Emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian cukup besar: pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan menyumbang sekitar 13% hingga 21% dari total emisi gas rumah kaca global.[1] Emisi langsung berasal dari pertanian padi dan peternakan.[2] Emisi tidak langsug juga muncul dari alih fungsi lahan non-pertanian, seperti hutan, menjadi lahan pertanian, yang sangat berpengaruh.[3][4] Untuk emisi langsung, dinitrogen oksida (N2O) dan metana (CH4) menyumbang lebih dari separuh total emisi gas rumah kaca dari pertanian.[5] Tinjauan pada tahun 2023 menekankan bahwa emisi dari tanah pertanian dipengaruhi oleh jenis tanah, iklim, dan praktik pengelolaan. Studi ini juga menyoroti beberapa strategi pengurangan emisi, seperti olah tanah konservasi, pertanian presisi, peningkatan efisiensi penggunaan air, serta penggunaan biochar, yang tidak hanya menekan emisi tetapi juga meningkatkan simpanan karbon dalam tanah.[6]

Selain itu, konsumsi bahan bakar fosil untuk transportasi dan produksi pupuk juga berkontribusi. Misalnya, produksi pupuk juga berkontribusi. Misalnya, produksi dan penggunaan pupuk nitrogen menyumbang sekitar 5% dari total emisi gas rumah kaca global.[7] Peternakan merupakan salah satu sumber utama emisi gas rumah kaca.[8]

Sistem pencernaan hewan ternak dapat dibagi menjadi dua kategori: monogastrik (lambung tunggal) dan ruminan (memamah biak). Sapi potong dan sapi perah (ruminan) menghasilkan emisi gas rumah kaca yang tinggi. Sebaliknya, ternak monogastrik seperti babi dan unggas menghasilkan emisi lebih rendah. Konsumsi produk dari ternak monogastrik cenderung menimbulkan lebih sedikit emisi, karena efiisiensi konversi pakan mereka lebih tinggi dan mereka lebih banyak menghasilkan metana.[9]

Ada banyak strategi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari pertanian (ini merupakan salah satu tujuan pertanian cerdas iklim). Upaya pengurangan dapat dibagi menjadi empat kategori: perubahan sisi permintaan, perlindungan ekosistem, pengurangan di tingkat petani, dan pengurangan di rantai pasok. Dari sisi permintaan, cara efektif adalah dengan mengurangi limbah makanan. Perubahan pola makan ke arah yang lebih berbasis nabati dan lebih sedikit mengandalkan produk hewani juga sangat berpengaruh.[10] Ini bisa mencakup penggunaan susu pengganti atau daging alternatif. Selain itu, ada berbagai metode yang sedang diteliti untuk mengurangi emisi dari peternakan, seperti: seleksi genetik, memasukkan bakteri pemakan metana ke dalam rumen, pengembangan vaksin, pakan khusus, modifikasi pola makan, dan manajemen penggembalaan.[11]

Perkiraan global

sunting

Total emisi dari sistem pangan pada tahun 2022 mencapai 16,2 miliar ton setara karbondioksida (Gt Co2eq) yang dilepaskan ke atmosfer. Angka ini meningkat sebesar 10% atau sekitar 1,5 Gt CO2eq dibandingkan dengan tahun 2000.[12]

Pada tahun 2020, diperkirakan bahwa sistem pangan secara keseluruhan menyumbang 37ย % dari total emisi gas rumah kaca, dan angka ini diproyeksikan akan meningkat 30-40% pada tahun 2050 karena pertumbuhan populsi dan perubahan pola makan.

Antara tahun 2010 dan 2019, sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan menyumbang sekitar 13% hingga 21% dari emisi gas rumah kaca global. Gas dinitrogen oksida (N2O) dan metana (CH4) menyumbang lebih dari setengah total emisi gas rumah kaca dari pertanian.

Referensi

sunting
  1. ^ Nabuurs, G-J.; Mrabet, R.; Abu Hatab, A.; Bustamante, M.; et al. "Chapter 7: Agriculture, Forestry and Other Land Uses (AFOLU)" (PDF). Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change. hal. 750. doi:10.1017/9781009157926.009..
  2. ^ Steinfeld H, Gerber P, Wassenaar T, Castel V, Rosales M, de Haan C (2006). Livestock's long shadow: environmental issues and options (PDF). Food and Agriculture Organization of the UN. ISBN 978-92-5-105571-7. Diarsipkan dari web aslinya (PDF) pada 25 Juni 2008.
  3. ^ Section 4.2: Agriculture's current contribution to greenhouse gas emissions, in: HLPE (June 2012). Food security and climate change. A report by the High Level Panel of Experts (HLPE) on Food Security and Nutrition of the Committee on World Food Security. Roma, Italia: Food and Agriculture Organization of the United Nations. hal. 67โ€“69. Diarsipkan dari web aslinya pada 12 Desember 2014.
  4. ^ Sarkodie, Samuel A.; Ntiamoah, Evans B.; Li, Dongmei (2019). "Panel heterogeneous distribution analysis of trade and modernized agriculture on CO2 emissions: The role of renewable and fossil fuel energy consumption". Natural Resources Forum. 43 (3): 135โ€“153. doi:10.1111/1477-8947.12183. ISSN 1477-8947.
  5. ^ FAO (2020). Emissions due to agriculture. Global, regional and country trends 2000โ€“2018 (PDF) (Report). FAOSTAT Analytical Brief Series. Vol. 18. Rome. hal. 2. ISSN 2709-0078.
  6. ^ Kumar, R.; Singh, R.; Sharma, R. (2023). "Greenhouse gases emission from agricultural soil: A review". Environmental Advances. 13: 100040. doi:10.1016/j.envadv.2023.100040 (tidak aktif lagi pada 1 Juli 2025).
  7. ^ "Carbon emissions from fertilizers could be reduced by as much as 80% by 2050". Science Daily. University of Cambridge. DIakses kembali pada 17 Februari 2023.
  8. ^ "How livestock farming affects the environment". www.downtoearth.org.in. Diakses kembali pada10 Februari 2022.
  9. ^ Friel, Sharon; Dangour, Alan D.; Garnett, Tara; et al. (2009). "Public health benefits of strategies to reduce greenhouse-gas emissions: food and agriculture". The Lancet. 374 (9706): 2016โ€“2025. doi:10.1016/S0140-6736(09)61753-0. PMID 19942280. S2CID 6318195.
  10. ^ United Nations Environment Programme (2022). Emissions Gap Report 2022: The Closing Window โ€” Climate crisis calls for rapid transformation of societies. Nairobi.
  11. ^ Boadi, D (2004). "Mitigation strategies to reduce enteric methane emissions from dairy cows: Update review". Can. J. Anim. Sci. 84 (3): 319โ€“335. doi:10.4141/a03-109.
  12. ^ FAO (2024). World Food and Agriculture โ€“ Statistical Yearbook 2024. FAO. doi:10.4060/cd2971en. ISBN 978-92-5-139255-3.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Pandemi COVID-19

features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China". Lancet. 395 (10223): 497โ€“506. doi:10.1016/S0140-6736(20)30183-5. PMIDย 31986264

Paus Leo XIII

Diakses tanggal 21 Februari 2022. "The Illness and Death of the Pope". The Lancet. 162 (4169): 253โ€“255. 25 Juli 1903. doi:10.1016/S0140-6736(01)50670-4. Diakses

Strok

strokes". Donnan GA, Fisher M, Macleod M, Davis SM (May 2008). "Stroke". Lancet. 371 (9624): 1612โ€“23. doi:10.1016/S0140-6736(08)60694-7. PMIDย 18468545.

Sindrom defisiensi imun dapatan

starting potent antiretroviral therapy: analysis of prospective studies". Lancet. 362 (9385): 679โ€“686. PMIDย 12957089. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors

Tidur

M, Schultes B (January 2015). "The metabolic burden of sleep loss". The Lancet. Diabetes & Endocrinology. 3 (1): 52โ€“62. doi:10.1016/S2213-8587(14)70012-9

HIV/AIDS di Tiongkok

epidemic". The Lancet Public Health. 3 (7): e311. doi:10.1016/S2468-2667(18)30098-7. PMIDย 29976325. Gill B and Okie S. China and HIV โ€” A Window of Opportunity

Suku Fore

centuryโ€”an acquired human prion disease with very long incubation periods". The Lancet. 367 (9528): 2068โ€“074. doi:10.1016/s0140-6736(06)68930-7. PMIDย 16798390

Siklosporin

"Cyclosporin A in patients receiving renal allografts from cadaver donors". The Lancet. 2 (8104โ€“5): 1323โ€“7. doi:10.1016/S0140-6736(78)91970-0. PMIDย 82836. S2CIDย 10731038