Tarian Garba di Kuil Ambaji

Tarian Garba adalah tarian khas masyarakat Gujarat, India, yang berasal muasal dari tradisi Hindu. Nama โ€œGarbaโ€ berasal dari kata dalam bahasa Sanskerta, yaitu garbha, yang bermakna โ€œrahimโ€ atau โ€œkehidupan.โ€ Tarian biasanya dilakukan membentuk bidang datar lingkaran, mengelilingi sebuah lentera bernama Garba Deep, atau di sekitar gambar Dewi Durga.[1] Lentera ini mempunyai makna dan menggambarkan arti dari kehidupan dan kehadiran unsur ilahi dalam diri manusia.

Pada festival Navratri, yang dirayakan selama sembilan malam, Garba menjadi simbol spiritual penting. Dalam pandangan Hindu, siklus hidup diwakili melalui gerakan para penari yang berputar dalam lingkaran, merepresentasikan kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali.[2] Sementara para penari terus menerus bergerak, Dewi Durga yang menjadi pusat tarian tetap berada di tempatnya, menggambarkan keteguhan Tuhan di tengah perubahan yang tak henti.

Makna lain yang melekat pada lentera Garba Deep adalah simbol tubuh manusia yang di dalamnya bersemayam energi ilahi. Tarian ini pun dihormati sebagai bentuk penghargaan terhadap keyakinan bahwa setiap manusia memiliki percikan energi Dewi dalam dirinya.[3]

Musik dan busana

sunting
Busana tarian Garba

Musik untuk Garba biasanya melibatkan alat musik tradisional seperti dhol, tabla, dan harmonium. Lagu yang diiringi berupa bentuk pujian untuk Dewi Durga, sering dinyanyikan untuk memberi energi dan semangat kepada para penari. Penari Garba mengenakan pakaian tradisional yang berwarna cerah. Perempuan biasanya mengenakan โ€œchaniya choliโ€ yang dihiasi cermin dan bordiran, sementara pria mengenakan โ€œkediyuโ€ atau baju khas yang serasi. [4]

Garba dan Dandiya

sunting
Pertunjukan Dandiya Raas oleh para penari si Ithaca, New York, pada tahun 2004.

Selain tarian Garba, tarian lain yang sering dilakukan selama perayaan Navratri adalah Dandiya Raas. Meskipun terlihat mirip, Dandiya melibatkan penggunaan tongkat kecil yang disebut dandiya, yang dipukulkan secara berirama selama tarian berlangsung. Kedua tarian ini sering dilakukan secara bergantian selama festival, dan keduanya menjadi sebuah ikon dari perayaan Navratri, khususnya di Gujarat dan Maharashtra. Garba dan Dandiya telah menjadi bagian dari warisan budaya India dan kini bahkan dilakukan dalam komunitas India di seluruh dunia. [5]Termasuk tarian ini telah dipertunjukkan di acara Car Free Day (CFD) di Bundaran HI, Jakarta, pada September 2024.[6]

Referensi

sunting
  1. ^ "Durga Puja | Festival, Mythology, Traditions, & Facts | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). 2024-10-21. Diakses tanggal 2024-11-12.
  2. ^ McDermott, Rachel Fell. โ€œDurga Puja in Calcutta: Hindu Ritual as Process.โ€ The Journal of Ritual Studies, vol. 9, no. 2, 1995, pp. 89-106.
  3. ^ Saha, Sukanya (2022). "Garba: Traditional Significance and Modern Adaptations". Studies in Cultural Diversity and Innovation. No 2. ARF Journals.
  4. ^ "Garba: Where Culture Meets the Dance Floor". SARI. Australian National University. Diakses tanggal 2024-11-12.
  5. ^ "UNESCO declares Gujarat's Garba as intangible cultural heritage". The Times of India. 2024-11-10. Diakses tanggal 2024-11-12.
  6. ^ "Warga India Menari Garba di CFD Jakpus Disambut Antusias Pengunjung". Detik News. 15 September 2024. Diakses tanggal 13 November 2024.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Dandiya Raas

& Garba in Navratri โ€“ Ganesha". GaneshaSpeaks (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2024-11-13. "Garba: Where Culture Meets the Dance Floor"

Anupamaa

Vanraj dan Paritosh. Kemudian kedua keluarga berkumpul untuk merayakan acara Garba. Sementara Paritosh menjadi psikopat untuk Kinjal dan Aarya, dan memutuskan