📑 Table of Contents
Diagram yang menunjukkan perkembangan sel-sel darah yang berbeda dari sel punca ke sel dewasa

Hemopoesis atau sering juga dikenal dengan hematopoiesis adalah peristiwa pembuatan sel darah.[1] Sel darah yang dimaksudkan adalah sel darah merah, sel darah putih, dan platelet (keping darah).[1]

Tempat

sunting

Sel-sel darah pada orang dewasa dibentuk di sumsum tulang, yang membentuk tulang sumbu tubuh (kerangka aksial).[1] Pada sumsum tulang, terdapat sel induk pluripotensial (yang bermakna banyak potensi).[1] Sel induk adalah sumber semua sel darah.[1] Sel-sel ini akan memperbarui diri dan berdiferensiasi terus menerus sepanjang hidup.[1] Setelah beberapa tahap berdiferensiasi, sel induk mulai bekerja membentuk hanya satu jenis sel darah.[1] Sel ini disebut sel progenitor yang akan tetap berada di sumsum tulang, kemudian dengan dipengaruhi faktor-faktor pertumbuhan, akan berdiferensiasi.[1]

Faktor

sunting

Sel progenitor akan distimulasi untuk berproliferasi dan berdiferensiasi oleh berbagai hormon dan agens produk lokal yang secara kolektif mengendalikan proses ini.[1] Contoh faktor pertumbuhan adalah sitokin.[1] Sitokin akan dilepaskan oleh sel-sel yang mengalami inflamasi dan sel-sel imun menuju sel progenitor untuk pembuatan sel darah sehingga dapat membantu proses penyembuhan penyakit.[1]

Pada Janin

sunting

Pada janin terdapat pengaturan hemopoesis yang berbeda dari tahap ketika dewasa. [2]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e f g h i j k Corwin EJ. 2007. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
  2. ^ Wahab AS. 1996. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta: EGC.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Eritropoiesis

tahun. Tulang kering dan tulang paha berhenti menjadi tempat penting hemopoesis sekitar usia 25 tahun; tulang punggung, tulang dada, panggul, tulang rusuk

Tulang spongiosa

mengandung sumsum tulang merah yang menjadi tempat terjadinya proses hemopoesis (produksi sel darah). Apabila terjadi osteoporosis (khususnya setelah

Gajah

sehingga memperkuat tulang dan pada saat yang sama masih memungkinkan hemopoesis. Baik tungkai depan maupun belakang dapat menopang beban gajah, walaupun

Vinil klorida

tinggi mengalami angiosarkoma, tumor otak dan paru, serta tumor limfatik hemopoesis ganas. Paparan kronis senyawa ini dapat mengarah pada terjadinya gagal

Hemoglobin A

berkurangnya sintesis rantai di sel eritroid (talasemia) pada proses hemopoesis. Gangguan gen globin umumnya diturunkan sebagai sifat autosomal resesif

Guanidina

karena guanidina dapat bersifat racun bagi sistem pembentukan darah (hemopoesis) dan sistem ginjal. Senyawa ini juga ditemukan bersifat racun bagi sumsum

Teniposida

menyusui, pada pasien dengan gangguan hati atau ginjal berat atau gangguan hemopoesis berat. Bila digunakan bersama agen kemoterapi lain untuk pengobatan ALL