| Hendarso | |
|---|---|
| Lahir | 12 Agustus 1945 Bandung, Jawa Barat, Masa Pendudukan Jepang |
| Meninggal | 12 September 2011 (umur 66) |
| Nama lain | Kang Darso, Michael Darso |
| Pekerjaan | penyanyi |
| Tahun aktif | 1962 - 2011 |
| Suami/istri | Epong Annisa (Alm) Lina Marlina |
Hendarso atau lebih dikenal dengan Kang Darso (12 Agustus 1945 – 12 September 2011) adalah penyanyi yang sudah menghasilkan ratusan karya lagu bernuansa pop Sunda Indonesia.[1] Selama berkarir sebagai penyanyi, Ia dibantu oleh pencipta lagu seperti Uko Hendarto, Doel Sumbang, Oon B., dan Yayan Jatnika.[2]
Ia juga dikenal sebagai Michael Darso Si Raja Pop Sunda.[1]
Karir
sunting1960-an
suntingDarso memulai karier pada tahun 1962 sebagai pemain bas pada grup musik Nada Karya di Gedung Wanita untuk mengiringi Tetty Kadi dan Lilis Suryani,[2] dan Nada Kencana. Sempat bergabung dengan band milik Pusat Persenjataan Kavaleri Bandung. Ia berhenti terkena imbas peristiwa G 30 S/PKI.[1]
Pada 1967, Darso ikut bergabung ke dalam grup calung Layungsari (Padasuka) milik kakaknya, Uko Hendarto. Selain itu, Darso juga bergabung dengan grup calung Balebat pimpinan Yaya, asal Padasuka, Cicaheum, Bandung. Tercatat, Darso juga bergabung dengan grup calung Dayangsari (Garungggang).[2]
Pada tahun 1968, Ia memulai lagi kariernya lagi bersama sang kakak Uko Hendarso menggarap musik dengan instrumen utama yaitu "Calung" salah satu lagu yang diminati waktu itu "Kiamat'. Darso mengenal musik Calung lewat Endang Taryana atau yang lebih dikenal dengan nama Endang Jebrag.[2]
Selanjutnya, atas arahan S. Hidayat, Darso diajak untuk tampil pada RRI bersama grup Baskara Saba Desa. Ia merekam album yang berjudul Volume 1 bersama grup Layung Sari iringan Ali Wijaya. Lagu-lagunya karya Koko Koswara dan Uko Hendarto.[1]
1970-an
suntingPada 1974, Darso bergabung dengan grup calung Jebrag. Ia bermain bersama Endang Jebrag, Mang Tanu, Mang Udi, Endang Cengos, Dedi Kusnaedi, serta penyanyinya Yetti Syarifah dan Deti Kurnia. Saat ini lah, Darso diperkenalkan pada calung kawih untuk mengiringi kawih.[2]
Pada 1974, Ia memulai rekaman di bawah label Asmara Record milik Kim Seng, kakak seniman Tan De Seng[2] di atas pita kaset dan meliris album dalam bentuk piringan hitam.[3] Beberapa lagu yang terkenal yaitu "Kembang Tanjung", "Cangkurileung", dan "Panineungan". Dalam album yang Ia rekam, Darso selalu menambahkan lagu Mang Koko.[2]
Dalam kurun waktu 1975 hingga 1985, Darso bersama grupnya mengikuti program dari Menteri Penerangan untuk menyampaikan program-program dan mengamen ke pelosok daerah di Jawa Barat. Saat inilah, Darso berpindah ke beberapa grup calung, seperti Kuesta (1975), Flamboyan (1976) dan kembali ke Jebrag lagi (1978).[2]
Hingga pada 1978, Darso membentuk grup calung Darso'78. Grup ini beranggotakan Uko Hendarto, Toto, Dedi Glamor, Dedi, Usep Suherman, dan Endang Cengos. Mereka tampil dengan cara mengemas kesenian calung bukan sebagai tontonan, tetapi juga mengajak pendengar menikmati kawih-kawihnya. Pada 1985, Ia mendirikan grup Calung Darso dan bertahan hingga 2011.[2]
1990-an
suntingPada tahun 90-an nama Darso semakin populer setelah TVRI sering menampilkannya. Darso juga mulai menggunakan jenis instrumen lain seperti terompet dan organ. Jenis musik yang dirambah selain pop sunda juga dangdut. Lagu-lagu yang terkenal pada masa itu hingga kini yaitu "Randa Geulis", "Maribaya", "Dina Amparan Sajadah", "Kabogoh Jauh".
Awal kemunculan Darso tahun 1990-an ialah lewat "Cucu Deui" atau "Sarboah". Ia memadukan musik calung dalam warna dangdut dan mendapat banyak kritik dan cemoohan dari sebagian kalangan seniman tradisional. Ia dianggap merusak tata tertib musik tradisional Sunda.[2]
Kehidupan pribadi
suntingDarso lahir dari keluarga seniman. Ayahnya adalah Raden Iskandar seorang seniman Keroncong di Sastra dan ibunya Namah adalah seniman Degung. Ia adalah anak bungsu dari 8 bersaudara.[2]
Darso mempunyai seorang istri pertama bernama Epong (almarhumah), setelah istrinya meninggal kemudian menikah dengan Lina Marlina. Ia memiliki tujuh anak, yaitu Asep Darso, Yanti, Mimin, Hadi dan Ujang Darso dari almarhum istri pertamanya serta Ira dan Reyhan dari istri keduanya.[4]
Darso meninggal dunia pada 12 September 2011. Darso diduga meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit Umum Daerah Soreang setelah mengeluh sakit di bagian dada. Ia dimakamkan di Kampung Cibisoro, Desa Gandasoli, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung.[4]
Penghargaan
suntingPada tahun 2005, Ia mendapat penghargaan dari Gubernur Jabar Danny Setiawan berupa Anugerah Musik Jabar 2005.
Pada tahun 2009, Ia kembali mendapat penghargaan dari Wali Kota Bandung Dada Rosada berupa Anugerah Budaya Kota Bandung 2009.[5]
Diskografi
sunting- Randa Geulis
- Maribaya
- Kabogoh Jauh (2006)
- Dina Amparan Sajadah (2007)
- Mawar Bodas (2007)
- "Tanjakan Burangrang" (2008)
- "Cucu Deui" (2009)
- "Maripi" (2009)
Referensi
sunting- ^ a b c d "Darso, Si Raja Pop Sunda". Kompas.com. 24 Juli 2010. Diakses tanggal 22 Januari 2026.
- ^ a b c d e f g h i j k Tim Redaksi. "Darso, Fenomena Tak Tergantikan Musik Pop Sunda dan Warisannya". www.Pikiran-Rakyat.com. Diakses tanggal 2026-01-22.
- ^ Sidik, Zafar (2021-07-05). "Darso Seniman Sunda yang Fenomenal". Ketik News. Diakses tanggal 2026-01-22.
- ^ a b Suceno, Djoko (13 September 2011). "Kampung Cibisoro, Tempat Peristirahatan Terakhir Calung Darso". REPUBLIKA.CO.ID. Diakses tanggal 22 Januari 2026.
- ^ "Tiga Tokoh Sunda Dapat Anugerah Dari Pemprov". detiknews. Diakses tanggal 2026-01-22.