Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono
Kasimo pada 1954
Menteri Perdagangan Indonesia ke-5
Masa jabatan
4 Agustus 1948ย โ€“ 21 Januari 1950
PresidenSoekarno
Masa jabatan
12 Agustus 1955ย โ€“ 24 Maret 1956
PresidenSoekarno
Menteri Pertanian Indonesia Ke-6
Masa jabatan
4 Agustus 1948ย โ€“ 21 Januari 1950
PresidenSoekarno
Sebelum
Pendahulu
Sjafruddin Prawiranegara
Sebelum
Menteri Kemakmuran
Masa jabatan
20 Desember 1949ย โ€“ 21 Januari 1950
PresidenAssaat
Sebelum
Pengganti
Sadjarwo Djarwonagoro
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir
Kasimo Hendrowahyono

(1900-04-10)10 April 1900
Yogyakarta, Hindia Belanda
Meninggal1 Agustus 1986(1986-08-01) (umurย 86)[1]
Jakarta, Indonesia
MakamTMPNU Kalibata, Jakarta Selatan, Jakarta
KebangsaanIndonesia
Partai politikย ย Katolik
Pahlawan Nasional Indonesia
S.K. Presiden No. 113/TK/2011 tanggal 7 November 2011.
Sunting kotak info
Sunting kotak infoย โ€ข Lย โ€ข B
Bantuan penggunaan templat ini

Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono (10 April 1900ย โ€“ย 1 Agustus 1986) adalah seorang politikus dan pelopor kemerdekaan Indonesia. Ia juga merupakan salah satu seorang pendiri Partai Katolik Indonesia.

Selain itu, beberapa kali ia menjabat sebagai Menteri setelah Indonesia merdeka. Ia jugalah yang memberi teladan bahwa berpolitik itu pengorbanan tanpa pamrih. Berpolitik selalu memakai beginsel atau prinsip yang harus dipegang teguh. Seperti yang disampaikan oleh pemimpin umum harian Kompas, Jakob Oetama, ia adalah salah satu tokoh yang menjunjung tinggi moto salus populi supremalex, yang berarti kepentingan rakyat, hukum tertinggi, yang merupakan cermin etika berpolitik yang nyaris klasik dari tangan dirinya.[1]

Kehidupan awal

sunting
Ignatius Josephus Kasimo, 1954

Kasimo Hendrowahyono dilahirkan di Yogyakarta. Ia adalah anak kedua dari sebelas bersaudara. Orang tuanya adalah Dalikem dan Ronosentika, seorang prajurit Keraton Yogyakarta, dan seorang tokoh yang memperjuangkan hak-hak anak jajahan.[1] Maka sejak kecil IJ Kasimo dididik sesuai dengan tradisi keraton. Dengan demikian, ia merasakan dan paham benar dengan cara hidup keraton yang semuanya berpusat pada Sultan.

Ketika kakak tertuanya dipersiapkan menggantikan ayahnya, maka Kasimo menggantikan posisi kakaknya dan sekaligus bertanggung jawab sebagai anak laki-laki tertua. Ia harus bekerja keras membantu ibunya mengurus rumah tangga. Setelah lulus dari Bumi Putra Gading, Kasimo masuk sekolah di Muntilan yang didirikan oleh Romo van Lith. Kasimo saat itu tinggal di asrama,dan dia kemudian tertarik untuk belajar agama Katolik dan pada hari raya Paskah bulan April 1913 pada usianya yang ke-13, Kasimo dibaptis secara Katolik dan mendapat nama baptis Ignatius Joseph.

Setelah dewasa, ia menjadi guru pertanian sekaligus mengajarkan agama di Tegal dan Surakarta .

Aktif di bidang politik

sunting

Kasimo Hendrowahyono adalah salah satu pendiri partai politik Katholiek Djawi yang lalu berubah nama menjadi Perkoempoelan Politiek Katholiek di Djawa dan lalu menjadi Partai Politik Katolik Indonesia (PPKI) yang kelak pada tahun 1949 Kasimo akan menjadi ketua umumnya.

Volksraad

sunting

Sebagai anggota PPKI, Kasimo diangkat menjadi anggota Volksraad pada periode tahun 1930 - 1942. Ia ikut menandatangani Petisi Soetardjo yang menginginkan kemerdekaan Hindia Belanda.

Masa Kemerdekaan

sunting
Foto ketika dia bertemu dengan presiden Soekarno

Pada masa kemerdekaan awal, PPKI yang dilarang oleh Jepang dihidupkan kembali atas gagasan Kasimo dan berubah nama menjadi Partai Katolik Republik Indonesia. Pada periode tahun 1947-1949 ia duduk sebagai Menteri Muda Kemakmuran dalam Kabinet Amir Sjarifuddin, Menteri Persediaan Makanan Rakyat dalam Kabinet Hatta I dan Hatta II. Dalam kabinet peralihan atau Kabinet Soesanto Tirtoprodjo ia juga menjabat sebagai menteri. Kasimo pun pernah menjadi anggota Delegasi Perundingan Republik Indonesia.

Pada masa Agresi Militer II (Politionele Actie) ia bersama menteri lain yang tidak dikurung Belanda bergerilya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lalu ketika bisa kembali ke Yogyakarta ia memprakarsai kerja sama seluruh partai Katolik Indonesia untuk bersatu menjadi Partai Katolik.

Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), Kasimo duduk sebagai wakil Republik Indonesia [2] dan kemudian setelah RIS dilebur sebagai anggota DPR.[3] Dalam Kabinet Burhanuddin Harahap ia menjabat sebagai Menteri Perdagangan. Kasimo juga ikut berjuang merebut Irian Barat.

Kasimo menyatakan pendiriannya untuk menolak gagasan Nasakom yang ditawarkan Bung Karno. Kasimo pun juga menolak Kabinet yang diprakarsai Soekarno dan terdiri dari empat partai pemenang pemilu 1955: PNI, Masyumi, NU dan PKI. Kala itu Masyumi dan Partai Katolik Indonesia yang satu-satunya menolak bekerja sama dengan PKI di kabinet.

Masa Orde Baru

sunting

Pada masa Orde Baru, Kasimo diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia.

Wafat

sunting
Makam IJ Kasimo di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta

IJ Kasimo meninggal pada Jumat Kliwon, 1 Agustus 1986 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Penghargaan

sunting

Catatan Kaki

sunting
  • BS.Perjalanan si Senyuman Lebar IJ. Kasimo.

Referensi

sunting
  1. ^ a b c ST Sularto (8 Oktober 2010). "IJ Kasimo dan Politik Bermartabat". Kompas. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-10-11. Diakses tanggal 8 Oktober 2010. ;
  2. ^ Pangaribuan, Melki (2016-08-17). "HUT Ke-71 Kemerdekaan: Gagasan I.J. Kasimo Semakin Relevan". Satuharapan. Diakses tanggal 2023-05-30.
  3. ^ Zagoto, Nofanolo (2017-08-12). "IJ Kasimo, Penggagas Ekonomi Memihak Rakyat". Validnews. Diakses tanggal 2023-05-30.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Mosi Integral Natsir

kecakapannya berunding dengan para pemimpin fraksi di Parlemen RIS, seperti IJ Kasimo dari Fraksi Partai Katolik dan AM Tambunan dari Partai Kristen, telah

Mohammad Hatta

Korupsi. Komisi Empat ini diketuai oleh Wilopo, SH, dengan anggota-anggota: IJ Kasimo, Prof. Dr. Yohanes, H. Anwar Tjokroaminoto, dengan sekretaris Kepala Bakin/Sekretaris

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia

dipimpin oleh Dr. A.K.Gani dibantu oleh dua orang Menteri Muda yaitu I.J. Kasimo dan Dr. A. Tjokronegoro sampai berakhirnya Kabinet Sjarifoedin II pada

Partai Katolik (Indonesia)

didirikan oleh umat Katolik Jawa yang dipimpin oleh F.S. Harijadi. Saat IJ Kasimo memimpin, partai ini kemudian dinamai Pakempalan Politik Katolik Djawi

Komite Nasional Indonesia Pusat

Sekarmadji Kartosoewirjo, Mr. Prawoto Mangkusasmito, [[Tedjasoekmana], I.J. Kasimo, Mr. Kasman Singodimedjo, Maruto Nitimihardja, Mr. Abdoel Hakim, Hamdani

Sejarah ekonomi Indonesia

19 Januari 1947 yang dipimpin oleh Menteri Persediaan Makanan Rakyat, IJ Kasimo untuk memberi rekomendasi dan saran terkait kebijakan pemerintah dalam

Kompas (surat kabar)

beberapa pemuka agama Katolik seperti Monsignor Albertus Soegijapranata dan I.J. Kasimo tidak mau menerima begitu saja, karena mengingat kontekstual politik

Syafruddin Prawiranegara

sampai ia menerima rekomendasi langsung dari politikus Partai Katolik I.J. Kasimo. Begitu Waperdam Johannes Leimena dan Subandrio mengetahui keadaan keluarga