Gambar kerakah Portugis pada sebuah peta tahun 1565.

Kerakah (bahasa Inggris: carrack; bahasa Portugis: carraca; bahasa Prancis: caraque) adalah sejenis kapal layar pelintas samudra bertiang tiga atau empat, dikembangkan pada abad ke-14 dan ke-15 di Eropa. Kerakah pertama kali digunakan untuk keperluan pelayaran niaga bangsa Eropa dari Laut Tengah ke Laut Baltik. Kerakah jenis tercanggih digunakan oleh bangsa Portugis untuk berniaga dengan daerah pesisir Afrika, kemudian juga dengan Asia dan Amerika sejak abad ke-15 sampai dengan abad ke-17.

Mengikuti variasi linguistik Eropa, kapal-kapal ini disebut carraca atau nau dalam bahasa Portugis, Spanyol, dan Genova, caraque atau nef dalam bahasa Prancis, serta kraak dalam bahasa Belanda dan Flandria. Mula-mula kata kerakah berarti kapal dan digunakan di Laut Tengah sebagai sebutan untuk segala macam kapal, lama sebelum kerakah pelintas samudra dikembangkan pada abad ke-15. Besar kemungkinan kata kerakah berasal dari kata Arab Harraqa, yakni sejenis tongkang sungai yang muncul pertama kali di Sungai Tigris dan Sungai Efrat pada abad ke-9, dan tidak ada kaitannya dengan kerakah.

Kerakah merupakan kapal pelintas samudra berkulit lambung susun rata: cukup besar untuk berlayar mantap mengarungi laut yang bergelora, dan cukup luas untuk menampung muatan berukuran besar serta perbekalan yang memadai untuk berlayar lama. Kerakah biasanya berperangkat layar persegi pada tiang topang dan tiang agung, serta berperangkat layar sabang (dikenal dengan istilah layar latin di Eropa) pada tiang penggawa. Kerakah memiliki buritan yang cembung dan tinggi, agil dan kimbul, serta cucur pada ujung haluan. Sebagai pendahulu dari galiung, kerakah merupakan salah satu rancangan kapal yang paling berpengaruh dalam sejarah; meskipun bentuknya kelak menjadi beragam sesuai dengan peruntukannya, rancangan dasarnya tetap tidak berubah sepanjang kurun waktu ini.[1]

Asal-muasal

sunting
Nau Flor de la Mar yang termasyhur (diluncurkan pada 1501 atau 1502), dalam "Roteiro de Malaca" dari abad ke-16.
Nao Victoria, salah satu kerakah yang paling termasyhur, sebuah replika dari kapal Magalhรฃes.

Jelang penghujung Zaman Pertengahan, kapal-kapal koga dan mirip-koga berperangkat layar persegi yang dilengkapi sebilah kemudi di linggi buritan, digunakan secara luas di sepanjang pesisir Eropa, di Laut Baltik, juga di Laut Tengah. Sesuai dengan kondisi Laut Tengah, kapal-kapal jenis galai dipergunakan secara luas, sebagaimana halnya kapal-kapal bertiang dua, termasuk pula kapal-kapal karavel dengan layar-layar latinnya. Kapal-kapal ini dan kapal-kapal sejenisnya sudah sangat dikenal oleh para pelaut dan pembuat kapal Portugis. Sedikit demi sedikit bangsa Portugis semakin jauh menjelajah dan berniaga ke selatan menyusuri tepi Samudra Atlantik di sepanjang pesisir Afrika selama abad ke-15, sehingga mereka pun mulai memerlukan kapal yang lebih besar dan lebih canggih demi kelancaran petualangan-petualangan bahari jarak jauhnya. Sedikit demi sedikit mereka mengembangkan sendiri rancangan kapal-kapal kerakah pelintas samudra dari perpaduan dan modifikasi aspek-aspek berbagai jenis kapal di Samudra Atlantik dan Laut Tengah yang mereka ketahui. Semua kapal itu dimanfaatkan seluruhnya pada penghujung abad itu untuk pelayaran lintas samudra dengan tatanan perangkat layar baru dan lebih canggih sehingga jauh lebih laik-laut dalam angin dan gelombang samudra Atlantik yang garang. Selain kapal-kapal kerakah bertonase rata-rata, dibuat pula beberapa kerakah berukuran besar pada masa pemerintahan Joรฃo II dari Portugal, tetapi baru digunakan secara luas seusai pergantian abad. Kapal-kapal kerakah Portugis lazimnya merupakan kapal-kapal yang sangat sangat besar pada zamannya (sering kali di atas 1000 ton). Portugis kelak memiliki kapal-kapal kerakah berukuran besar yang digunakan untuk pelayaran Carreira da รndia, dan pelayaran niaga ke Tiongkok dan Jepang, serta berbagai jenis kapal hasil rancangan baru lainnya.

Asal-muasal kata kerakah lazimnya ditelusuri kembali melalui bahasa-bahasa Eropa di Zaman Pertengahan sampai ke bahasa Arab, dan kemudian dari bahasa Arab sampai ke kata Yunani ฮบฮญฯฮบฮฟฯ…ฯฮฟฯ‚ (kerkouros) yang kira-kira berarti "ponton (tongkang)" (secara harfiah berarti, "buntut terpangkas", mungkin mengacu pada linggi buritannya yang rata). Bukti penggunaan kata ini dalam kesusastraan Yunani tersebar di dua ruang lingkup kepustakaan yang berhubungan dekat. Ruang lingkup kepustakaan yang pertama menggunakannya sebagai sebutan untuk sejenis kapal niaga ringan dan laju yang ditemukan di Siprus dan Kerkyra. Ruang lingkup kepustakaan yang kedua adalah sekumpulan besar keterangan dalam Corpus Oxyrhynchus, yang tampaknya lebih sering menggunakannya sebagai sebutan untuk tongkang-tongkang Sungai Nil pada zaman pemerintahan firaun-firaun dari Wangsa Ptolemaios. Kedua pemaknaan itu dapat ditelusuri kembali melalui bahasa Fenisia sampai ke kata kalakku dalam bahasa Akkadia, yang digunakan sebagai sebutan untuk sejenis tongkang sungai. Istilah Akkadia ini diduga berasal dari sebuah anteseden Sumeria. Wujud modern dari kata ini adalah kelek dalam bahasa Arab dan bahasa Turki yang berarti "rakit" atau "kapal sungai".[2]

Jenis kerakah bertiang tiga seperti Sรฃo Gabriel memiliki enam layar: layar cucur, layar topang, layar agung, layar penggawa, layar pengapuh topang, dan layar pengapuh agung.

Di Asia

sunting

Sejak sekitar 1515, Portugal telah menjalin hubungan niaga bahari dengan Goa di India Portugis, dengan mengirim 3 sampai 4 kerakah berlayar dari Lisboa membawa perak untuk ditukarkan dengan kapas dan rempah-rempah di India. Dari kapal-kapal itu, hanya satu kerakah yang melanjutkan pelayarannya ke Tiongkok, yang kala itu diperintah oleh Wangsa Ming, untuk membeli sutra yang juga ditukarkan dengan perak Portugis.

Sejak akuisisi Makau pada 1557, dan diakui secara resmi sebagai rekanan dagang oleh Tiongkok, Pemerintah Kerajaan Portugal mulai berupaya meregulasi hubungan niaga dengan Jepang, melalui lelang tahunan jabatan "Capitรฃo" untuk pelayaran ke Jepang, yang memberikan hak-hak dagang istimewa bagi satu saja kerakah yang berlayar ke Jepang setiap tahun. Hubungan niaga dengan Jepang terus berlanjut dengan hanya sedikit jeda sampai dilarang pada 1638 dengan alasan bahwa kapal-kapal itu menyelundupkan padri-padri ke Jepang.

Pada pertengahan abad ke-16, muncul kapal-kapal galiung perdana yang merupakan hasil pengembangan rancangan kerakah. Kapal rancangan baru ini kelak menggeser posisi kerakah, meskipun kerakah masih tetap digunakan sampai selambat-lambatnya pada permulaan abad ke-17.

Kerakah-kerakah termasyhur

sunting
Kapal-Kapal Kolumbus (G.A. Closs, 1892): Santa Maria dan Pinta digambarkan sebagai kerakah; Niรฑa (kiri) digambarkan sebagai karavel.
Model kerakah Madre de Deus, di Museum Bahari, Lisboa. Madre de Deus dibuat berdasarkan rancangan lain di Portugal (1589), dan merupakan kapal terbesar di dunia pada masanya. Madre de Deus memiliki tujuh geladak.

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Konstam, A. (2002). The History of Shipwrecks. New York: Lyons Press. hlm.ย 77โ€“79. ISBNย 1-58574-620-7.
  2. ^ Gong, Y (1990). "kalakku: รœberlegungen zur Mannigfaltigkeit der Darstellungsweisen desselben Begriffs in der Keilschrift anhand des Beispiels kalakku". Journal of Ancient Civilizations. 5: 9โ€“24. ISSNย 1004-9371.

Bacaan lebih lanjut

sunting
  • Kirsch, Peter (1990). The Galleon. Conway Maritime Press. ISBNย 0-85177-546-2.
  • Nair, V. Sankaran (2008). Kerala Coast: A Byway in History. (Carrack: Word Lore). Trivandrum: Folio. ISBNย 978-81-906028-1-5.

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Hominidae

Hominidae, yang para anggotanya dikenal sebagai kera besar atau hominid, adalah keluarga taksonomi primata yang mencakup delapan spesies yang masih ada

Monyet

sama dengan kera. Monyet adalah istilah untuk semua anggota primata yang bukan prosimia ("pra-kera", seperti lemur dan tarsius) atau kera, baik yang tinggal

Kera Sakti

Journey to the West (dikenal sebagai Kera Sakti di Indonesia) adalah serial televisi Hong Kong yang diadaptasi dari novel abad ke-16 dengan judul yang

Shiva (seri televisi)

Balli Har Habusha Angoori Pandey Doggy Anjing Kera Tinku Kera Don Kera Simpanse Kera Anak Simpanse Kera Monyet Harimau Singa Beruang Hitam Beruang Kutub

Sejarah Kota Medan

Sei Denai, Sei Putih, Sei Badra, Sei Belawan dan Sei Sulang Saling/Sei Kera. Dalam buku sejarah Kota Medan, dituliskan bahwa Medan sebagai pelabuhan

Evolusi manusia

Homo sapiens sebagai spesies tersendiri dari famili hominid, yang mencakup kera besar. Proses ini meliputi perkembangan bertahap dari sifat-sifat seperti

Kera (shio)

Shio Kera (Hanzi: ็Œด, Pinyin: Hรณu) adalah shio kesembilan dari kedua belas shio yang ada dalam penanggalan Tionghoa. Orang yang bershio kera dipercaya sebagai

Orang utan

Orang utan (bentuk tidak baku: orangutan) atau mawas adalah kera besar yang berasal dari hutan hujan Indonesia dan Malaysia. Sekarang hewan ini hanya ditemukan