📑 Table of Contents

Perpindahan agama paksa adalah adopsi agama berbeda atau menjadi tak beragama di bawah tekanan. Peninggalan paksa terhadap agama disebut sebagai "perpindahan ke ateisme". Orang-orang yang mengalami demikian dapat akan memeluk agama baru mereka atau menjadi tak beragama, atau masih melanjutkan keyakinan atau praktik aslinya yang dipegang secara diam-diam, meskipun tampil sebagai orang-orang yang berpindah agama. kripto-Yahudi, kripto-Kristen, kripto-Muslim dan kripto-Pagan adalah contoh bersejarahnya.

Kristen

sunting

Agama Kristen merupakan agama minoritas pada sebagian besar masa Kekaisaran Romawi, dan gereja perdana dianiaya pada masa itu. Saat Konstantinus I berpindah ke agama Kristen, agama tersebut menjadi agama dominan di Kekaisaran Romawi. Di bawah masa pemerintahan Konstantinus I, bida'ah-bida'ah Kristen dianiaya; bermula pada akhir abad ke-4, agama-agama pagan kuno juga aktif ditekan. Dalam pandangan beberapa sejarawan, peralihan Konstantinian mengubah agama Kristen dari agama teraniaya menjadi agama yang terbebas dari penganiayaan dan bahkan melakukan penganiayaan.[1] Terdapat sejumlah contoh perpindahan agama paksa sepanjang sejarah Kekristenan: pada Kekaisaran Romawi, Abad Pertengahan, inkuisisi di Spanyol dan Goa dan kampanye-kampanye oleh para penguasa Rusia.

Islam

sunting

Meskipun Islam secara jelas melarang perpindahan agama paksa,[2][3][4] peristiwa-peristiwa perpindahan agama paksa tercatat dalam sejarah Islam. Para sejarawan menyebut peristiwa semacam itu sebagai "hal langka"[5] atau "berpengecualian".[2] Dalam teorinya, toleransi keagamaan Islam hanya ditujukan kepada monoteistik "Ahli Kitab", dan kaum pagan menghadapi pilihan antara pindah ke agama Islam dan menghadapi kematian.[6] Pada praktiknya, rancangan ini dan status dhimma ditujukan kepada agama-agama non-monoteistik dari orang-orang yang ditaklukkan, seperti Hindu.[6]

Pada masa sekarang, perpindahan agama paksa diancam atau dilakukan dalam konteks perang, pemberontakan dan kekerasan antar-komunal. Kasus-kasus yang berdampak pada ribuan orang dikabarkan terjadi pada masa Pemisahan India, Perang Pembebasan Bangladesh, di kawasan-kawasan yang dikuasai oleh ISIS, dan di Pakistan. Tuduhan-tuduhan yang dipersengketakan dari perpindahan agama paksa dari wanita muda menimbulkan kontroversi publik di Mesir dan Inggris.

Referensi

sunting
  1. ^ see e.g. John Coffey, Persecution and Toleration on Protestant England 1558โ€“1689, 2000, p.22
  2. ^ a b Michael Bonner (2008). Jihad in Islamic History. Princeton University Press. hlm.ย 89โ€“90. To begin with, there was no forced conversion, no choice between "Islam and the Sword". Islamic law, following a clear Quranic principle (2:256), prohibited any such things [...] although there have been instances of forced conversion in Islamic history, these have been exceptional.
  3. ^ Winter, T. J., & Williams, J. A. (2002). Understanding Islam and the Muslims: The Muslim Family Islam and World Peace. Louisville, Kentucky: Fons Vitae. p. 82. ISBN 978-1-887752-47-3. Quote: The laws of Muslim warfare forbid any forced conversions, and regard them as invalid if they occur.
  4. ^ A.C. Brown, Jonathan (2014). "3. The Fragile Truth Of Scripture". Misquoting Muhammad: The Challenge and Choices of Interpreting the Prophet's Legacy. Oneworld Publications. hlm.ย 92. ISBNย 978-1-78074-420-9. 'No compulsion in religion' (2:256) was a Qur'anic command revealed in Medina when a child from one of the Muslim families who had been educated in the town's Jewish schools decided to depart with the Jewish tribe being expelled from Medina. His distraught parents were told by God and the Prophet in this verse that they could not compel their son to stay. The verse, however, has been understood over the centuries as a general command that people cannot be forced to convert to Islam.
  5. ^ Waines (2003) "An Introduction to Islam" Cambridge University Press. p. 53
  6. ^ a b Wael B. Hallaq (2009). Sharฤซ'a: Theory, Practice, Transformations. Cambridge University Press (Kindle edition). hlm.ย 327.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Ikhwan

ditaklukkan dan belum banyak penganut Wahhabi. Kaum Wahhabi mendukung konversi paksa terhadap komunitas Syiah di al-Hasa, sementara Ibn Saud lebih bersedia

Sunat paksa

Kristen bukan Yahudi. Sunat paksa telah terjadi dalam berbagai macam situasi, terutama konversi paksa ke Islam. dan sunat paksa suku Teso, Turkana dan Luo

Gereja Katolik dan agama Yahudi

berlanjut selama beberapa abad, dengan orang Yahudi menjadi sasaran konversi paksa, pengusiran, dan pembantaian. Selama Abad Pertengahan, Gereja Katolik

Genosida dalam sejarah

dimaksudkan untuk mencegah kelahiran dalam kelompok; [dan] memindahkan secara paksa anak-anak kelompok tersebut ke kelompok lain." Pembukaan CPPCG menyatakan

Rankisme

Musuh rakyat Pembersihan etnis Kebencian etnis Lelucon etnis Etnosida Konversi paksa Pertunjukan aneh persekusi gay Gendersida Mutilasi genital Genosida

Penindasan

Musuh rakyat Pembersihan etnis Kebencian etnis Lelucon etnis Etnosida Konversi paksa Pertunjukan aneh persekusi gay Gendersida Mutilasi genital Genosida

Hinduisme di Afganistan

orang-orang Afganistan multi-agama. Penganiayaan agama, diskriminasi, dan konversi paksa umat Hindu yang dilakukan oleh Muslim telah menyebabkan umat Hindu Afganistan

Perang Salib

memiliki iman yang berbeda, tetapi ada kaum minoritas yang meyakini bahwa konversi paksa dan pembalasan dapat dibenarkan karena penolakan atas pemerintahan dan