Peta Wilayah Pesisir dan Pedalaman Banjarmasin yang termasuk dalam Perjalanan di bagian selatan Borneo karya Salomon Mรผller (1845), yang menampilkan label "Tandjoeng Serandjana (akronim: T. Serandjana)" di bagian tenggara Pulau Laut.[1]

Saranjana adalah sebuah legenda urban dan mitos mengenai kota gaib yang berlokasi di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, Indonesia. Berdasarkan cerita rakyat dan tradisi lisan setempat, Saranjana diyakini sebagai permukiman tak kasat mata yang dihuni oleh makhluk halus. Masyarakat setempat sering mendeskripsikan Saranjana sebagai kota yang memiliki peradaban maju dengan gedung-gedung pencakar langit dan teknologi modern, yang hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu.[1]

Sejarah dan kartografi

sunting

Meskipun Saranjana tidak tercatat dalam peta geografis modern wilayah administratif Indonesia, nama kawasan ini pernah didokumentasikan dalam beberapa arsip dan peta pada masa Hindia Belanda. Catatan sejarah pertama mengenai keberadaan wilayah bernama "Saranjana" ditemukan dalam peta karya Salomon Mรผller, seorang naturalis berkebangsaan Jerman, pada tahun 1845. Dalam peta yang berjudul Kaart van de Kust-en Binnenlanden van Banjermasing en een gedeelte van Zuid-Oost-Borneo, Mรผller memosisikan sebuah area bernama "Tandjong Serandjana" di pesisir selatan Pulau Laut.[2]

Nama ini juga muncul dalam peta rancangan Isaac Dornseiffen pada tahun 1868, yang mencantumkan nama "K. Sarandjana". Awalan "K." pada peta tersebut mengindikasikan bahwa wilayah itu adalah sebuah kampung (kampoeng).[1] Setahun kemudian, akademisi Pieter Johannes Veth menerbitkan kamus geografi berjudul Aardrijkskundig en statistisch woordenboek van Nederlandsch Indie (1869), yang mencatat "Sarandjana" sebagai sebuah tanjung di sisi tenggara Kalimantan.[2] Secara historis, terdapat hipotesis dari sejarawan Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur, yang mendalilkan bahwa Saranjana pada masa lampau mungkin merupakan sebuah permukiman suku Dayak Samihim yang kemudian ditinggalkan oleh penduduknya akibat peperangan.[2]

Asal-usul nama dan mitologi

sunting

Terdapat beberapa teori mengenai etimologi nama "Saranjana". Dari sudut pandang linguistik, sejarawan mengaitkan toponim "Saranjana" di selatan Pulau Laut dengan daerah "Sarangtiung" di bagian utaranya. Kata "Saran" atau "Sarang" diduga merujuk pada permukiman atau tempat yang dihuni oleh kelompok penganut kepercayaan lokal pada masa lampau.[2]

Dalam mitologi lokal, legenda Saranjana sering dikaitkan dengan tokoh bernama Sambu Ranjana dari legenda Kerajaan Pulau Halimun. Dalam cerita rakyat tersebut, Raja Pakurindang memerintahkan Sambu Batung dan Putri Perak untuk tinggal di utara pulau (yang kemudian diyakini menjadi Gunung Sebatung), sementara Sambu Ranjana ditugaskan untuk menetap di wilayah selatan.[3] Sambu Ranjana diceritakan menolak untuk berbaur dengan manusia dan memilih untuk menutup diri. Pemisahan diri ini kemudian berkembang menjadi mitos mengenai gunung atau permukiman gaib yang dinamakan Saranjana.[3]

Pengaruh budaya populer

sunting

Kisah mengenai Saranjana telah berkembang menjadi legenda urban yang populer di Indonesia. Beberapa figur publik dan musisi nasional, seperti Ari Lasso, Ifan Seventeen, dan Tantri Kotak, pernah membagikan pengalaman aneh yang mereka alami saat mengadakan konser di Kotabaru, yang sering dikaitkan oleh masyarakat dengan kehadiran penonton gaib dari Saranjana.[4] Popularitas legenda ini kemudian memicu adaptasi ke dalam berbagai media massa. Pada tahun 2023, sebuah film horor berjudul Saranjana: Kota Ghaib dirilis di bioskop Indonesia, mengambil inspirasi langsung dari mitos kota tersebut.

Referensi

sunting
  1. ^ a b c Isman, Andi Nur (4 Februari 2023). "Jejak Saranjana Kota Gaib Berperadaban Maju di Kalimantan". detik.com. Diakses tanggal 18 Februari 2026.
  2. ^ a b c d Mansyur, M. (14 Januari 2020). "Saranjana in Historical Record: The City's Invisibility in Pulau Laut, South Kalimantan". Yupa: Historical Studies Journal (dalam bahasa Inggris). 2 (1): 13โ€“25. doi:10.30872/yupa.v2i1.112.
  3. ^ a b Normasunah, N. (2017). "Mitos Dalam Legenda Kerajaan Pulau Halimun Di Kabupaten Kotabaru" (PDF). Jurnal Bahasa, Sastra Dan Pembelajarannya. 7 (1): 1โ€“8.
  4. ^ "Misteri Saranjana, Kota Gaib yang Pernah Muncul di Peta Belanda". Samarinda Pos. 16 Juli 2025. Diakses tanggal 18 Februari 2026.

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Relikui Kematian

Wand), Batu Kebangkitan (Resurrection Stone), dan Jubah Gaib (Cloak of Invisibility). Diceritakan dalam novel tersebut, terdapat legenda di dunia sihir bahwa

Singkong

Siqueira, A.; Neves, W.; Sanches, R. (2009). "Bread of the Land: The Invisibility of Manioc in the Amazon". Amazon Peasant Societies in a Changing Environment

Jubah tembus pandang

Jubah tembus pandang atau jubah gaib (Inggris: cloaks of invisibility) adalah suatu istilah yang dikenal dalam dunia fiksi, dan dewasa ini dalam sains

Penghapusan biseksual

Penghapusan biseksual atau kadang disebut pula sebagai bisexual invisibility atau bi-invisibility adalah tidak atau kurang diakuinya, diragukannya, dan/atau

Diskriminasi warna kulit

1163/18765610-01904008. ISSNย 1058-3947. Pisares, Elizabeth H. (2011-05-01). "The Social-Invisibility Narrative in Filipino-American Feature Films". positions: asia critique

Radar

Canadian War Museum Radar technology principles History of radar Radar invisibility with metamaterials Diarsipkan 2012-12-25 di Wayback Machine. Early radar

Penghargaan Kreator YouTube

aslinya tanggal 2021-02-08. Diakses tanggal December 12, 2020. "Real Life Invisibility Shield OT 34". YouTube. December 1, 2020. Diakses tanggal February 10

Cincin Utama

saga". The Vintage News. de Armas, Frederick A. (1994). "Gyges' Ring: Invisibility in Plato, Tolkien and Lope de Vega". Journal of the Fantastic in the