Madduppa keteng atau Maddupa keteng (har: menyambut bulan) adalah sebuah tradisi masyarakat Bugis dalam menyambut bulan Ramadan. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas datangnya bulan suci Ramadan dan melibatkan berbagai kegiatan keagamaan serta sosial, seperti dengan mengadakan santap sahur pertama bersama dengan keluarga dan orang-orang terdekat.

Asal Usul dan Makna

sunting

Secara etimologis, ''madduppa'' dalam bahasa Bugis berarti menyambut atau menjemput, sementara ''ketรฉng'' berarti bulan sabit atau hilal yang baru muncul di ufuk barat. Dengan demikian, ''Madduppa Keteng'' memiliki makna menyambut datangnya bulan baru, dalam hal ini bulan Ramadan[1]

Waktu pelaksanaan

sunting

Tradisi madduppa keteng biasanya dilakukan sejak akhir bulan Syakban, juga menyantap sahur pertama, hingga hari ketiga puasa Ramadan.[1]

Pelaksanaan

sunting

Tradisi ini mencakup beberapa aktivitas utama, seperti:

  1. Doa Bersama, tokoh agama memimpin doa bersama dengan membaca surah-surah dalam Al-Qur'an, seperti Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.[2][3]
  2. Penyediaan Hidangan,[2] masyarakat yang ingin didoakan biasanya menyiapkan hidangan berupa ayam atau sapi di rumah masing-masing.
  3. Pembakaran Pesse pelleng (pelita lilin dari kemiri.[2][3]
  4. Membersihkan Masjid, sebagai persiapan menyambut Ramadan, masyarakat bersama-sama membersihkan masjid yang akan digunakan untuk beribadah selama bulan suci.[2]
  5. Perjamuan Makan Bersama, tradisi ini juga mencakup perjamuan makan bersama sebelum sahur pertama, sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur.[1]

Penggunaan lain dari madduppa

sunting

Selain dalam konteks keagamaan, istilah ''madduppa'' juga digunakan dalam berbagai kegiatan penyambutan di masyarakat Bugis-Makassar. Madduppa sering dilakukan dalam acara seremonial untuk menyambut pejabat negara atau daerah dengan pertunjukan seni budaya setempat.[4] Dalam konteks yang lebih meriah, madduppa juga terjadi sebagai bentuk selebrasi kemenangan dalam ajang kompetisi dengan melakukan arak-arakan keliling kampung.[1]

Kesakralan madduppa juga terlihat dalam tradisi pernikahan masyarakat Bugis-Makassar. Salah satu bentuknya adalah madduppa botting, yaitu prosesi penyambutan mempelai laki-laki sebelum ijab kabul atau saat menuju pelaminan.[5]

Selain itu, terdapat pula madduppa baca yang dilakukan sebagai acara penutup dari seluruh tradisi tujuh hari kematian pada masyarakat Desa Bulutelle, Kabupaten Sinjai.[6]

Lihat juga

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d Sadar, Muhammad (2025-02-20). "Madduppa Ketรฉng - Bengkel Narasi". Diakses tanggal 2025-03-06.
  2. ^ a b c d Ghiffary Mannan, Achmad; Hariyadi, Didit; Firmanto, Danang; Kustiani, Rini (23 Februari 2025 | 17.26 WIB). "Tradisi Masyarakat Makassar dan Bugis Menyambut Ramadan". Tempo. Diakses tanggal 2025-03-06.
  3. ^ a b Amrina Rosada, Zennita (2021-04-05). "Tradisi Masyarakat Bugis โ€“ Makassar Menjelang Bulan Ramadhan". osc.medcom.id. Diakses tanggal 2025-03-06.
  4. ^ Onggang, Alif (2024-10-24). "Menyambut/Madduppa Warga Terpilih Sebagai Wali Amanah di Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto". Pinisi.co.id (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-03-06.
  5. ^ Nikah, Tim Siap (2021-12-21). "12 Langkah Penuh Makna dalam Prosesi Pernikahan Adat Bugis -". Siap Nikah. Diakses tanggal 2025-03-06.
  6. ^ Rahman, Abdul (2024). "Ritual Madduppa Baca pada Masyarakat Islam di Desa Bulutellue Kabupaten Sinjai". BULLETย : Jurnal Multidisiplin Ilmu. 3 (4): 492โ€“498.

Kategori:Wiki Cinta Ramadan 2025