Gambar Pengukir Jepara pada zaman kolonial

Ukiran Jepara atau seni ukir Jepara adalah seni ukir khas yang berasal dari Jepara. Jepara yang terkenal dengan sebutan Kota Ukir, kini berubah menjadi Kota Ukir Dunia. Setelah meningkatkan citra Jepara โ€œThe World Carving Centerโ€, karena produk-produk ukir Jepara sudah sangat terkenal dan sangat banyak penyuka seni ukiran Jepara dari berbagai negara. AS Merupakan Negara Tujuan Ekspor Terbesar Jepara. Negara tujuan ekspor mebel Ukiran Jepara tahun 2015 juga mengalami kenaikan menjadi 113[1] negara dengan jumlah eksportir sebanyak 296 pengekspor, sedangkan tahun 2014 nilai ekspornya hanya 114,78 juta dolar AS dengan 223 pengekspor untuk negara tujuan 106 negara.

Legenda

sunting

Versi pertama

sunting

Pada zaman dahulu kala ada seorang pengukir dan pelukis dari Kerajaan Majapahit, Jawa Timur. Waktu itu masa pemerintahan raja Brawijaya. Pengukir itu bernama Prabangkara disebut juga Joko Sungging. Lukisan dan ukiran Prabangkara sudah sangat terkenal di seluruh negeri.

Suatu ketika Raja Brawijaya ingin memiliki lukisan istrinya dalam keadaan telanjang tanpa busana sebagai wujud rasa cinta sang raja. OIeh karena itu, Prabangkara dipanggil untuk mewujudkan keinginan sang Raja. Hal ini tentu merupakan hal yang sulit bagi Prabangkara, Karena meskipun mengenal wajah sang istri raja, tetapi dia tidak pernah meilhat istri raja tanpa busana. Dengan usaha keras dan imajinasinya, akhirnya Prabangkara berhasil mengerjakan lukisan tersebut. Ketika Prabangkara sedang istirahat, tiba-tiba saja ada seekor cecak buang tinja dan mengenai lukisan permaisuri tersebut. Kotoran cecak tersebut mengering dan menjadi bentuk seperti tahi lalat. Raja tentu sangat gembira dengan hasil karya Prabangkara tersebut. Sebuah lukisan yang sempurna, persis seperti aslinya. Sang raja mengamati lukisan tersebut dengan teliti. Begitu dia melihat tahi lalat, raja murka. Dia menuduh Prabangkara melihat langsung permaisuri tanpa busana. Karena lokasi tahi lalat persis seperti kenyataan.

Raja Brawijaya pun cemburu dan menghukum pelukis Prabangkara dengan mengikatnya di layang-layang, kemudian menerbangkannya. Layang-layang itu terbang hingga ke Belakang Gunung di Jepara dan mendarat di Belakang Gunung itu. Belakang Gunung itu kini bernama Mulyoharjo di Jepara. Kemudian Prabangkara mengajarkan ilmu mengukir kepada warga Jepara pada waktu itu dan kemahiran ukir warga Jepara bertahan dan lestari hingga sekarang.[2]

Versi Kedua

sunting

Menurut sejarah mengapa masyarakat Jepara mempunyai keahlian di pahat ukir[3] kayu adalah konon pada zaman dulu kala ada seorang seniman hebat yang bernama Ki Sungging Adi Luwih. Dia tinggal di kerajaan. Kepiawaian Ki Sungging ini terkenal dan sang raja pun akhirnya mengetahuinya. Singkat cerita raja bermaksud memesan gambar untuk permaisurinya kepada Ki Sungging. Ki Sungging bisa menyelesaikan gambarnya dengan baik tetapi pada saat Ki Sungging hendak menambahkan cat hitam pada rambutnya, ada cat yang tercecer di gambar permaisuri tersebut bagian paha sehingga tampak seperti tahilalat.Kemudian diserahkan kepada raja dan raja sangat kagum dengan hasil karyanya.Namun takdir berkata lain sang raja curiga kepada Ki Sungging difikir Ki Sungging pernah melihat permaisuri telanjang karena adanya gambar tahi lalat pada pahanya. Akhirnya raja menghukum Ki sungging dengan membawa alat pahat disuruh membuat patung permaisuri di udara dengan naik layang-layang. Ukiran patung permaisuri sudah setengah selesai tetapi tiba-tiba datang angin kencang dan patung jatuh dan terbawa sampai Bali. Itulah sebabnya mengapa masyarakat Bali juga terkenal sebagai ahli membuat patung. Dan untuk alat pahat yang dipakai oleh ki Sungging jatuh di belakang gunung dan ditempat jatuhnya pahat inilah yang sekarang diakui sebagai Jepara tempat berkembangnya ukiran.[4]

Sejarah

sunting
Ukiran di Masjid Astana Mantingan
Ukiran di Masjid Astana Mantingan

Pada masa Kerajaan Kalinyamat arsitektur Jepara mengalami kemajuan terutama dalam bidang ukir-ukiran. Tepatnya ketika Tjie Bin Thang (Toyib) dan ayah angkatnya yaitu Tjie Hwio Gwan pindah ke Jawa (Jepara), Ketika Tjie Bin Thang (Toyib) menjadi raja di sebuah Kerajaan Kalinyamat, di mana Toyib menjadi raja bergelar Sultan Hadlirin dan Tjie Hwio Gwan menjadi patih bergelar Sungging Badar Duwung. Arti dari gelar Sungging Badar Duwung yaitu (sungging "memahat", badar "batu", duwung "tajam"). Nama sungging diberikan karena Badar Duwung adalah seorang ahli pahat dan seni ukir.

Tjie Hwio Gwan adalah yang membuat hiasan ukiran di dinding Masjid Astana Mantingan. Ialah yang mengajarkan keahlian seni ukir kepada penduduk di Jepara. Di tengah kesibukannya sebagai mangkubumi Kerajaan Kalinyamat (Jepara), Patih Sungging Badar Duwung masih sering mengukir di atas batu yang khusus didatangkan dari negeri Tiongkok. Karena batu-batu dari Tiongkok kurang mencukupi kebutuhan, maka penduduk Jepara memahat ukiran pada batu putih dan kayu. Tjie Hwio Gwan mengajarkan seni ukir kepada penduduk Jepara, sehingga arsitektur rumah di Jepara dihiasi ornamen-ornamen ukir karena warga Jepara yang trampil dalam seni ukir, bahkan kini produk furniture kayu ukiran Jepara dikenal keseluruh dunia.

Bukti otentik ukiran Jepara berupa artefak peninggalan zaman Ratu Kalinyamat di Masjid Mantingan. Ukiran Jepara sudah ada jejaknya pada masa Pemerintahan Ratu Kalinyamat (1521โ€“1546) pada 1549. Sang Ratu mempunyai anak perempuan bernama Retno Kencono yang besar peranannya bagi perkembangan seni ukir. Di kerajaan, ada mentri bernama Sungging Badarduwung, yang datang dari Campa (Cambodia) dan dia adalah seorang pengukir yang baik. Ratu membangun Masjid Mantingan dan Makam Jirat (makam untuk suaminya) dan meminta kepada Sungging untuk memperindah bangunan itu dengan ukiran. Sampai sekarang, ukiran itu bisa disaksikan di Masjid dan Makam Sultan Hadlirin. Terdapat 114 relief pada batu putih. Pada waktu itu, Sungging memenuhi permintaan Ratu Kalinyamat.

Usaha Kartini dalam memajukan Ukir Jepara

sunting

Ukiran merupakan salah satu kesenian yang digemari oleh Kartini.[5] Kartini menulis prosa berjudul "Van Een Vergeten Uithoekje" (dari Salah satu Sudut yang Terlupakan). Prosa tersebut menceritakan tentang tanah kelahirannya yang memiliki banyak seniman pengukir, tetapi tidak dihiraukan. Alhasil, ia mengirimkan hasil produksi para pengrajin jepara kepada sahabat-sahabatnya sebagai cinderamata, salah satunya Henri Hubert van Kol, pemimpin Partai Buruh Sosial Demokrat dan anggota parlemen Belanda.

Kartini juga bekerja sama dengan Oost en West, sebuah organisasi yang memiliki kepedulian terhadap para pengrajin di Hindia Belanda. Berkat kerja sama itu, sejumlah karya ukir para pengrajin Jepara ikut ambil bagian dalam pameran di Den Haag pada 1898.[6]

Sentra Ukir Jepara

sunting

Keberadaan sentra-sentra ukir Jepara mempermudah pembeli mencari barang serta produksi semakin efisien. Mulai dari sentra relief, patung, gebyok, almari, dan lain-lainnya. Pemkab Jepara memusatkan ukiran Jepara, yaitu:

Sentra Ukir Patung di Desa Mulyoharjo

sunting

Kebanyakan masyarakat Desa Mulyoharjo merupakan pengukir dan pemahat patung kayu, Oleh karena itu kini desa Mulyoharjo menjadi Sentra Kerajinan Ukir Patung. Jenis seni patung yang terkenal dan legendaris dari Mulyoharjo adalah patung Macan Kurung. Mantan presiden Susilo Bambang Yudoyono juga pernah sengaja berkunjung ke Desa Mulyoharjo untuk membeli produk kerajinan dari Desa Mulyoharjo.

Sentra Ukir Relief di Desa Senenan

sunting

Desa Senenan merupakan sentra perajin seni ukir relief. Ada rasa kagum dan takjub ketika pertama kali melihat seni yang satu ini. Bagaimana tidak daribsebuah papan kayu utuh kemudian dipahat sedemikian rupa hingga berubah wujud menjadi gambar tiga dimensi yang benar-nenar hidup. desainnya pun kini semakin berkembang,tidak hanya gambar pemandangan saja ketika pertama kali kerajinan imi ada tetapi berkembang denga desain dimensi yang lain.

Sentra Ukir Minimalis di Desa Petekeyan

sunting

Mayoritas masyarakat Desa Petekeyan bergelut dibidang Industri Kerajinan Ukir Meubel Minimalis. Oleh karena itu kini desa Petekeyan menjadi Sentra Kerajinan Meubel Minimalis Hasil dari Industri masyarakat Desa Petekeyan dipasarkan secara langsung di ruang pamer milik perajin. Selain dipasarkan secara offline, hasil masyarakat juga dipasarkan secara online oleh pengusaha furniture Desa Petekeyan. Nama website yang memasarkan produk masyarakat adalah Petekeyan Kampoeng Sembada Ukir.

Sentra Ukir Gebyok di Desa Blimbingrejo

sunting

Gebyok Ukir Jepara sangat cocok untuk di jadikan pintu rumah ataupun pintu masjid sehingga semakin membuat rumah anda semakin menarik dan unik. Desa Blimbingrejo sudah menjadi Sentra Ukir Gebyok sejak tahun 1980-an hingga sekarang. Saat ini di desa tersebut sudah ada 90 orang perajin, dengan jumlah total pekerja mencapai lebih dari 300 orang. Karena dari setiap perajin besar bisa memperkerjakan 6-14 orang, sedangkan untuk perajin kecil biasanya memperkerjakan sebanyak 2-3 karyawan saja.

Sentra Ukir Lemari di Desa Bulungan

sunting

Warga Desa Bulungan mayoritas bekerja sebagai pembuat produk mebel ukir terutama berbentuk almari. almari produksi Desa Bulungan yang selama ini sudah diminati berbagai kalangan baik di Pulau Jawa dan luar Jawa. sektor mebel khususnya almari mampu menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari pengusaha kayu, perajin, showroom, jasa angkutan dan lain sebagainya. Nilai transaksi yang dihasilkan dari sektor ini juga mencapai ratusan juta rupiah tiap bulannya. Selama ini pemasaran almari Bulungan tidak hanya di kota-kota besar di Pulau Jawa.saja, tetapi juga merambah kawasan luar Pulau Jawa seperti Sumatra, Kalimantan, Aceh dan lain sebagainya.

Sentra Ukir Genteng di Desa Mayong Kidul

sunting

Genteng Ukir Jepara adalah genteng dengan bentuk ukir-ukiran Jepara, genteng tersebut yang banyak di produksi di Mayong, yaitu Genteng Makuta, Genteng Gatotkaca, Genteng Krepyak.

Motif

sunting

Motif atau ragam hias khas Jepara merupakan expresi daripada bentuk-bentuk tanaman yang menjalar. Tiap ujung relungnya menjumbai daun-daun krawing yang sangat dinamis. Biasanya di tengah jumbai terdapat buah-buah kecil-kecil yang berbentuk lingkaran. Ciri ragam hias ini dapat dilihat dengan adanya berjenis-jenis Burung Merak. Tangkai relungnya panjang-panjang melingkari disana-sini membentuk cabang kecil, berfungsi sebagai mengisi ruang / pemanis. Pelaksanaan penampang berbentuk segitiga, daun-daun trubusan keluar bebas pada setiap tangkai relung. Motif atau ragam hias Jepara terdiri dari:

  • Tangkai Relung
  • Jumbai (Ujung Relung)
  • Daun Trubusan (daun yang keluar dari tangkai relung dan daun yang keluar dari cabang atau ruasnya)
  • Buah susun

Pranala luar

sunting

Catatan kaki

sunting
  1. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-11-21. Diakses tanggal 2016-11-21.
  2. ^ "Sejarah Mebel Ukir Jepara" (PDF). Neliti. Diakses tanggal 2026-02-24.
  3. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-11-10. Diakses tanggal 2016-11-21.
  4. ^ "Ratu Kalinyamat: Sejarah atau Mitos?" (PDF). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Diakses tanggal 2026-02-24.
  5. ^ Daniswari, Dini (21 April 2022). "Perjuangan RA Kartini Memajukan Ukiran Jepara". Kompas.
  6. ^ Agung, Firdaus. "Kisah Bengkel Seni Kartini dan Ukiran Jepara yang Mendunia". tirto.id. Diakses tanggal 2026-02-12.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Paul-Henri Spaak

Paul-Henri Spaak (Paul-Henri Charles Spaak;25 Januari 1899ย โ€“ย 31 Juli 1972) adalah seorang politikus Belgia dan merupakan salah satu tokoh yang menganjurkan

Gervaise

Hรฉlรจne Tossy: Mme Bijard Amรฉdรฉe: Mes Bottes, teman minum Henri Hubert de Lapparent (sebagai Hubert Lapparent): Monsieur Lorilleux, seorang pembuat rantai

Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers

saatnya pensiun dan kembali ke Belanda. Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers adalah kakak Franรงois Vincent Henri Antoine de Stuers, yang juga mengikuti

Galatia

Xen., Hell., vii, 1, 20, 31; Diod., xv, 70. For a full discussion see Henri Hubert, The Rise of the Celts, 1966 pp. 5-6 Cunliffe, Barry (2018-04-10). The

Cรฉsar Franck

Cรฉsar Auguste Jean Guillaume Hubert Franck, lahir 10 Desember 1822 di Liรจge, dan meninggal 8 November 1890 di Paris, merupakan seorang profesor, organis

Desperate Decision

yang disutradarai oleh Yves Allรฉgret dan dibintangi oleh Daniรจle Delorme, Henri Vidal dan Jean Debucourt. Film tersebut dibuat di Joinville Studios, Paris

SOCFIN Group

saham perusahaan ini dipegang oleh Bollore Group asal Prancis dan keluarga Hubert Fabri asal Luxembourg. Perusahaan ini beroperasi di berbagai negara melalui

Kolose

Biblical Archaeology Review, March/April 2019, Vol. 45, No. 2, p. 45. Cancik, Hubert; Schneider, Helmuth; Salazar, Christine F; Orton, David E. (2002โ€“2010).