Brāhmaṇas (Devanagari: ब्राह्मणम्) adalah bagian dari naskah-naskah kuno Hindu. Kitab-kitab Brahmana merupakan penjelasan dari keempat kitab Weda dan menjelaskan secara detail tata upacara dan ritual yang sepantasnya dilakukan.

Setiap sakha Weda (tradisi) memiliki Brahmana mereka masing-masing dan tidak diketahui seberapa banyak jumlah naskah-naskah ini selama periode Mahajanapada. Total terdapat 19 kitab Brahmana: dua berkenaan dengan Rigweda, enam berkenaan dengan Yajurweda, sepuluh berkenaan dengan Samaweda dan satu berkenaan dengan Atharwaweda.


Lihat pula

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Ahalya

narasi utama di berbagai pustaka Hindu yang mengisahkannya. Walaupun kitab-kitab Brahmana (abad ke-9 hingga ke-6 SM) merupakan sastra tertua yang membahas

Saptaresi

Samhita tidak menyebutkan nama resi tersebut satu demi satu, meskipun kitab-kitab Brahmana dan Upanisad yang disusun belakangan menyebutkan demikian. Dalam

Kertajaya

itu membuat Kertajaya terus mendapat penolakan dari para kaum Brahmana. kaum Brahmana dan pendeta memilih meninggalkan ibu kota kerajaan sambil menceritakan

Aditya

Mitra Aryaman Baga Daksa Angsa (Angsuman) Sawitar Rawi atau Surya Dalam kitab Brāhmana, jumlah mereka bertambah menjadi dua belas, berhubungan dengan jumlah

Kerajaan Kutai Martapura

komoditas yang besar sehingga mampu mengadakan upacara yang menghadirkan brahmana dari India. Nama Kundungga dimaknai sebagai nama asli orang Indonesia yang

Regweda

Regweda terdiri atas Samhita, Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad. Samhita adalah inti teks, dan terdiri atas 10 kitab (mandala) dengan 1.028 sūkta dalam

Parikesit

Menurut Purana, Parikesit menikah dengan Putri Madrawati. Dalam kitab Shatapatha Brahmana (XIII.5.4), tercatat bahwa Parikesit memiliki empat putra: Janamejaya

Zaman Upanisad

Zaman Weda, Zaman Brahmana, dan Zaman Upanisad. Sumber pokok bagi zaman ini terdapat pada kitab-kitab yang disebut Upanisad. Kitab-kitab Upanisad diperkirakan