Kelp
Rentang waktu: Lutetium–Kini
[1]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Domain: Eukaryota
Klad: Diaphoretickes
Klad: Sar
Klad: Stramenopila
Filum: Gyrista
Subfilum: Ochrophytina
Kelas: Phaeophyceae
Ordo: Laminariales
Migula, 1909[2]
Famili

Agaraceae
Akkesiphycaceae
Alariaceae
Aureophycaceae
Chordaceae
Laminariaceae
Lessoniaceae
Pseudochordaceae

Laminariales (atau Kelp[3]) adalah nama ordo rumput laut besar (ganggang) yang diklasifikasikan dalam kelas Phaeophyceae. Terdapat sekitar 30 genus yang berbeda.[4] Meski bentuknya mirip tumbuhan, kelp bukan tumbuhan, tetapi sejenis stramenopila, yaitu sebuah kelompok organisme yang mencakup banyak protista.[5]

Kelp tumbuh pada "hutan bawah laut" (hutan kelp) pada laut dangkal, dan diyakini muncul pada kala Miosen, sekitar 5 sampai 23 juta tahun lalu.[6] Organisme ini membutuhkan air yang kaya akan nutrisi dengan suhu antara 6 dan 14 °C (43 dan 57 °F). Mereka diketahui memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi—genera Macrocystis dan Nereocystis dapat tumbuh hingga setengah meter per hari, dan mencapai tinggi maksimum 30 hingga 80 meter (100 hingga 260 ft).[7]

Selama abad ke-19, kata "kelp" erat hubungannya dengan rumput laut yang dapat dibakar untuk mendapatkan abu soda. Rumput laut yang digunakan mencakup spesies pada ordo Laminariales dan Fucales. Kata "kelp" juga digunakan untuk merujuk langsung abu yang telah diproses ini.[8]

Pranala luar

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ William Miller, III (13 October 2011). Trace Fossils: Concepts, Problems, Prospects: Chapter 13 "Zoophycos and the Role of Type Specimens in Ichnotaxonomy by Davide Olivero. Elsevier. hlm. 224–226. ISBN 978-0-08-047535-6. Diakses tanggal 1 April 2013.
  2. ^ Migula, W. (1909). Kryptogamen-Flora von Deutschland, Deutsch-Österreich und der Schweiz. Band II. Algen. 2. Teil. Rhodophyceae, Phaeophyceae, Characeae. Gera: Verlag Friedriech von Zezschwitz. hlm. i–iv, 1–382, 122 (41 col.) pls.
  3. ^ "Arti kata kelp". Kamus Besar Bahasa Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
  4. ^ Bolton, John J. (23 July 2010). "The biogeography of kelps (Laminariales, Phaeophyceae): a global analysis with new insights from recent advances in molecular phylogenetics". Helgoland Marine Research. 64 (4): 263–279. Bibcode:2010HMR....64..263B. doi:10.1007/s10152-010-0211-6.
  5. ^ Silberfeld, Thomas; Rousseau, Florence; de Reviers, Bruno (2014). "An Updated Classification of Brown Algae (Ochrophyta, Phaeophyceae)". Cryptogamie, Algologie. 35 (2): 117–156. doi:10.7872/crya.v35.iss2.2014.117. S2CID 86227768.
  6. ^ University of California Museum of Paleontology: The Miocene Epoch
  7. ^ Thomas, D. 2002. Seaweeds. The Natural History Museum, London, p. 15. ISBN 0-565-09175-1
  8. ^ "Kelp," in Oxford English Dictionary (Second Edition). Oxford University Press, 1989. Retrieved 1 December 2006


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Hutan kelp

Hutan kelp adalah wilayah dalam air dengan kepadatan kelp yang tinggi, yang menutupi sebagian besar pesisir di seluruh dunia. Area hutan ganggang yang

Teh kelp

Teh kelp atau teh kombu adalah sebuah teh tradisional Jepang dan Korea yang terbuat dari kelp Jepang yang disajikan dalam air hangat. Teh tersebut disebut

SpongeBob SquarePants

Patty dan tinggal bersama Karen. Selalu kosong tanpa pengunjung. New Kelp City (Kota Kelp Baru) - Kota di mana Spongebob menjadi wali kota dan namanya berubah

Kelp Forest Restoration

Kelp Forest Restoration atau restorasi rumput laut merupakan upaya meregenerasi rumput laut. Rumput laut adalah tumbuhan yang tergolong dalam kelompok

Heterokonta

500 spesies yang dikenal. Kebanyakan anggotanya berupa alga, mulai dari kelp raksasa multiseluler hingga diatom yang uniseluler, yang merupakan penyusun

Budi daya perairan

tahun 1864. Warga California memanen kelp pada tahun 1900 dan berusaha untuk menjaga suplainya agar tetap lestari. Kelp yang dipanen disuplai untuk Perang

Berang-berang laut

tidak dikendalikan akan menimbulkan kerusakan luas pada ekosistem hutan kelp. Makanannya mencakup spesies mangsa yang juga bernilai bagi manusia sebagai

Paus pembunuh

Schrope, Mark (2007). "Food chains: Killer in the kelp" [Rantai makanan: Pembunuh di hutan kelp]. Nature. 445 (7129): 703–705. Bibcode:2007Natur.445