Lotus Biru
Informasi Umum
Judul Asli(Prancis) Le Lotus Bleu
Terbit pertama1936
Album ke5
LokasiIndia dan Cina
Halaman64 (Berwarna)
Informasi dari Terbitan Gramedia
Terbit pertamaApril, 2008
Gramedia CodeGM 310.08.005
Alih bahasaDonna Widjajanto
Urutan ceritanya
SebelumCerutu Sang Firaun
SesudahSi Kuping Belah

Lotus Biru (bahasa Prancis: Le Lotus bleu) adalah volume kelima seri komik Petualangan Tintin karya kartunis Belgia Hergé. Komik ini dipesan oleh surat kabar Belgia Le Vingtième Siècle untuk sisipan anak-anak Le Petit Vingtième, dimuat berseri dari Agustus 1934 hingga Oktober 1935, lalu diterbitkan sebagai buku oleh Casterman pada 1936. Melanjutkan kisah Cerutu Sang Firaun, cerita ini mengikuti reporter muda Tintin dan anjingnya Milo yang diundang ke Tiongkok di tengah invasi Jepang tahun 1931, tempat Tintin membongkar intrik mata-mata Jepang dan jaringan penyelundupan narkoba.

Dalam karya ini, Hergé menonjolkan akurasi dan riset saat menggambarkan budaya asing. Ia sangat dipengaruhi sahabatnya, Zhang Chongren, seorang mahasiswa Tiongkok di Belgia. Cerita ini menyindir kesalahpahaman Eropa tentang Tiongkok sekaligus mengkritik tindakan penjajah Jepang. Lotus Biru sukses secara komersial di Belgia dan kemudian dimuat di Prancis serta Swiss; bahkan pemimpin Tiongkok Chiang Kai-shek mengundang Hergé berkunjung ke Tiongkok. Seri berlanjut dengan Si Kuping Belah dan menjadi bagian penting tradisi komik Prancis–Belgia. Pada 1946, komik ini digambar ulang dan diwarnai dengan beberapa perubahan kecil alur. Kisah ini memperkenalkan tokoh berulang J.M. Dawson dan Zhang Zhong Ren, diadaptasi menjadi episode animasi tahun 1991, dan mendapat ulasan kritis positif sebagai salah satu karya terbaik Hergé.

Alur

sunting

Saat menginap di istana Maharaja Gaipajama di India, Tintin didatangi tamu dari Shanghai, Tiongkok. Tamu itu menyebut nama Mitsuhirato, pebisnis Jepang di Shanghai, tetapi sebelum menyelesaikan pesannya ia diserang panah beracun Rajaijah, "racun gila". Tintin dan anjing fox terrier-nya, Milo, pergi ke Shanghai untuk menemui Mitsuhirato, yang justru memperingatkan bahwa sang Maharaja terancam dan menyarankan mereka kembali ke India. Setelah selamat dari beberapa upaya pembunuhan, Tintin hendak pulang dengan kapal, namun diculik dan dibawa kembali ke Tiongkok. Para penculik adalah anggota Anak Naga, perkumpulan rahasia anti-opium. Pemimpinnya, Wang Chen-Yee, menjelaskan bahwa Mitsuhirato adalah mata-mata Jepang sekaligus penyelundup opium, lalu mengajak Tintin bekerja sama. Tintin menyelidiki Mitsuhirato di sarang opium Lotus Biru dan menyaksikan sabotase rel kereta (tindakan yang didasarkan pada Insiden Mukden) oleh Mitsuhirato—peristiwa yang dijadikan alasan pemerintah Jepang untuk menginvasi Tiongkok utara dan menguasai Shanghai.[1]

Tintin ditangkap Mitsuhirato dan hendak diracuni Rajaijah, tetapi racun ditukar dengan air berwarna sehingga Tintin bisa berpura-pura gila dan melarikan diri. Mitsuhirato kemudian mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Tintin. Tintin mencari Profesor Fang Hsi-ying, ahli racun yang diharapkan menemukan penawar Rajaijah, namun Fang telah diculik. J.M. Dawson, kepala polisi korup di Permukiman Internasional Shanghai, menangkap Tintin dan menyerahkannya ke Jepang, yang menjatuhkan hukuman mati sebelum Tintin diselamatkan Wang.[2]

Dalam pencarian Fang ke Hukou, Tintin menyelamatkan bocah yatim piatu Zhang Zhong Ren dari banjir. Mereka menyadari pencarian itu jebakan. Sementara itu, detektif Dupont dan Dupond berulang kali gagal menangkap Tintin. Kembali ke Shanghai, Tintin sengaja tertangkap dan mengetahui bahwa Mitsuhirato bekerja sama dengan Rastapopoulos, pemimpin jaringan penyelundupan opium internasional yang telah diburu Tintin di berbagai negara. Sesuai rencana Tintin, Zhang dan kelompokk Anak Naga menyelamatkan Tintin dan Fang; Rastapopoulos ditangkap, sementara Mitsuhirato kemudian melakukan seppuku. Laporan Tintin memicu tuduhan terhadap Jepang, yang kemudian keluar dari Liga Bangsa-Bangsa. Fang menemukan penawar Rajaijah, Wang mengadopsi Zhang, dan Tintin serta Milo kembali ke Eropa.[3]

Referensi

sunting
  1. ^ Hergé (1983). The Blue Lotus. Leslie Lonsdale-Cooper and Michael Turner (translators). London: Egmont. hlm. 1–22. ISBN 978-1-4052-0616-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ Hergé (1983). The Blue Lotus. Leslie Lonsdale-Cooper and Michael Turner (translators). London: Egmont. hlm. 23–41. ISBN 978-1-4052-0616-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ Hergé (1983). The Blue Lotus. Leslie Lonsdale-Cooper and Michael Turner (translators). London: Egmont. hlm. 42–62. ISBN 978-1-4052-0616-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Pradnyaparamita dari Jawa

melambangkan pemutaran roda dharma). Lengan kirinya mengempit sebatang utpala (lotus biru), yang di atasnya bersemayam atribut; keropak Sutra Prajnaparamita. Kepala

Petualangan Tintin

Hergé dan Zhang, saling bahu membahu dalam menciptakan serial berikutnya Lotus Biru, di mana para kritikus memujinya sebagai masterpiece-nya yang pertama

Hergé

kejadian-kejadian sejarah dan politik pada abad ke-20. Sebagai contoh, cerita Lotus Biru, terinspirasi oleh Insiden Mukden yang mengakibatkan perang antara Cina

Dupont dan Dupond

cerita ini. Di dalam cerita-cerita selanjutnya seperti dalam episode Lotus Biru dan Pulau Hitam, mereka menghabiskan waktunya mengejar Tintin atas suatu

Zhang Chongren

akan berakhir, Hergé menyatakan bahwa petualangan Tintin berikutnya (Lotus Biru) akan membawa tokoh tersebut ke China. Romo Gosset, rohaniwan Katolik

Allan Thompson

muncul dalam setiap kisah yang juga menampilkan Rastapopoulos, kecuali di Lotus Biru, di mana ia belum diperkenalkan dalam serial komik ini (walaupun sebenarnya

Zhang Chong-Ren

daerah timur China. Hasil dari pertemuan kedua orang ini adalah buku Lotus Biru yang dinilai sebagai titik penting dalam perjalanan perkembangan karakter

Ideologi Tintin

yang dominan di Belgia saat itu. Banyak hal mulai berubah dengan album Lotus Biru (pertemuannya dengan Zhang Chongren kemungkinan mengubah pendapatnya):