Gegedem adalah alat musik tradisional yang berasal dari dataran tinggi Gayo Kabupaten Aceh Tengah. Sepintas gegedam berbentuk seperti rebana. Alat musik berjenis membranofon ini dimainkan dengan cara dipukul. Gegedem dimainkan bersama dengan alat musik tradisional seperti canang, memong dan gong yang ditampilkan saat upacara adat seperti pernikahan, penyambutan tamu serta pesta rakyat.[1] Beberapa pertunjukan tari yang menggunakan gegedem sebagai pengiring antara lain Tari Guel[2] dan juga Tari Sining.[3]
Gegedem telah menjadi masuk ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO sejak tahun 2023 pada domain Seni Pertunjukan. Saat ini Gegedem sudah terancam punah.[4] Semakin jarangnya penggunaan gegedem karena peran alat musik ini kerap digantikan oleh rapai. Selain itu, jumlah pembuat gegedem juga semakin berkurang serta semakin maraknya penggunaan alat musik modern.[5] Upaya pelestarian gegedem salah satunya dilakukan oleh Sanggar Radang, baik melalui upaya pendidikan maupun dengan memproduksi gegedem.[6]
Sejarah
suntingGegedem diperkirakan telah digunakan sejak masa kerajaan Lingga XIV yang dipimpin oleh Raja Senggeda pada abad ke-16. Selain berfungsi sebagai alat musik, gegedem di masa itu digunakan sebagai tanda genderang perang.[4]
Bahan Pembuatan
suntingGegedem dibuat dari kulit hewan seperti kulit kambing jantan atau kulit kerbau. Kulit yang digunakan diolah terlebih dahulu melalui proses perendaman pada air yang dicampur kapur. Penggunaan air kapur ini untuk memudahkan proses penghilangan bulu pada kulit. Selain untuk mengurangi bau pada kulit. Selain itu juga kulit diolah melalui proses penjemuran dan penghilangan bulu.[5] ย
Untuk struktur utama alat musik menggunakan kayu grupel yang juga merupakan tanaman khas dataran tinggi Gayo. Semakin sulitnya menemukan kayu grupel sehingga beberapa gegedam menggunakan kayu dari tanaman nangka atau batang kayu alpukat. [5]
Bahan lain yang digunakan yaitu rotan untuk menyatukan struktur dan kulit binatang yang membentuk gegedem. Jenis rotan yang digunakan ialah rotan lilin. Bahan ini dianggap cocok karena memiliki sifat yang kuat dan tidak mudah putus. Rotan besar (radang) juga digunakan sebagai penyangga antara kayu dan kulit binatang. Rotan yang dipilin juga memiliki fungsi untuk mempercantik gegedem. [5]
Referensi
sunting- ^ [email protected] (2024-05-16). "SAH, Alat Musik Tradisional Gegedem Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Tahun 2024 Oleh Kemendikbud RI". Prokopim Aceh Tengah. Diakses tanggal 2025-11-01.
- ^ traveladmin (2018-09-26). "Tari Guel". Travelink Magazine. Diakses tanggal 2025-11-01.
- ^ Hasana, Irma (5 September 2022). "Mengenal Sining, Tarian Tradisional Gayo Tempo Dulu (1)". Didikbud Aceh Tengah. Diakses tanggal 1 November 2025.
- ^ a b Aceh, Budaya. "Cagar Budaya Aceh". Budaya Aceh. Diakses tanggal 2025-11-01.
- ^ a b c d Hulwan, Hulwan; Ismawan, Ismawan; Ramdiana, Ramdiana (November 2016). "Proses Pembuatan Alat Musik Tradisional Gegedem di Desa Paya Jeget Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah". Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari dan Musik Unsyiah. 1 (4): 252. doi:10.24815.
- ^ lintasgayo.co (2024-08-21). "Sanggar Radang Seminarkan WBTbI Gegedem Gayo". LINTAS GAYO. Diakses tanggal 2025-11-01.