| Biografi | |
|---|---|
| Kelahiran | 3 Desember 1787 Valburg (en) |
| Kematian | 1r Mei 1876 Rijswijk |
| Kegiatan | |
| Pekerjaan | perwira militerย (1814โ1848), perwira militerย (1810โ1814) |
| Cabang militer | Koninklijk Nederlands-Indische Leger |
| Pangkat militer | jenderal |
| Keluarga | |
| Anak | Q136688650 |
Penghargaan
| |

Frans David Cochius (Valburg, Overbetuwe, 1787 โ Rijswijk, 1876) ialah seorang perwira zeni Belanda dan penerima Militaire Willems-Orde Ksatria Kelas III (sejak tanggal 7 Mei 1822).
Cochius bertugas sebagai kapten di Militer Prancis antara tahun 1811-1814 dan pada tahun 1843 ditugaskan di Timur Jauh, pada tahun 1830 ia menjadi komandan korps pengamat di Salatiga yang ada di antara serdadu, marinir, dan marechausรฉe dan pada tahun 1837 menaklukkan Bonjol, sebagai purnawirawan letnan jenderal.
Sebagai mayor jenderal, pada tanggal 16 Agustus 1837, Cochius menaklukkan kubu Sumatra yang kuat di Bonjol. Dengan penaklukan tersebut, perlawanan kaum Adat-Padri berakhir, yang sejak tahun 1831 berlangsung di daerah pegunungan Sumatera Barat tersebut. Kaum Paderi membentuk gerakan perlawanan, yang hampir tak dapat dipercaya, dengan cara itu sebagian besar orang Belanda Kristen berhati-hati, karena musuh telah bertekad akan menghalau mereka dari Sumatra dan di pulau tersebut akan dibentuk pemerintahan berdasar Islam. Mereka memanfaatkan taktik gerilya yang membuat gusar pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Di daerah bergunung tersebut pasukan kolonial selalu kalah antara tahun 1831-1837 meskipun kaum Paderi kadang-kadang kalah sepanjang jalannya tahun di sejumlah tempat. Pada tahun 1836, mereka berkubu di benteng pegunungan yang besar bernama Bonjol, yang selama setahun dikepung oleh Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger tanpa hasil. Ketika lainnya kalah, Mayjen Cochius bertempur dengan kekuatan artileri besar dan sejumlah pasukan brilian yang menghancurkan pinggiran kubu tersebut. Perlawanan di Sumatera Barat dilaporkan dengan pasti saat itu. Aceh di utara pulau, baru bisa diduduki pada awal abad ke-20.
Atas kemenangan di Bonjol, pada tanggal 8 Mei 1838, Raja Willem I membuat sebuah penghargaan, Ruit van Bonjol, yang hanya untuk 23 orang militer pribumi yang "berani dan ulung" dan tak ditujukan untuk Cochius. Sebuah ornamen seragam perwira dinamai menurut Jenderal Cochius. Ornamen tersebut berbentuk bulu dari ayam hitam. Selain itu, sebuah benteng di Gombong dinamai menurut namanya, dan sekarang benteng itu berubah nama menjadi Benteng Van der Wijck.
Frans David bukanlah satu-satunya anggota keluarga Cochius yang dianugerahi Militaire Willems-Orde. Selain dia ada pula A. Cochius, Letnan Satu dan Perwira Medis yang dianugerahi Kelas I dan juga J.C.A. Cochius, LetTu yang dianugerahi gelar Ksatria.
Bibliografi
sunting- A.J.A. Quintus Bosz. "De geschiedenis van de Pupillenschool op het fort Generaal Cochius te Gombang (Midden-Java)".In: Mars et Historia 23 April 1904
- Sturler, W. L. de. (1876). Militaire loopbaan van den Luitenant-Generaal Frans David Cochius, Kommandeur van de militaire Willemsorde, Grootkruis van de Eikenkroon van Luxemburg, Ridder der orde van den Nederlandsche Leeuw, versierd met de medaille voor den oorlog op Java van 1825/30, adjudant in buitengewone dienst van Z.M. den Koning en oud-kommandant van het leger in Oost-Indie. Thieme.
Pranala luar
sunting- Biografi dari DBNL Diarsipkan 2009-09-29 di Wayback Machine.
- Biografi dari Situs AD Belanda Diarsipkan 2008-02-26 di Wayback Machine.
| Jabatan militer | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers |
Komandan KNIL 1835-1847 |
Diteruskanย oleh: Carel van der Wijck |