Kepulauan guano Chincha di Peru, 21 Februari 1863.
Sarang burung booby peru yang terbuat dari guano

Guano atau tinja manuk (dari Runa Simi 'wanu' melalui bahasa Spanyol) merujuk pada tinja burung laut atau tinja kelelawar. Bangsa Inka mengumpulkan guano dari pesisir Peru untuk penyubur tanah. Mereka memberikan penghargaan tinggi pada guano, membatasi akses atasnya dan menjatuhkan hukuman pada pihak yang mengganggu produsennya hingga mati.

Pupuk guano merupakan bahan yang efektif untuk penyubur tanah maupun mesiu karena kandungan fosfor dan nitrogennya tinggi. Superfosfat yang terbuat dari guano digunakan untuk topdressing. Tanah yang kekurangan zat organik dapat dibuat lebih produktif dengan tambahan pupuk ini. Guano mengandung amonia, asam urat, asam fosfat, asam oksalat, dan asam karbonat, serta garam tanah. Tingginya kandungan nitrat juga menjadikan guano komoditas strategis; Perang di Pasifik antara aliansi Peru-Bolivia dan Chili utamanya berdasarkan pada percobaan Bolivia memungut pajak kepada pengusaha guano dari Chili.

Tambang guano

Jenis guano yang ideal ditemukan di daerah yang iklimnya kering, karena hujan akan membilas kandungan nitrogennya. Guano dipanen di sejumlah pulau yang ada di Samudera Pasifik (misalnya Kepulauan Chincha dan Nauru) dan samudra lainnya (misalnya Pulau Juan de Nova). Pulau-pulau tersebut merupakan tempat tinggal bagi koloni burung laut massal selama berabad-abad, dan guano dikumpulkan hingga kedalaman beberapa meter. Pada abad ke-19, Peru terkenal akan pasokan guanonya. Salah seorang penemu utama dalam pertanian guano adalah Benjamin Drake Van Wissen.

Sementara itu di Samudera Hindia tambang guano ditemukan di Pulau Natal. Tambang ini pada awalnya dikelola oleh Inggris dengan mendatangkan pekerja tambang dari Malaysia dan Singapura.

Dari akhir abad ke-19, kepentingan guano menurun dengan bertambahnya pupuk buatan, meskipun guano masih dimanfaatkan oleh tukang kebun dan petani organik.

Di sepanjang pesisir Peru, guano terus dipanen selama berabad-abad, dikumpulkan ke pengusaha swasta dan pemerintah.

Di Indonesia sendiri Guano banyak dipanen di daerah Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Papua, Sebagian Sumatra, Madura, dan Nusa Tenggara, dengan Sentra Pengolahan lebih banyak di daerah Jawa Timur.

Lihat pula

sunting

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Guano, Ekuador

Guano adalah sebuah kota di Provinsi Chimborazo, Ekuador. Kota ini adalah tempat kedudukan Kanton Guano. Kota ini terkenal karena produk kulit dan hiasan

Fosfat

aluminium hidros). Sumber lain dalam jumlah sedikit berasal dari jenis slag, guano, crandallite [CaAl3(PO4)2(OH)5.H2O], dan millisite (Na,K).CaAl6(PO4)4(OH)9

Kelelawar

dengan risiko beberapa kerugian. Kotoran kelelawar telah ditambang sebagai guano dari gua-gua dan digunakan sebagai pupuk. Kelelawar memangsa hama serangga

Peru

jaguar dan beruang berkacamata. Burung Peru menghasilkan sejumlah besar guano, ekspor yang penting secara ekonomi. Pasifik menyimpan sejumlah besar sea

Pulau Navassa

seorang kapten laut Amerika, di bawah Undang-Undang Kepulauan Guano tahun 1856, untuk deposit guano yang kaya yang ditemukan di pulau itu, dan karena tidak

Batu Caves

(sebuah suku Orang Asli). Pada awal 1860, pemukim Tiongkok mulai menggali guano untuk pupuk sayuran mereka. Namun, mereka menjadi terkenal hanya setelah

Burung

pengicau, bayan, dan spesies lainnya populer sebagai hewan peliharaan. Guano (kotoran burung) dipanen untuk digunakan sebagai pupuk. Burung memegang

Nauru

power was exercised by Australia alone. Pada tahun 1948, pekerja tambang guano Cina melakukan pemogokan karena gaji dan kondisi. Pemerintah Australia memberlakukan