Hak linguistik atau hak bahasa adalah hak asasi manusia dan sipil mengenai hak individual maupun kolektif untuk memilih bahasa komunikasi dalam ranah pribadi atau ruang publik.

Dokumen-dokumen penting mengenai hak linguistik mencakup Pernyataan Semesta Hak-Hak Linguistik (1996), Piagam Eropa untuk Bahasa Daerah atau Bahasa Minoritas (1992), Konvensi Hak Anak (1989) dan Kerangka kerja Konvensi untuk Perlindungan Kelompok Minoritas Nasional (1988), serta Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (1966).[1]

Referensi

sunting
  1. ^ International Covenant on Civil and Political Rights, Article 27

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Linguistik LGBT

Linguistik LGBT merujuk kepada bahasa dan subbidang linguistik seputar orang yang mengidentifikasi diri sebagai gay, lesbian, biseksual, transgender, dan

Kematian bahasa

Dalam linguistik, kematian bahasa terjadi ketika suatu bahasa kehilangan penutur jati terakhir. Lebih lanjut lagi, kepunahan bahasa terjadi ketika bahasa

Noam Chomsky

1928) adalah seorang profesor linguistik dari Institut Teknologi Massachusetts. Salah satu reputasi Chomsky di bidang linguistik terpahat lewat teorinya tentang

Imperialisme bahasa

Imperialisme bahasa atau imperialisme linguistik didefinisikan sebagai "pemindahan bahasa yang paling berpengaruh kepada bangsa lain". Pemindahan bahasa

Master of Arts

dalam lingkup humaniora dan ilmu sosial, seperti sejarah, sastra, bahasa, linguistik, administrasi publik, ilmu politik, studi komunikasi, hukum atau diplomasi;

Daftar keputusan pengadilan penting di Indonesia

melakukan tindak pidana pembunuhan berencana secara bersama-sama dan tanpa hak melakukan tindakan yang mengakibatkan sistem elektronik tidak bekerja sebagaimana

Hak komunikasi

partisipasi dalam kebudayaan sendiri, hak linguistik, hak atas pendidikan, privasi, berkumpul, dan menentukan nasib sendiri. Hak-hak ini juga berkaitan dengan isu

Bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa

Bangsa-Bangsa dan UNESCO belum secara resmi meratifikasi Deklarasi Universal Hak Linguistik. Bahasa-bahasa ini digunakan dalam pertemuan berbagai badan PBB, khususnya