Lenisi adalah gejala yang dikenal dalam linguistik berupa fonem yang diartikulasikan secara "keras" di bagian depan mulut, misalkan bibir, berubah menjadi lembut. Fonem ini lalu diartikulasikan di bagian kerongkongan.

Salah satu contoh lenisi adalah dari perubahan bunyi b -> g, seperti yang terjadi di bahasa Bali dan Jawa, misalnya kata bahasa Sanskerta bhūmī yang diserap bahasa Bali berubah menjadi gumi, kata bahasa Portugis bandeira yang diserap bahasa Jawa berubah menjadi gendhéra, dan kata bahasa Melayu "buang" dalam bahasa Jawa berbentuk guwang.


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

V

[v] muncul secara alami dalam bahasa Irlandia saat bunyi /b/ mengalami lenisi atau "dilembutkan", ditulis menurut ortografi dengan ‹bh›, sehingga bhí

Bahasa Irlandia

. Lenisi (séimhiú) ialah perubahan dalam suara yang terjadi di awal kata yang disebabkan oleh kata yang mendahuluinya, seperti kata ganti. Lenisi ditandai

Daftar istilah linguistik

interminus - koreksio labial – labiodental – laminal – laringal – lateral – lenisi – leksem – leksikon – leveling – likuida – lokativus - litotes maskulinum

Metatesis (linguistik)

Perubahan suara dan alternasi Metatesa Metathesa kuantitatif Lenisi Gradiasi konsonan Penyuaraan dan penirsuaraan konsonan Asibilasi Spirantisasi Vokalisasi-L

Rumpun bahasa Gallo-Italik

yang pertama adalah hilangnya semua vokal terakhir selain -a, terjadinya lenisi, pengembangan /kt/ asli menjadi /jt/ (dan sering kali kemudian menjadi /tʃ/)

Tata bahasa Finlandia

kata-kata berakhiran -s menyebabkan gradasi konsonan seperti vokalisasi atau lenisi. Sebagai contoh, kuningas (raja) mempunyai bentuk genitif kuningkaan, tetapi

Alfabet Manda

abjad ini digunakan untuk mewakili bunyi asing (terlepas dari afrikat, lenisi, atau bunyi lainnya): Templat:Script/Mandaic /g/ menjadi Templat:Script/Mandaic

Liaison (Bahasa Prancis)

Perubahan suara dan alternasi Metatesa Metathesa kuantitatif Lenisi Gradiasi konsonan Penyuaraan dan penirsuaraan konsonan Asibilasi Spirantisasi Vokalisasi-L