
Seseorang dengan pola keterikatan tidak aman (insecure attachment) cenderung lebih rentan membentuk hubungan parasosial, terutama dengan karakter fiksi. Hal ini terjadi karena karakter tersebut dapat menjadi tempat pelarian atau sumber kenyamanan tanpa risiko penolakan. Fakta bahwa karakter fiksi tidak nyata menjadikan hubungan ini memberikan rasa aman tertentu. Tidak seperti hubungan dengan orang nyata, hubungan dengan karakter fiksi bebas dari risiko penolakan.[13]
Peranan media terhadap Interaksi Parasosial
suntingAnak dan remaja sering menjadikan figur media atau karakter fiksi sebagai panutan karena figur tersebut menyediakan ruang eksplorasi identitas di luar pengaruh keluarga. Proses identifikasi yang awalnya berpusat pada orang tua mengalami pergeseran seiring kebutuhan remaja untuk membangun otonomi dan diferensiasi psikologis. Figur media menawarkan representasi identitas yang lebih beragam, terutama bagi mereka yang merasa kurang terwakili dalam lingkungan keluarga.
Melalui interaksi parasosial, anak dapat membentuk keterikatan emosional yang stabil tanpa risiko konflik langsung. Ketersediaan media yang konsisten dan mudah diakses memperkuat kedekatan ini, menciptakan persepsi bahwa mereka "dipahami" oleh figur yang dikagumi. Tokoh media juga berfungsi sebagai penghubung dengan budaya populer dan komunitas sebaya, memperkuat rasa kepemilikan kelompok dan validasi sosial. Fenomena ini merupakan bentuk adaptasi perkembangan dalam konteks masyarakat yang ditandai oleh dominasi media. [14]
PSR sebagai Substitusi Pemenuhan Kebutuhan Intimacy
suntingHubungan parasosial memang dapat memberikan berbagai manfaat bagi individu seperti meningkatkan dukungan emosional, membantu regulasi emosi, dan mengurangi kesepian, yang bahkan terkadang lebih mudah didapatkan daripada hubungan nyata.[11] PSR dapat berfungsi sebagai pelengkap hubungan sosial nyata, terutama ketika sosialisasi tidak memungkinkan.
Penting untuk dipahami bahwa PSR memiliki batasan dan risiko yang signifikan. Hoffner & Bond (2022) menegaskan bahwa PSR lebih sering menjadi pelengkap, bukan pengganti dari hubungan sosial nyata karena hubungan ini tidak mampu memberikan respons dinamis, dukungan fisik, atau adaptasi sosial dua arah. [15] Meskipun dapat memperbaiki suasana hati, hubungan parasosial tidak efektif dalam mengurangi perasaan kesepian secara jangka panjang.
Ketergantungan penuh pada PSR justru dapat membawa dampak negatif yang serius. Ketergantungan ini dapat memperburuk masalah kepercayaan interpersonal dan menurunkan kemampuan membangun kepercayaan dengan orang lain di dunia nyata. Hubungan ini dapat menimbulkan ekspektasi tidak realistis tentang hubungan sosial dan mengganggu kemampuan membedakan antara hubungan nyata dan hubungan satu arah.
Dampak psikologis
suntingPositif
suntingPembentukan identitas diri
Konsisten dengan teori kognitif sosial Bandura (1986), banyak bukti menunjukkan bahwa anak-anak kerap membutuhkan figur panutan. Anak-anak belajar banyak dari tokoh-tokoh publik yang mereka lihat di televisi, YouTube, permainan video, dan media sosial lainnya, baik yang positif maupun negatif.
Anak-anak dapat membayangkan tokoh-tokoh favoritnya sesuai dengan keinginan mereka, karena mereka tidak benar-benar mengenal kehidupan nyata tokoh tersebut. Tokoh-tokoh tersebut dapat berfungsi sebagai figur imajiner yang membantu mereka untuk lebih percaya diri. Hal ini mampu membantu anak-anak untuk membentuk identitas karena mereka meniru perilaku, nilai, dan sikap dari tokoh yang mereka kagumi.[16]
Pembelajaran melalui media
Hubungan parasosial dapat terbentuk sejak masa kanak-kanak dengan tokoh kartun atau film yang ditonton. Contohnya adalah karakter Dora the Explorer yang sering mengajak anak-anak untuk berbicara, sehingga anak tersebut merasakan sedang berinteraksi langsung dengan Dora.
Hubungan tersebut mampu membuat anak lebih mudah belajar secara tidak langsung. Apabila tokoh yang mereka sukai menjelaskan [17]sesuatu, mereka akan lebih mudah memahaminya, dan hal ini mempermudah proses pembelajaran anak.
Peningkatan rasa percaya diri
Anak seringkali merasa takut ditolak dan tidak dianggap dalam hubungan dengan orang lain. Namun, dalam hubungan dengan tokoh-tokoh favorit mereka, tidak terdapat kemungkinan penolakan dari tokoh tersebut. Anak dapat bebas membayangkan fantasi yang menyenangkan dengan tokoh favoritnya, dan hal tersebut akan membuat mereka merasa lebih berharga, percaya diri, dan lebih bebas untuk berekspresi.[18]
Dukungan emosional
Dalam psikologi sosial, terdapat teori "kebutuhan untuk diterima" (Need to Belong) yang dikemukakan oleh Baumeister dan Leary (1995). Apabila seseorang mengalami kesepian atau kurangnya dukungan sosial, mereka kerap mengisi kekosongan tersebut melalui hubungan atau interaksi parasosial. Interaksi parasosial memiliki mekanisme psikologis yang terasa nyata, yang berarti meskipun bersifat sepihak, individu dapat memproses interaksi dengan idola atau selebritas seperti hubungan sosial yang nyata.
Individu akan merasakan kehadiran, merasa didengar, dan dipahami oleh tokoh publik favorit ketika mengalami kesepian.[19]
Peningkatan motivasi
Interaksi parasosial dapat meningkatkan motivasi seseorang karena adanya rasa kedekatan yang terbentuk dengan tokoh favorit dan keterikatan secara emosional. Kedekatan tersebut menjadikan seseorang merasa senang, dihargai, dan diperhatikan, sehingga mendorong mereka untuk lebih bersemangat mengikuti apa yang tokoh tersebut sampaikan. Motivasi ini terbentuk bukan karena adanya paksaan, tetapi karena individu tersebut merasa senang, terikat, dan ingin terlibat lebih jauh dengan tokoh tersebut.[20]
Negatif
suntingCitra tubuh
Penelitian lebih lanjut dilakukan untuk melihat hubungan antara citra tubuh dan persepsi diri. Minat terhadap topik ini semakin meningkat karena masalah mengenai citra tubuh semakin sering terjadi di masyarakat saat
Penggunaan filter kecantikan yang semakin marak di media sosial juga berpengaruh besar terhadap citra tubuh pengguna. Di Facebook, dalam satu tahun pertama sejak fitur filter diluncurkan, lebih dari 400.000 kreator membuat dan menggunakan lebih dari 1,2 juta filter. Filter-filter ini ditonton miliaran kali, dengan lebih dari 150 kreator mendapatkan lebih dari 1 miliar tampilan untuk kontennya. Filter-filter ini mengubah penampilan kreator secara visual, yang dapat menciptakan realitas palsu bagi para penontonnya. Hal ini berpotensi membuat penonton membandingkan diri mereka dengan standar kecantikan yang tidak realistis, dan dapat berdampak negatif pada cara mereka memandang tubuh mereka sendiri.[21]
Ekspektasi hidup yang tidak realistis
Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa hubungan parasosial dapat berdampak negatif pada harga diri dan pandangan seseorang terhadap kehidupan pribadinya. Individu sering kali menjalin hubungan parasosial karena merasa terhubung dengan kepribadian selebritas atau karena kehidupan mereka terlihat sangat menarik. Namun, studi menunjukkan bahwa hubungan semacam ini dapat memicu depresi dan penurunan harga diri, karena individu cenderung membandingkan hidup mereka sendiri dengan kehidupan selebritas yang tampak sempurna.[18]
Audiens cenderung mempersepsikan kehidupan selebritas sebagai ideal ketika melihat mereka menggunakan jet pribadi, berlibur mewah, atau tinggal di rumah megah. Namun, banyak dari mereka hanya menunjukkan sisi positif dari hidup mereka, sementara bagian yang sulit atau negatif disembunyikan dari publik. Akibatnya, audiens dapat merasa hidup mereka membosankan, tidak cukup baik, atau kurang berharga apabila dibandingkan dengan gambaran hidup selebritas yang sebenarnya belum tentu sesuai kenyataan. [22]
Agresi
Penelitian lebih lanjut telah meneliti hubungan parasosial dan secara khusus dampak terhadap perilaku kekerasan dan agresif. Sebuah studi yang dilakukan oleh Keren Eyal dan Alan M. Rubin menganalisis karakter televisi yang agresif dan kekerasan, serta dampak negatif potensial yang mungkin mereka timbulkan pada penonton. Studi ini meneliti agresi bawaan pada penonton, identifikasi, dan interaksi parasosial dengan karakter agresif.[23]
Para peneliti mengukur agresi bawaan pada setiap peserta dan membandingkannya dengan tingkat identifikasi dengan karakter agresif. Studi menemukan bahwa penonton yang lebih agresif cenderung lebih mengidentifikasi diri dengan karakter agresif dan mengembangkan hubungan parasosial yang lebih kuat dengan karakter tersebut.[24]
Putusnya hubungan parasosial
Meskipun banyak penelitian berfokus pada pembentukan hubungan parasosial, penelitian lain mulai meneliti apa yang terjadi ketika hubungan parasosial berakhir. Eyal dan Cohen, yang meneliti respons terhadap berakhirnya serial televisi Friends, mendefinisikan putusnya hubungan parasosial sebagai situasi di mana karakter yang telah mengembangkan hubungan parasosial dengan penonton tidak lagi tayang.[25] Kesedihan yang dialami konsumen media setelah perpisahan parasosial cukup mirip dengan yang dialami dalam hubungan sosial. Namun, kesedihan emosional yang dialami setelah perpisahan parasosial lebih lemah dibandingkan dengan hubungan interpersonal nyata.[25]
Gerace meneliti reaksi penggemar terhadap berakhirnya serial televisi Australia yang telah lama tayang, Neighbours.[26] Penggemar melaporkan perasaan kesedihan yang signifikan dan persepsi perpisahan parasosial dengan karakter favorit mereka. Penggemar yang membentuk hubungan parasosial dengan karakter favorit mereka, mengidentifikasi diri mereka sebagai penggemar serial tersebut, dan menonton serial tersebut dengan motif seperti hiburan dan paparan terhadap gaya hidup yang berbeda, melaporkan kesedihan dan penderitaan yang lebih besar pada akhir serial. Dalam studi ini, ikatan parasosial dengan karakter favorit melibatkan empati terhadap pengalaman mereka di layar dan membayangkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan.
Dalam media sosial
suntingInteraksi parasosial merujuk pada hubungan sepihak yang dibentuk individu dengan tokoh media, di mana audiens merasakan rasa kedekatan dan koneksi meskipun tidak ada interaksi timbal balik yang nyata. Berbagai platform media sosial memainkan peran penting dalam memfasilitasi interaksi ini.[27]
TikTok
TikTok telah muncul sebagai salah satu platform media sosial yang paling populer dalam menciptakan interaksi parasosial. Platform ini memengaruhi kesejahteraan pengguna melalui hubungan sosial dan parasosial yang terbentuk antara kreator dan audiens.
Mekanisme di TikTok meliputi algoritma yang sangat personal yang menciptakan konten disesuaikan dengan preferensi individual pengguna, format video pendek yang memungkinkan konsumsi berulang dan mudah diakses, serta fitur komentar dan duet yang menciptakan ilusi interaksi dua arah antara kreator dan pengikut.[28]
Instagram menyediakan berbagai fitur yang memfasilitasi interaksi parasosial yang mendalam antara influencer dan pengikut. Platform ini memungkinkan terciptanya hubungan parasosial yang kuat melalui berbagai mekanisme interaksi.
Mekanisme di Instagram meliputi Stories yang memberikan akses "di balik layar" ke kehidupan pribadi influencer, sesi langsung (live sessions) dengan interaksi real-time yang menciptakan rasa kedekatan, keterlibatan melalui likes dan komentar yang memungkinkan umpan balik langsung, dan pesan langsung (direct messaging) yang menciptakan persepsi akses personal dan eksklusif.[29]
Platform siaran langsung
Platform siaran langsung telah berkembang menjadi industri besar yang menciptakan interaksi parasosial yang sangat kuat. Industri live streaming commerce menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, terutama di kawasan Asia.
Mekanisme siaran langsung meliputi interaksi waktu nyata dengan audiens melalui obrolan dan komentar langsung, respons langsung terhadap komentar yang menciptakan rasa diperhatikan, dan pembelian impulsif yang dipicu oleh hubungan parasosial dan kepercayaan terhadap penyiar.[30]
YouTube
YouTube sebagai platform video terlama tetap menjadi tempat penting untuk pembentukan interaksi parasosial jangka panjang. Platform ini memungkinkan kreator membangun hubungan yang mendalam dengan pelanggan.[31]
Mekanisme di YouTube meliputi konten vlog personal yang konsisten membangun familiaritas, postingan komunitas dan interaksi komentar yang memfasilitasi komunikasi, serta siaran langsung dan premiere yang menciptakan momen berbagi bersama.
Implikasi psikologis Selama Masa Kanak-Kanak
suntingPembentukan hubungan parasosial sering terjadi di kalangan remaja, yang seringkali menciptakan ikatan sepihak dan tidak berbalas dengan tokoh-tokoh media yang mereka kenal melalui televisi atau platform media sosial. Penelitian menunjukkan adanya perbedaan gender dalam pola interaksi parasosial. Peran gender juga memengaruhi kecenderungan, dengan pola yang lebih umum terjadi pada anak usia 5-6 tahun dan mulai menurun pada usia 10-11 tahun. Selain itu, keterikatan baik parasosial maupun sosial nyata yang terbentuk sejak masa kanak-kanak diyakini memiliki dampak jangka panjang terhadap pola interpersonal di masa dewasa.[32]
Strategi pengelolaan
suntingUntuk menjaga keseimbangan, penting untuk menyadari bahwa hubungan ini tidak nyata dan hanya berfungsi sebagai pelengkap, bukan pengganti relasi di dunia nyata. Pemilihan konten yang terstruktur dan positif dapat memberikan rasa nyaman tanpa memicu kecemasan. Strategi lain yang dapat dilakukan antara lain berpikir positif, berbagi cerita dengan teman, atau melakukan kegiatan nyata yang terinspirasi dari konten yang ditonton.
Pembatasan waktu penggunaan media juga diperlukan agar tidak berlebihan. Interaksi parasosial dapat dimanfaatkan sebagai jembatan untuk memperluas hubungan sosial, misalnya melalui diskusi atau keterlibatan dalam komunitas. Apabila dampaknya mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, disarankan untuk mencari bantuan profesional. Dengan cara ini, manfaat hubungan parasosial tetap dapat dirasakan tanpa terjebak pada dampak negatifnya.[33]
Contoh kasus
suntingNCT dan NCTzen
suntingHubungan parasosial dapat diamati dalam interaksi antara boyband Korea Selatan NCT dan penggemarnya, NCTzen. Melalui platform seperti YouTube, NCT secara konsisten mengunggah konten yang menampilkan aktivitas sehari-hari, preferensi pribadi, dan interaksi ringan antar anggota. Konten semacam ini menciptakan perasaan kedekatan dan keterikatan emosional di kalangan penggemar, yang merasa lebih "dekat" dengan idolanya meskipun tidak ada interaksi langsung. Hal ini menunjukkan bagaimana hubungan parasosial terbentuk dan dipelihara melalui media digital.[34]
Referensi
sunting- ^ Horton, D.; Wohl, R. (1956). "Mass communication and para-social interaction: Observation on intimacy at a distance". Psychiatry. 19 (3): 215โ229. doi:10.1080/00332747.1956.11023049. PMIDย 13359569.
- ^ Liebers, N.; Schramm, H. (2019). "Parasocial Interactions and Relationships with Media Characters-An Inventory of 60 Years of Research". Communication Research Trends. 38 (2): 4โ31.
- ^ Thorson, Kjerstin S.; Rodgers, Shelly (March 2006). "Relationships Between Blogs as EWOM and Interactivity, Perceived Interactivity, and Parasocial Interaction". Journal of Interactive Advertising. 6 (2): 5โ44. doi:10.1080/15252019.2006.10722117. S2CIDย 144152830.
- ^ "Twitch: what is the platform that livestreamed the Florida shooting?". The Guardian. August 29, 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 29, 2018. Diakses tanggal October 6, 2021.
What makes Twitch different from traditional broadcasting is that it's interactive. When watching a streamer, viewers can type into a chat window to communicate with each other and the streamer themselves, asking questions, making jokes or offering advice about the game. Successful streamers make their viewers feel like they're in the living room with them, a parasocial relationship that nonetheless creates a feeling of belonging and togetherness for their audiences. Twitch's format is extremely good at cultivating community, a virtual hangout spot for its millions of teenage and college-age users.
- ^ Rubin, Rebecca B.; McHugh, Michael P. (1987-06). "Development of parasocial interaction relationships". Journal of Broadcasting & Electronic Media (dalam bahasa Inggris). 31 (3): 279โ292. doi:10.1080/08838158709386664. ISSNย 0883-8151.
- ^ Chung, Siyoung; Cho, Hichang (2017-04). "Fostering Parasocial Relationships with Celebrities on Social Media: Implications for Celebrity Endorsement". Psychology & Marketing (dalam bahasa Inggris). 34 (4): 481โ495. doi:10.1002/mar.21001. ISSNย 0742-6046.
- ^ Chung, S.; Cho, H. (2017). "Fostering Parasocial Relationships with Celebrities on Social Media: Implications for Celebrity Endorsement". Psychology & Marketing. 34 (4): 481โ495. doi:10.1002/mar.21001. S2CIDย 151937167. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 3, 2022. Diakses tanggal November 23, 2020.
- ^ a b Jarzyna, Carol Laurent (2021-09). "Parasocial Interaction, the COVID-19 Quarantine, and Digital Age Media". Human Arenas (dalam bahasa Inggris). 4 (3): 413โ429. doi:10.1007/s42087-020-00156-0. ISSNย 2522-5790. PMCย 7647887.
- ^ "The Dynamics of Parasocial Relationships in the Age of Social Media: A Systematic Review and Future Research Agenda". Journal of Business and Behavioural Entrepreneurship (JOBBE): 1โ21.
- ^ Wiweka, Charisma Septian; Syavitri, Risya Meidhina; Samodra, Wisnu (2024-10-11). "Gambaran Hubungan Parasosial Pembaca Dewasa Awal dengan Karakter Fiksi dalam Webtoon". Flourishing Journal. 4 (9): 386โ411. doi:10.17977/um070v4i92024p386-411. ISSNย 2797-9865.
- ^ a b Stein, Jan-Philipp; Liebers, Nicole; Faiss, Maria (2024-05-03). "Feeling Better...But Also Less Lonely? An Experimental Comparison of How Parasocial and Social Relationships Affect People's Well-Being". Mass Communication and Society (dalam bahasa Inggris). 27 (3): 576โ598. doi:10.1080/15205436.2022.2127369. ISSNย 1520-5436.
- ^ Karhulahti, Veli-Matti; Vรคlisalo, Tanja (2021-01-12). "Fictosexuality, Fictoromance, and Fictophilia: A Qualitative Study of Love and Desire for Fictional Characters". Frontiers in Psychology (dalam bahasa English). 11. doi:10.3389/fpsyg.2020.575427. ISSNย 1664-1078. PMCย 7835123. PMIDย 33510665. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- ^ "Parasocial Interactions, Intolerance to Uncertainty and Mental Health Rehabilitation During Pandemics". Journal of Psychosocial Rehabilitation and Mental Health: 1โ4. doi:10.1007/s40737-021-00213-z.
- ^ Bond, Bradley J.; Dill-Shackleford, Karen E.; Dibble, Jayson L.; Gleason, Tracy R.; Jennings, Nancy; Rosaen, Sarah; Forster, Rebecca Tukachinsky (2025). Christakis, Dimitri A.; Hale, Lauren (ed.). Parasocial Relationships in Children and Teens (dalam bahasa Inggris). Cham: Springer Nature Switzerland. hlm.ย 239โ244. doi:10.1007/978-3-031-69362-5_33. ISBNย 978-3-031-69362-5.
- ^ Hoffner, Cynthia A.; Bond, Bradley J. (2022-06-01). "Parasocial relationships, social media, & well-being". Current Opinion in Psychology. 45: 101306. doi:10.1016/j.copsyc.2022.101306. ISSNย 2352-250X.
- ^ Aubrey, Jennifer Stevens; Behm-Morawitz, Elizabeth; Kim, Kyungbo (2014-10-03). "Understanding the Effects of MTV's 16 and Pregnant on Adolescent Girls' Beliefs, Attitudes, and Behavioral Intentions Toward Teen Pregnancy". Journal of Health Communication (dalam bahasa Inggris). 19 (10): 1145โ1160. doi:10.1080/10810730.2013.872721. ISSNย 1081-0730.
- ^ Brunick, Kaitlin L.; Putnam, Marisa M.; McGarry, Lauren E.; Richards, Melissa N.; Calvert, Sandra L. (2016-04-02). "Children's future parasocial relationships with media characters: the age of intelligent characters". Journal of Children and Media (dalam bahasa Inggris). 10 (2): 181โ190. doi:10.1080/17482798.2015.1127839. ISSNย 1748-2798.
- ^ a b Hoffner, Cynthia A.; Bond, Bradley J. (2022-06). "Parasocial relationships, social media, & well-being". Current Opinion in Psychology (dalam bahasa Inggris). 45: 101306. doi:10.1016/j.copsyc.2022.101306.
- ^ Brunick, Kaitlin L.; Putnam, Marisa M.; McGarry, Lauren E.; Richards, Melissa N.; Calvert, Sandra L. (2016-04-02). "Children's future parasocial relationships with media characters: the age of intelligent characters". Journal of Children and Media (dalam bahasa Inggris). 10 (2): 181โ190. doi:10.1080/17482798.2015.1127839. ISSNย 1748-2798.
- ^ Rosaen, Sarah F.; Dibble, Jayson L. (2008-05-05). "Investigating the Relationships Among Child's Age, Parasocial Interactions, and the Social Realism of Favorite Television Characters". Communication Research Reports (dalam bahasa Inggris). 25 (2): 145โ154. doi:10.1080/08824090802021806. ISSNย 0882-4096.
- ^ "How beauty filters took over social media".
- ^ Hoffner, Cynthia A.; Bond, Bradley J. (2022-06). "Parasocial relationships, social media, & well-being". Current Opinion in Psychology (dalam bahasa Inggris). 45: 101306. doi:10.1016/j.copsyc.2022.101306.
- ^ Eyal, Keren; Rubin, Alan M. (2003-01). "Viewer Aggression and Homophily, Identification, and Parasocial Relationships With Television Characters". Journal of Broadcasting & Electronic Media (dalam bahasa Inggris). 47 (1): 77โ98. doi:10.1207/s15506878jobem4701_5. ISSNย 0883-8151.
- ^ Eyal, Keren; Rubin, Alan M. (2003-01). "Viewer Aggression and Homophily, Identification, and Parasocial Relationships With Television Characters". Journal of Broadcasting & Electronic Media (dalam bahasa Inggris). 47 (1): 77โ98. doi:10.1207/s15506878jobem4701_5. ISSNย 0883-8151.
- ^ a b Eyal, Keren; Cohen, Jonathan (2006-09). "When Good Friends Say Goodbye: A Parasocial Breakup Study". Journal of Broadcasting & Electronic Media (dalam bahasa Inggris). 50 (3): 502โ523. doi:10.1207/s15506878jobem5003_9. ISSNย 0883-8151.
- ^ Gerace, Adam (2024-06-12). Yu, Zhiyuan (ed.). "When TV neighbours become good friends: Understanding Neighbours fans' feelings of grief and loss at the end of the series". PLOS ONE (dalam bahasa Inggris). 19 (6): e0302160. doi:10.1371/journal.pone.0302160. ISSNย 1932-6203. PMCย 11168657. PMIDย 38865303. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- ^ Eighmey, John; McCord, Lola (1998-03). "Adding Value in the Information Age: Uses and Gratifications of Sites on the World Wide Web". Journal of Business Research (dalam bahasa Inggris). 41 (3): 187โ194. doi:10.1016/S0148-2963(97)00061-1.
- ^ Conte, Giulia; Iorio, Giorgia Di; Esposito, Dario; Romano, Sara; Panvino, Fabiola; Maggi, Susanna; Altomonte, Benedetta; Casini, Maria Pia; Ferrara, Mauro (2025-05-01). "Scrolling through adolescence: a systematic review of the impact of TikTok on adolescent mental health". European Child & Adolescent Psychiatry (dalam bahasa Inggris). 34 (5): 1511โ1527. doi:10.1007/s00787-024-02581-w. ISSNย 1435-165X. PMCย 12122552. PMIDย 39412670.
- ^ Balaban, Delia Cristina; Szambolics, Julia; Chiricฤ, Mihai (2022-10-01). "Parasocial relations and social media influencers' persuasive power. Exploring the moderating role of product involvement". Acta Psychologica. 230: 103731. doi:10.1016/j.actpsy.2022.103731. ISSNย 0001-6918.
- ^ Soukup, Charles (2006-06). "Computer-mediated communication as a virtual third place: building Oldenburg's great good places on the world wide web". New Media & Society (dalam bahasa Inggris). 8 (3): 421โ440. doi:10.1177/1461444806061953. ISSNย 1461-4448.
- ^ "The Development of Parasocial Interaction Relationships on YouTube". The Journal of Social Media in Society, Sam Houston State University.
- ^ Aubrey, Jennifer Stevens; Behm-Morawitz, Elizabeth; Kim, Kyungbo (2014-10-03). "Understanding the Effects of MTV's 16 and Pregnant on Adolescent Girls' Beliefs, Attitudes, and Behavioral Intentions Toward Teen Pregnancy". Journal of Health Communication. 19 (10): 1145โ1160. doi:10.1080/10810730.2013.872721. ISSNย 1081-0730. PMIDย 24628488.
- ^ "Parasocial interactions, intolerance to uncertainty, and mental health rehabilitation during pandemics". Indian Journal of Psychological Medicine. doi:https://doi.org/10.1177/0253717620985876. ;
- ^ "The Romance Between NCTZen and NCT: Commodifying Fan Relationships on the Bubble App". COMMENTATEย : Journal of Communication Management: 36โ47.