Upacara pembukaan PON II di Stadion Ikada

Lapangan Ikada merupakan sebuah lapangan di bagian pojok timur Lapangan Merdeka (atau pada saat ini disebut Medan Merdeka). Jauh sebelum kawasan Senayan dibangun, Lapangan Ikada yang sebelumnya dikenal sebagai Lapangan Gambir, sudah menjadi pusat kegiatan olahraga dan budaya bagi masyarakat Jakarta hingga saat ini. Nama Lapangan Ikada baru muncul pada masa pendudukan Jepang tahun 1942.

Stadion Ikada dulunya berdiri di atas lapangan ini, yang didesain oleh pionir arsitek modern Indonesia Liem Bwan Tjie. Diresmikan pada tahun 1951, Stadion Ikada ditutup pada tahun 1962 dan kemudian dirobohkan pada tahun 1963 untuk ditempati Monumen Nasional.

Ikada sendiri merupakan singkatan dari Ikatan Atletik Djakarta. Di sekitar kawasan tersebut terdapat sejumlah lapangan sepak bola milik klub sepak bola era 1940-an dan 1950-an seperti Hercules, VIOS (Voetbalbond Indische Omstreken Sport) dan BVC, yang merupakan kesebelasan papan atas kompetisi BVO (Batavia Voetbal Organisatie). Setelah kemerdekaan, kesebelasan tersebut digantikan oleh Persija Jakarta. Selain lapangan sepak bola, di sekitarnya terdapat pula lapangan hoki dan lapangan pacuan kuda untuk militer kavaleri.

Sebelum Stadion Gelora Bung Karno selesai dibangun untuk menyambut Asian Games IV tahun 1962, Ikada merupakan tempat latihan dan pertandingan PSSI. Pada acara Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-2 tahun 1952, dibangun Stadion Ikada di sebelah selatan lapangan ini.

Lapangan ini oleh Gubernur-Jenderal Herman Williem Daendels (1818) mula-mula dinamakan Champ de Mars, karena bertepatan penaklukan Belanda oleh Napoleon Bonaparte. Ketika Belanda berhasil merebut kembali negerinya dari Prancis, namanya diubah menjadi Koningsplein (Lapangan Raja). Sementara rakyat lebih senang menyebutnya Lapangan Gambir, yang kini diabadikan untuk nama stasiun kereta api di dekatnya.[1]

Sempat Menjadi Pilihan Tempat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945

sunting

Lapangan Ikada merupakan tempat bersejarah ketika Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta mengumumkan bahwa tempat ini akan digunakan untuk upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Jepang pada 17 Agustus 1945.[2]

Detik-detik menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia penuh ketegangan, dengan golongan tua dan muda bekerja bersama menyusun naskah Proklamasi hingga larut malam.

Meskipun naskah telah disiapkan dengan matang, rencana awal untuk membacakan teks tersebut di Lapangan Ikada terpaksa dibatalkan karena alasan keamanan. Hal ini terjadi setelah pihak Jepang mengetahui adanya rencana pengumuman kemerdekaan di lokasi tersebut, sehingga situasi menjadi terlalu riskan untuk dilanjutkan sesuai rencana. Perubahan tempat ini pun menjadi momen penting dalam dinamika menjelang Proklamasi, memperlihatkan betapa tegang dan rapatnya pengawasan pada masa transisi kekuasaan tersebut.

Sebagai gantinya, Proklamasi Kemerdekaan diumumkan secara mendadak di halaman rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56, demi alasan keamanan karena informasi telah tersebar kepada pihak Jepang.

Meski demikian, tidak semua pejuang kemerdekaan dapat hadir pada momen bersejarah tersebut, termasuk Soekarni, Chairul Saleh, Soebardjo, dan B.M. Diah.

Catatan

sunting

VIOS mempunyai lapangan sendiri bernama Viosveld (Lapangan Vios), kini Stadion Menteng. Sekarang lapangan ini terletak di jalan HOS Cokroaminoto No.87, Jakarta.

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "GAMBIR". Diakses tanggal 2022-12-27.
  2. ^ "Dari Proklamasi Sampai Rapat Raksasa" (PDF). Dinas Kebudayaan Jakarta. 2024-04-15. Diakses tanggal 2024-04-16.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Rapat Raksasa Lapangan Ikada

Rapat Raksasa Lapangan Ikada terjadi pada 19 September 1945, saat Soekarno memberikan pidato singkat di hadapan ribuan rakyat di Lapangan Ikada dalam rangka

Peristiwa Rengasdengklok

lokasi pilihan untuk pembacaan teks proklamasi, yaitu Lapangan IKADA (yang sekarang telah menjadi Lapangan Monas) atau rumah Bung Karno di Jl. Pegangsaan Timur

Derbi Indonesia

bertumbuh, persaingan antara klub semakin panas dan terjadi di luar dan dalam lapangan juga suporter dan tim mereka, ketika bertemu pertandingan tersebut akan

Persib Bandung

juara ketika pada pertandingan terakhir dikalahkan PSM Makassar 1-2 di Lapangan Ikada, Jakarta. Pada dekade ini, Persib mengalami periode-periode penting

Medan Merdeka

pendudukan Jepang pada 1942. Pada masa Penjajahan Jepang, lapangan ini diganti namanya menjadi Lapangan Ikada (singkatan dari "Ikatan Atletik Djakarta) dalam bahasa

Grup 1/Para Komando

Kolonel Inf Moeng Parhadimulyo yang ditandai sebuah upacara penting di Lapangan IKADA (sekarang Monas). Bertindak selaku Inspektur Upacara Letjen TNI Ahmad

Latief Hendraningrat

Lapangan Ikada, tentara Jepang sudah siap dengan senjata lengkap. Rupanya deklarasi Kemerdekaan Republik Indonesia bukan dilakukan di Lapangan Ikada,

Soekarno

Soekarno berpidato di hadapan satu juta orang di Lapangan Ikada Jakarta (sekarang bagian dari Lapangan Merdeka) untuk memperingati satu bulan kemerdekaan