Kuli di Zhenjiang, Tiongkok.

Kuli (bahasa Belanda: koelie, bahasa Inggris: coolie) adalah orang yang bekerja dengan mengandalkan kekuatan fisiknya, seperti untuk membongkar muatan kapal atau mengangkut barang dari stasiun, dengan memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Istilah lain digunakan untuk menyebut kuli sebagai pekerja kasar.[1] Sekitar tahun 1600-an, istilah tersebut muncul ketika orang Eropa menyebut pekerja asli yang dipekerjakan secara kasar di India dan Tiongkok. Menurut Kamus Inggris Oxford, istilah tersebut berasal dari bahasa Hindi quli yang berarti "pelayan yang disewa". Kemudian dipinjam oleh bangsa Portugis yang menggunakannya di India selatan (yang secara kebetulan, kuli dalam bahasa Tamil berarti "menyewa") dan Tiongkok.[2]

Istilah kuli di Indonesia kini lebih dominan merujuk pada pekerja kasar setempat yang dipekerjakan untuk sebuah proyek infrastruktur, bangunan, atau konstruksi. Pada masa kolonial, ratusan ribu orang dari Tiongkok dan Jawa didatangkan ke Sumatra Timur sebagai kuli kontrak di berbagai perkebunan swasta.[3]

Banyak orang yang mengira kalau kuli itu dibayar murah dan lebih rendah daripada mandor tetapi pada faktanya, kuli dibayar lebih banyak dari yang dibayangkan.[butuh rujukan] Besaran rata-rata upah kuli bangunan adalah Rp100.000 hingga Rp150.000 per hari, bahkan bisa lebih dari 1 juta dalam seminggu. Bayaran tersebut bisa bervariasi tergantung dari skala dan jenis proyek yang dikerjakan.[butuh rujukan]

Referensi

sunting
  1. ^ "kuli". KBBI Daring.
  2. ^ "coolie (n.)". Online Etymology Dictionary.
  3. ^ Stoler, Ann Laura (2005). Kapitalisme dan konfrontasi di sabuk perkebunan Sumatra, 1870-1979. Yogyakarta: KARSA. hlm.ย 3. ISBNย 0-472-08219-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Hercules (gangster)

Indonesia yang berasal dari Timor Timur (sekarang Timor Leste). Hercules adalah kuli angkut TNI-AD selama pendudukan Indonesia di Timor Timur. Setelah pindah

Hindia Belanda

pada jari kaki atau ibu jari kuli sampai putus. Perawatan medis untuk kuli jarang dan sering ditujukan untuk menyembuhkan kuli yang dihukum agar mereka dapat

Tan Malaka

menerima tawaran pekerjaan dari Dr. C.W. Janssen untuk mengajar anak-anak kuli perkebunan tembakau, di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Timur. Ia

Kota Medan

Medan. Gelombang pertama berupa kedatangan orang Tionghoa dan Jawa sebagai kuli kontrak perkebunan. Namun, setelah tahun 1880 perusahaan perkebunan berhenti

Salikin Hardjo

tentang pemerintahan kolonial di Suriname dan gaya tentang bagaimana para kuli kontrak Jawa diperlakukan. Di saat yang sama ia mengajukan usulan untuk membawa

Kabupaten Batu Bara

keseluruhan penduduk Kabupaten Batu Bara. Mereka merupakan keturunan kuli-kuli perkebunan yang dibawa para pekebun Eropa pada akhir abad ke-19 dan awal

Sumatera Utara

di Sumatra Timur, pemerintah kolonial Hindia Belanda banyak mendatangkan kuli kontrak yang dipekerjakan di perkebunan. Pendatang tersebut kebanyakan berasal

Sejarah kelapa sawit di Indonesia

Perkembangan pesat perkebunan ini tidak terlepas dari sistem rekrutmen kuli-kuli yang didasari tiga peraturan, yakni pertama koeli Ordonantic (1880, 1884