Tuanku Lelo
Nama asliIdris Nasution
Lahir1785
Meninggal1833
Batunadua, Kota Padangsidimpuan
PengabdianKaum Padri
PangkatTuanku
Perang/pertempuranPerang Padri di Tanah Batak
HubunganMangaraja Onggang Parlindungan (cicit)

Tuanku Lelo (1785–1833) adalah seorang tokoh militer dan pemimpin pasukan Kaum Padri yang beroperasi di wilayah Tapanuli Selatan selama Perang Padri. Ia dikenal sebagai salah satu perpanjangan tangan pasukan Padri dari Minangkabau ke Tanah Batak.

Dalam beberapa literatur, khususnya karya Mangaraja Onggang Parlindungan, ia diidentifikasi dengan nama asli Idris Nasution. Namun, identitas ini menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.[1]

Riwayat Hidup

sunting

Latar Belakang

sunting

Menurut klaim keluarga yang ditulis M.O. Parlindungan, Idris Nasution lahir sekitar tahun 1785 dari keluarga klan Nasution di Mandailing. Ayahnya, Haji Hassan Nasution (Tuanku Kadi Malikul Adil), disebut memiliki peran strategis di Benteng Kamang dan kemudian di Benteng Bonjol.[1]

Perang Padri

sunting

Tuanku Lelo aktif dalam ekspansi gerakan Padri ke utara (Tanah Batak) pada periode 1816–1833. Gerakan ini bertujuan untuk menyebarkan pemahaman Islam mazhab Hambali (yang dianut kaum Padri saat itu) serta memperluas pengaruh politik Bonjol.

Kematian

sunting

Tuanku Lelo tewas terbunuh pada tahun 1833 di Batunadua, Kota Padangsidimpuan. Ia dibunuh oleh Halimah Rangkuti. Peristiwa ini sering dianggap sebagai penanda berakhirnya dominasi kekuasaan Bonjol di Tanah Batak.[1]

Identitas dan Kontroversi

sunting

Identitas asli dan riwayat hidup Tuanku Lelo menjadi subjek perdebatan di kalangan sejarawan.

Versi Mangaraja Onggang Parlindungan

sunting

Dalam buku Tuanku Rao (1964), Mangaraja Onggang Parlindungan menyebut bahwa nama asli Tuanku Lelo adalah **Idris Nasution**. Ia digambarkan sebagai sosok yang kontroversial, memiliki latar belakang keluarga Nasution dari Mandailing, dan melakukan tindakan-tindakan kekerasan di luar batas kewajaran perang.[1]

Bantahan Hamka

sunting

Ulama dan sejarawan Hamka dalam bukunya Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao (1974) membantah keras narasi Parlindungan. Hamka menyatakan bahwa sosok "Idris Nasution" dengan segala detail kehidupan pribadinya kemungkinan besar adalah tokoh fiktif atau distorsi sejarah yang dibuat oleh Parlindungan. Menurut Hamka, meskipun Tuanku Lelo benar ada sebagai panglima perang Padri, riwayat hidupnya tidak seperti yang digambarkan dalam buku Tuanku Rao.[2]

Catatan Sejarah Umum

sunting

Sejarawan Christine Dobbin mencatat Tuanku Lelo sebagai salah satu pemimpin militer Padri yang beroperasi di wilayah Tapanuli Selatan bersama Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai. Ia dikenal sebagai pendiri benteng pertahanan di tepian Sungai Batang Ayumi, yang kemudian berkembang menjadi kota Padangsidimpuan.[3]

Silsilah

sunting

Tuanku Lelo merupakan leluhur dari penulis sejarah Mangaraja Onggang Parlindungan. Berikut adalah bagan silsilah berdasarkan klaim keluarga dalam buku Tuanku Rao:[1]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e Parlindungan, Ir. Mangaraja Onggang (2007). Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao terror agama Islam mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833. Yogyakarta: Lembaga Kajian Islam dan Studi (LKiS). hlm. 357. ISBN 9789799785336. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ Hamka (1974). Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao. Jakarta: Bulan Bintang. OCLC 6436557.
  3. ^ Dobbin, Christine (1983). Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 1784-1847. Curzon Press. ISBN 0700701559.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Panglima Raja Lelo

Panglima Raja Lelo atau dalam dialek setempat dikenal juga sebagai Panglimo Rajo Lelo adalah salah satu pejuang yang berasal dari Aceh Selatan. Nenek

Taman Hutan Raya Raja Lelo

Taman Hutan Raya Raja Lelo, atau disebut juga dengan nama Pungguk Menakat, adalah sebuah taman hutan raya yang terdapat di Provinsi Bengkulu, Indonesia

Epyardi Asda

Epyardi Asda gelar Datuak Sutan Majo Lelo (lahir 11 Maret 1962) adalah pengusaha dan politikus PAN yang menjabat sebagai Bupati Solok periode 2021–2024

Kabupaten Bangka

dinamakan Bangka Syu Sangikai. Yang diketuai oleh Masyarif Datuk Bendaharo Lelo. Setelah Jepang ditaklukkan oleh Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 kemudian

Kota Padangsidimpuan

salah satu Pimpinan Pasukan Perang Paderi yang Dipimpin Oleh Tuanku Imam Lelo Membangun kawasan Benteng yang kelak menjadi cikal Berdirinya Kota ini. Pada

Suku Alas

Selian. Di Tanah Alas Raja Lambing mempunyai tiga orang anak yaitu Raja Lelo (Raje Lele) keturunan dan pengikutnya ada di Ngkeran, kemudian Raja Adeh

Jambi

dan terus menuju ke Debai. Pasukan kita di Kumun dipimpin Sersan Mayor Lelo mundur ke Pulau Tengah. Sewaktu patroli Belanda menuju Debai, di tengah jalan

Saluang

yang terkenal di antaranya adalah Zaidir SK, Marulis Sutan Rajo Ameh, Yusri Lelo Sati, Jamaluddin Sutan Majolelo, Buyuang Kamang, Mawardi HS, R. Caniago (Roni