Hadits lemah atau Hadits Dha'if (bahasa Arab: ุญุฏูŠุซ ุถุนูŠู) adalah hadits yang tidak memenuhi persyaratan hadits shahih dan hasan. Hadits dhaif tidak sama dengan hadits maudhuโ€™, atau palsu. Hadits dhaif memang dinisbahkan kepada Muhammad, tetapi perawi haditsnya tidak kuat hafalan ataupun kredibilitasnya, atau ada silsilah sanad yang terputus. Sementara hadits maudhuโ€™ ialah informasi yang mengatasnamakan Muhammad, tetapi sebenarnya bukan perkataan Muhammad.

Muhadditsin membagi hadits ke dalam tiga kategori: shahih, hasan, dan dhaif. Kategori ini dibagi berdasarkan kualitas hadits dengan ukuran kualitas perawi dan ketersambungan sanadnya. Kualitas hadits yang paling tinggi adalah shahih, kemudian hasan, dan terakhir dhaif.

Ulama sepakat bahwa mengamalkan hadits dhaif dibolehkan, selama tidak berkaitan dengan hukum halal dan haram, akidah, dan hanya sebatas fadhaโ€™il amal. Dengan demikian, menyampaikan hadits dhaif, seperti mengutip hadits dhaif dalam buku atau menyampaikannya dalam pengajian dan majelis taklim dibolehkan. Hasan Muhammad Al-Masyath dalam Al-Taqriratus Saniyyah fi Syarahil Mandzumah Al-Bayquniyyah menjelaskan:

ู‚ุฏ ุฃุฌุงุฒ ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุฑูˆุงูŠุฉ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ุถุนูŠู ู…ู† ุบูŠุฑ ุจูŠุงู† ุถุนูู‡ ุจุดุฑูˆุท: ุฃูˆู„ุง ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ุญุฏูŠุซ ููŠ ุงู„ู‚ุตุต ุฃูˆ ุงู„ู…ูˆุงุนุธ ุฃูˆ ูุถุงุฆู„ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุฃูˆ ู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ ู…ู…ุง ู„ุง ูŠุชุนู„ู‚ ุจุตูุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ุนู‚ุงุฆุฏ ูˆุงู„ุง ุจุงู„ุญู„ุงู„ ูˆุงู„ุญุฑุงู… ูˆุณุงุฆุฑ ุงู„ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ูˆุฃู† ู„ุง ูŠูƒูˆู† ุงู„ุญุฏูŠุซ ู…ูˆุถูˆุนุง ุฃูˆ ุถุนูŠู ุดุฏูŠุฏ ุงู„ุถุนู

Artinya, โ€œSebagian ulama membolehkan periwayatan hadits dhaif tanpa menjelaskan kedhaifannya dengan beberapa syarat: hadits tersebut berisi kisah, nashat-nasihat, atau keutamaan amalan, dan tidak berkaitan dengan sifat Allah, akidah, halal-haram, hukum syariat, bukan hadits maudhuโ€™, dan tidak terlalu dhaif.โ€

Jumhur ulama ahlil hadist mengecam sebagian kalangan yang menyamakan hadits dhaif dengan hadits palsu. Keduanya mempunyai perbedaan yang sangat jauh. Menyamakan keduanya termasuk suatu kesalahan fatal dalam beragama.

ุฅู† ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ุถุนูŠู ู‡ูˆ ููŠ ุงู„ุฃุตู„ ู…ู†ุณูˆุจ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุงู„ู…ุตุทูู‰ ุงู„ูƒุฑูŠู… ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุจุฎู„ุงู ุงู„ู…ูˆุถูˆุนุŒ ูู‡ูˆ ู…ูƒุฐูˆุจ ู…ุฎุชู„ู‚ ู…ุตู†ูˆุน.

Artinya, โ€œHadits dhaif pada dasarnya tetap dinisbatkan kepada Muhammad, berbeda dengan hadits maudhu yang merupakan kebohongan yang diada-adakan (atas nama Muhammad). Selain itu, penyebab dhaifnya sebuah hadits adalah keterputusan sanadnya, atau kelemahan-kelemahan yang bersifat manusiawi dari para perawinya seperti lemahnya daya ingat, sering ragu ataupun tersalah dalam menyampaikan sesuatu. Sedangkan hadits maudhu adalah hadits yang tidak bersumber sama sekali dari Muhammad. Kemudian hadits dhaif boleh diriwayatkan secara ijmak, sedangkan hadits maudhu tidak boleh diriwayatkan sama sekali kecuali dengan menjelaskan kepalsuannya. Selanjutnya, hadits dhaif tetap diamalkan berdasarkan ijmak ulama dalam hal-hal yang berkaitan dengan keutamaan (fadhail), anjuran kebaikan, dan larangan keburukan. Sedangkan hadits maudhu haram diamalkan. Serta hadits dhaif akan naik derajatnya menjadi hasan li ghairihi ketika ada sanad lain yang memperkuat kebenarannya. Sedangkan hadits palsu tidak akan mengalami kenaikan status sekalipun mempunyai puluhan ataupun bahkan ratusan hadits pendukung dari jalur yang berbeda-beda.

Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Ad-Durrul Mandhud sebagaimana yang dikutip juga oleh Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki dalam karyanya Ma Dza fi Syaโ€™ban menyebutkan sebagai berikut.

ูˆู‚ุฏ ุงุชูู‚ ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ู…ู† ุงู„ู…ุญุฏุซูŠู† ูˆุงู„ูู‚ู‡ุงุก ูˆุบูŠุฑู‡ู… ูƒู…ุง ุฐูƒุฑู‡ ุงู„ู†ูˆูˆูŠ ูˆุบูŠุฑู‡ ุนู„ู‰ ุฌูˆุงุฒ ุงู„ุนู…ู„ ุจุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ุถุนูŠู ููŠ ุงู„ูุถุงุฆู„ ูˆุงู„ุชุฑุบูŠุจ ูˆุงู„ุชุฑู‡ูŠุจุŒ ู„ุง ููŠ ุงู„ุฃุญูƒุงู… ูˆู†ุญูˆู‡ุง ู…ุง ู„ู… ูŠูƒู† ุดุฏูŠุฏ ุงู„ุถุนู.

Artinya, โ€œPara imam dari kalangan ahli hadits dan ahli fikih telah sepakat, sebagaimana yang disebutkan juga oleh Imam An-Nawawi dan lainnya, tentang kebolehan beramal dengan hadits dhaif dalam hal fadhail (keutamaan-keutamaan), anjuran kebaikan dan ancaman keburukan. Tidak dalam perkara yang berkaitan dengan hukum halal dan haram, selama tingkat kedhaifannya tidak terlalu parah.โ€ Melihat sejumlah perbedaan itu, maka sangat naif kalau ada seseorang yang begitu entengnya membuang hadits dhaif seolah-olah itu bukan (tidak tergolong) sebagai perkataan Nabi sama sekali. Sementara itu di sisi lain, tidak terhitung banyaknya ulama yang mengamalkan hadits-hadits dhaif selama kedhaifannya tidak terlalu parah dan tidak mempunyai hadits pendukung dari jalur atau sanad yang lain. Berikut ini kutipan beberapa pendapat ulama terkait hal tersebut. Pertama, Imam Nawawi dalam Fatawa-nya menyebutkan adanya konsensus (ijmak) di kalangan ulama terkait kebolehan mengamalkan hadits dhaif untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan akidah dan hukum halal dan haram. Kedua, boleh mengamalkannya secara mutlak dalam persoalan hukum ketika tidak ditemukan lagi hadits sahih yang bisa dijadikan sebagai sandaran. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad dan Abu Daud. Selain itu Imam Abu Hanifah dan Ibnul Qayyimil Jauziyyah juga mengutip pendapat tersebut. Ketiga, hadits dhaif boleh diamalkan jika ia tersebar secara luas dan masyarakat menerimanya secara umum tanpa adanya tolakan yang berarti (talaqqathul ummah bil qabul). Keempat, boleh mengamalkannya ketika hadits dhaif tersebut didukung oleh jalur periwayatan lain yang sama atau lebih kuat secara kualitas darinya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam At-Tirmidzi dalam karyanya.

Definisi

sunting

Definisi Hadits dhaif menurut Imam Al-Baiquni adalah:

"Setiap hadis yang tingkatannya berada dibawah hadits hasan (tidak memenuhi syarat sebagai hadis shahih maupun hasan) maka disebut hadits dho'if dan hadis (seperti) ini banyak sekali ragamnya."

Sebab kelemahan

sunting

Suatu hadits dikategorikan lemah disebabkan oleh:

  • Terputusnya rantai periwayatan (sanad)
  • Adanya kelemahan/cacat pada seorang atau beberapa orang penyampai riwayat (perawi) hadis tersebut.

Macamnya

sunting

Terdapat berbagai tingkatan derajat hadis lemah, mulai dari yang lemahnya ringan hingga yang parah bahkan palsu. Ibnu Hibban telah membagi hadits dhaif menjadi 49 (empat puluh sembilan) jenis.[1] Di antara macam-macam tingkatan hadis yang dikategorikan lemah, seperti:

  • Mursal: Hadis yang disebutkan oleh Tabi'in langsung dari Muhammad tanpa menyebutkan siapa shahabat yang melihat atau mendengar langsung dari Muhammad. Digolongkan sebagai hadis lemah karena dimungkinkan adanya Tabi'in lain yang masuk dalam jalur riwayatnya (namun tidak disebutkan). Jika dapat dipastikan perawi (periwayat) yang tidak disebutkan tersebut adalah seorang shahabat maka tidak tergolong sebagai hadis lemah.
  • Mu'dhol: Hadis yang dalam sanadnya ada dua orang rawi atau lebih yang tidak dicantumkan secara berurut.
  • Munqathi (terputus): Semua hadis yang sanadnya tidak bersambung tanpa melihat letak dan keadaan putusnya sanad. Setiap hadis Mu'dhal adalah Munqathi, tetapi tidak sebaliknya.
  • Mudallas: Seseorang yang meriwayatkan dari rawi fulan sementara hadis tersebut tidak didengarnya langsung dari rawi fulan tersebut, namun ia tutupi hal ini sehingga terkesan seolah ia mendengarnya langsung dari rawi fulan. Hadis mudallas ada dua macam, yaitu Tadlis Isnad (menyembunyikan sanad) dan tadlis Syuyukh (menyembunyikan personal).
  • Mu'an'an: Hadis yang dalam sanadnya menggunakan lafal fulan 'an fulan (riwayat seseorang dari seseorang).
  • Mudhtharib (guncang): Hadis yang diriwayatkan melalui banyak jalur dan sama-sama kuat, masing-masingnya dengan lafal yang berlainan/bertentangan (serta tidak bisa diambil jalan tengah).
  • Syadz (ganjil): Hadis yang menyelisihi riwayat dari orang-orang yang tsiqah (tepercaya). Atau didefinisikan sebagai hadis yang hanya diriwayatkan melalui satu jalur tetapi perawinya tersebut kurang tepercaya jika ia bersendiri dalam meriwayatkan hadis.
  • Munkar: Hadis yang diriwayatkan oleh perawi kategori lemah yang menyelisihi periwayatan rawi-rawi yang tsiqah.
  • Matruk: Hadis yang di dalam sanadnya ada rawi yang dituduh telah berdusta atas (nama) Muhammad.[2]
  • Maudhu'(Hadis palsu): Hadis yang dipalsukan atas nama Nabi, di dalam rawinya ada rawi yang diketahui sering melakukan kedustaan dan pemalsuan.
  • Bathil: Sejenis Hadis palsu yang (jelas-jelas) menyelisihi prinsip-prinsip syariah.
  • Mudraj: Perkataan yang diucapkan oleh selain Nabi yang ditulis bergandengan dengan Hadits Nabi. Sehingga dapat dikira sebagai bagian dari hadis. Umumnya berasal dari perawi hadisnya, baik itu sahabat ataupun yang dibawahnya, diucapkan untuk menafsirkan, menjelaskan atau melengkapi maksud kata tertentu dalam lafal hadis.

Referensi

sunting
Catatan kaki
  1. ^ Muqadimmah Ibnu Shalah
  2. ^ Thahhan, Mahmud (2019). Ihsanuddin, Ahmad (ed.). DASAR-DASAR ILMU HADITS (Edisi V). Jakarta: Ummul Qura. hlm.ย 109. ISBNย 9786027637863.
Daftar pustaka

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Hari Tarwiyah

ulama hadis yang menilai hadis tersebut sebagai hadis daif. Ada pula yang menyatakan bahwa hadis tersebut adalah hadis palsu. Pendapat bahwa hadis ini palsu

Mazhab Hambali

dan hadis daif. Imam Hambali tetap mempertimbangkan hadis mursal dan hadis daif apabila tidak didapati keterangan-keterangan yang menolak hadis tersebut

Sejarah hadis

Qathi'i sehingga tidak sedikit termuat dengan yang daif dan 4 hadis maudlu'. Adapun pendiwanan hadis dilaksanakan dengan penelitian sanad dan rawi-rawinya

Syariat Islam

Hadis terbagi dalam beberapa derajat keasliannya, di antaranya adalah: Sahih Hasan Daif (lemah) Maudu' (palsu) Matruk' (ditinggalkan) Mungkar Hadis yang

Al-Qurthubi

wa Izhรขr Mahasin Dรฎn al-Islรขm. Di dalam At-Tadzkirah terdapat banyak hadis daif. Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an merupakan sebuah kitab tafsir Al-Qur'an.

Musnad Ahmad

ini ada hadis sahih, lemah (daif), dan palsu (maudhu); Ibnu Taimiyah, Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar al-'Asqalani, dan As-Suyuthi mengatakan hadis yang ada

Takhrij Hadis

dan kedaifan beberapa atau semua sanad. Akhirnya muncul karya kitab-kitab takhrij hadis. Kitab yang dikenal sebagai pelopor perjalanan takhrij hadis adalah

Fikih jenazah

yang dianggap bidah karena dalil pendukungnya hanya masuk dalam kategori hadis daif, salah satunya adalah talqin mayit. Beberapa ulama yang menganggap talqin