📑 Table of Contents

Hipotesis periode kritis[1] adalah teori dalam bidang linguistik dan pemerolehan bahasa kedua yang menyatakan bahwa seseorang hanya dapat mencapai kefasihan seperti penutur asli[2] jika belajar bahasa sebelum mencapai usia tertentu. Hipotesis ini menjadi subjek perdebatan panjang dalam linguistik[3] mengenai sejauh mana kemampuan memperoleh bahasa berkaitan secara biologis dengan tahapan perkembangan otak.[4] Gagasan ini pertama kali dikemukakan oleh ahli saraf Montreal, Wilder Penfield, dan Lamar Roberts dalam buku mereka tahun 1959 berjudul Speech and Brain Mechanisms,[5] lalu dipopulerkan oleh Eric Lenneberg pada tahun 1967 melalui buku Biological Foundations of Language.[6]

Menurut hipotesis ini, beberapa tahun pertama kehidupan merupakan masa yang sangat penting bagi seseorang untuk memperoleh bahasa pertama jika diberikan rangsangan yang memadai. Pada masa ini, otak masih sangat fleksibel, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan rangsangan bahasa. Jika seseorang tidak mendapatkan masukan bahasa pada masa tersebut, ia tidak akan bisa menguasai bahasa dengan sempurna di kemudian hari.[6] Para ahli masih memperdebatkan batas usia periode kritis untuk pemerolehan bahasa kedua, dengan perkiraan antara usia 2 hingga 13 tahun.[7]

Konsep ini berasal dari ilmu biologi, yang juga mengenal istilah โ€œperiode kritisโ€ sebagai masa tertentu ketika suatu organisme harus mengembangkan kemampuan tertentu, atau kemampuan itu tidak akan berkembang sama sekali. Contohnya, hewan yang tidak menerima rangsangan visual pada waktu tertentu bisa kehilangan kemampuan penglihatan stereopsis secara permanen.

Penelitian awal mencoba menjelaskan hipotesis ini melalui lateralisasi otakโ€”proses pembagian fungsi antara belahan kanan dan kiri otak.[8] Namun, teori ini kemudian diragukan karena lateralisasi tidak selalu meningkat seiring bertambahnya usia, dan tidak terbukti memiliki hubungan langsung dengan kemampuan belajar bahasa.

Versi yang lebih modern dari hipotesis ini berpendapat bahwa periode kritis terkait dengan cara otak manusia berkembang setelah lahir serta pengaruh lingkungan sosial dan bahasa di sekitarnya.[9] Berdasarkan penelitian sistem penglihatan,[10] para ilmuwan berpendapat bahwa jaringan saraf untuk bahasa terbentuk dari sinaps-sinaps yang aktif ketika seseorang terpapar bahasa sejak dini. Manusia memiliki kemampuan berbahasa yang unik karena ukuran dan kerumitan otaknya yang besar, serta lamanya masa perkembangan setelah lahir, yang memberi waktu bagi lingkungan untuk membentuk sirkuit otak yang mendukung kemampuan berbahasa.[9]

Referensi

sunting
  1. ^ Abutalebi, Jubin; Clahsen, Harald (2018). "Critical periods for language acquisition: New insights with particular reference to bilingualism research". Bilingualism: Language and Cognition (dalam bahasa Inggris). 21 (5): 883โ€“885. doi:10.1017/S1366728918001025. ISSNย 1366-7289 โ€“ via Cambridge Core.
  2. ^ Han, ZhaoHong; Baohan, Amy (2023-11-01). "Age and attainment in foreign language learning: The critical period account stands". Brain and Language. 246 105343. doi:10.1016/j.bandl.2023.105343. ISSNย 0093-934X.
  3. ^ Ramscar & Gitcho 2007.
  4. ^ Snow, Catherine E.; Hoefnagel-Hohle, Marian (1978). "The Critical Period for Language Acquisition: Evidence from Second Language Learning". Child Development. 49 (4): 1114. doi:10.2307/1128751. JSTORย 1128751.
  5. ^ Penfield & Roberts 1959.
  6. ^ a b Lenneberg 1967.
  7. ^ Paradis 1999, hlm.ย 59โ€“60; Loewen & Reinders 2011.
  8. ^ Penfield 1965.
  9. ^ a b Walker LC (July 1981). "The Ontogeny of the Neural Substrate for Language". Journal of Human Evolution. 10 (5): 429โ€“441. Bibcode:1981JHumE..10..429W. doi:10.1016/s0047-2484(81)80007-3. PMCย 8923642. PMIDย 35296125.
  10. ^ Wiesel TN (October 1982). "Postnatal development of the visual cortex and the influence of environment". Nature. 299 (5884): 583โ€“591. Bibcode:1982Natur.299..583W. doi:10.1038/299583a0. PMIDย 6811951. S2CIDย 38776857.

Bibliografi

sunting

Bacaan tambahan

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Elizabeth Bates

resources for processing language and environmental sounds: evidence from aphasia". Brain: A Journal of Neurology. 126 (4): 928โ€“45. doi:10.1093/brain/awg082

Bahasa hewan

linguists. link Deacon, T. W. (1997) The Symbolic Species: The Co-evolution of Language and the Human Brain. Allen Lane: The Penguin Press, ISBN 0-393-03838-6

Teori pikiran

(2005). "Neural basis of eye gaze processing deficits in autism". Brain. 128 (Pt 5): 1038โ€“1048. doi:10.1093/brain/awh404. PMIDย 15758039. Lombardo MV

Produksi ujaran

Houk, James C.; Bitan, Tali (2007-02). "The role of the basal ganglia and cerebellum in language processing". Brain Research (dalam bahasa Inggris). 1133:

Memori jangka pendek

for Memory: The Brain, the Mind, and the Past. ISBN 0-465-07552-5. Tarnow, Eugen (2005) The Short Term Memory Structure In State-Of-The Art Recall/Recognition

Rasisme

level but also in the brain. There is no single brain area involved in racism. Instead, a complex network of brain regions involved in social categorization

Manusia

ISBNย 978-3-319-65093-7. Damasio AR (May 1998). "Emotion in the perspective of an integrated nervous system". Brain Research. Brain Research Reviews. 26 (2โ€“3): 83โ€“6. doi:10

Jaringan saraf konvolusional

(convolution in time), dan didemonstrasikan untuk pengenalan suara. Attention (machine learning) Convolution Deep learning Natural-language processing Neocognitron