Kompleks Sendang Duwur merupakan sebuah situs bersejarah dan religi yang terletak di Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.[1] Situs ini menempati kawasan Bukit Aminuton dan terdiri dari beberapa komponen utama, termasuk sejumlah makam kuno serta Masjid Sendang Duwur yang berdiri di bagian tertinggi dari tiga teras berundak yang membentuk tata ruang kompleks tersebut.[2]
Masjid dan Kompleks Makam Sendang Duwur
suntingMasjid Sendang Duwur dikenal dengan sebutan Masjid Tiban karena menurut tradisi lisan masyarakat setempat, bangunan ini dipercaya muncul secara misterius pada tahun 1561 Masehi tanpa melalui proses pembangunan konvensional. Legenda setempat mengisahkan bahwa masjid ini awalnya berada di Mantingan, Jepara, kemudian dipindahkan secara gaib dalam semalam oleh Sunan Sendang Duwur beserta pengikutnya ke Bukit Aminuton di Lamongan untuk dijadikan pusat penyebaran Islam.[3]
Masjid Sendang Duwur menonjolkan karakter arsitektur unik yang memadukan unsur-unsur budaya Jawa, Hindu, dan Islam secara harmonis. Struktur utama masjid mengikuti bentuk joglo tradisional Jawa dengan empat soko guru sebagai penyangga utama, sementara atapnya yang bertumpang tiga menyerupai meru dalam arsitektur Hindu yang semakin ke atas semakin mengecil dan diakhiri mustaka berbentuk bunga teratai. Elemen Hindu juga tampak pada mihrab dengan ornamen kalamakara dan mimbar berukir motif flora serta teratai khas seni Jepara, sedangkan gapuranya mengadopsi bentuk tugu bentar seperti yang ditemui dalam kompleks keraton Hindu. Ruang ibadah dikelilingi serambi yang memuat candrasengkala beraksara Jawa sebagai penanda tahun pendirian masjid (1561 M), menciptakan sintesis arsitektural yang merefleksikan proses akulturasi budaya yang khas di masa penyebaran Islam di Jawa.[2][4]
Struktur dan Makna Simbolis Kompleks
suntingKompleks makam Sendang Duwur terdiri atas empat halaman yang tidak tersusun dalam satu garis poros, dipisahkan oleh gapura candi bentar dan kori agung yang dihiasi ornamen khas Hindu-Buddha seperti kepala kala dan relief kepala garuda. Gapura bersayap ini secara simbolis merepresentasikan perjalanan arwah menuju Sang Pencipta.
Makam Sunan Sendang Duwur, yang bernama asli Raden Nur Rahman, terletak di halaman ketiga kompleks. Beliau merupakan salah satu wali yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Jawa dan wafat pada tahun 1585 M. Makamnya dihiasi dengan ornamen khas berupa motif sulur, bunga, dan geometris.
Hingga kini, Kompleks Sendang Duwur tetap menjadi pusat kegiatan ziarah dan wisata religi, dengan berbagai ritual tradisional yang masih dilestarikan, termasuk upacara kupatan di Tanjung Kodok yang terkait dengan legenda pemindahan masjid.[5]
Referensi
sunting- ^ Muslichin, Masning S. (25 April 2023). "Mudik ke Lamongan, Berwisata ke Kompleks Sendang Duwur". GoodNews. Diakses tanggal 19 Juni 2025.
- ^ a b Kamila, Alifia. "Wisata Religi Masjid dan Makam Kuno di Kompleks Sendang Duwur Lamongan". detikjatim. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ Prayudha, Erdhi Setya (2024-08-15). "Sendangduwur: Warisan Sejarah dan Religi di Pesisir Lamongan". Kolom Desa. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ Siswayanti, Novita (Juli 2018). "Akulturasi Budaya Arsitektur Masjid Sendang Duwur". Buletin Al-Turas. XXIV (2): 213.
- ^ "Mengunjungi Sendang Duwur Lamongan, Kompleks Makam Kuno Tiga Tingkat dengan Masjid di Puncaknya". merdeka.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-19.