Ganja
Cannabis pada tahap pengeringan
Pengucapan
Sumber tanamanCannabis sativa, Cannabis indica, Cannabis ruderalis[a]
Bagian tanamanBunga dan buah
Asal geografisAsia Tengah atau Asia Selatan
Bahan aktifTetrahydrocannabinol, cannabidiol, cannabinol, tetrahydrocannabivarin
ProdusenAfganistan, Kanada, Tiongkok, Kolombia, India, Jamaika, Lebanon, Meksiko, Maroko, Belanda, Pakistan, Paraguay, Spanyol, Thailand, Turki, Britania Raya, Amerika Serikat
Izin edar

Ganja atau mariyuana (dari marijuana Ing.) adalah psikotropika mengandung tetrahidrokanabinol sebagai senyawa kimia utama yang membuat penggunanya mengalami euforia.[2] Selain tetrahidrokanabinol, ganja juga menghasilkan kanabidiol dan kanabinol. Selain 3 kanabinoid tersebut, masih ada 80 hingga 100 kanabinoid lainnya yang terkandung dalam tumbuhan ini.[3] Ganja biasanya dijadikan lintingan untuk diisap supaya efek dari zatnya cepat bereaksi daripada penggunaan dengan cara dicampur dengan makanan atau minuman.

Tanaman semusim ini tingginya dapat mencapai 2 meter. Berdaun menjari dengan bunga jantan dan betina ada di tanaman berbeda (tumbuhan berumah dua). Bunganya kecil-kecil dalam dompolan di ujung ranting. Ganja hanya tumbuh di pegunungan tropis dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut.

Ganja menjadi simbol budaya hippie yang pernah populer di Amerika Serikat. Hal ini biasanya dilambangkan dengan daun ganja yang berbentuk khas. Selain itu, ganja dan opium juga didengungkan sebagai simbol perlawanan terhadap arus globalisasi yang dipaksakan negara kapitalis terhadap negara berkembang. Di India, sebagian Sadu yang menyembah dewa Siwa menggunakan produk derivatif ganja untuk melakukan ritual penyembahan dengan cara mengisap hasis melalui bong dan minum bhang.

Sejak 10 Desember 2013, Uruguay melegalkan ganja untuk diperjualbelikan dan dikonsumsi di negara tersebut.[4][5]

Kontroversi

sunting

Beberapa negara menggolongkan tumbuhan ini sebagai narkotika, walau tidak terbukti bahwa pemakainya menjadi kecanduan, berbeda dengan obat-obatan terlarang jenis lain yang menggunakan bahan-bahan sintetis atau semisintetis yang merusak sel-sel otak. Di antara pengguna ganja, beragam efek yang dihasilkan, terutama euforia. Meskipun dampak penggunaan ganja bagi kesehatan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, tetapi kadar tetrahidrokanabinol pada ganja yang semakin meningkat dari tahun ke tahun patut diperhatikan. Kadar tetrahidrokanabinol pada daun ganja dulu berkisar antara 1% sampai 4%, saat ini kadarnya bisa mencapai 7%. Semakin meningkatnya kadar tetrahidrokanabinol dapat menyebabkan seseorang semakin mudah mengalami ketergantungan terhadap ganja.[6]

Efek negatif secara umum adalah pengguna akan menjadi malas dan otak akan lamban dalam berpikir. Namun, hal ini masih menjadi kontroversi, karena tidak sepenuhnya disepakati oleh beberapa kelompok tertentu yang mendukung ganja untuk medis dan ganja untuk rekreasi. Selain diklaim sebagai pereda rasa sakit, dan pengobatan untuk penyakit tertentu (termasuk kanker), banyak juga pihak yang menyatakan adanya lonjakan kreativitas dalam berpikir serta dalam berkarya terutama pada para seniman seperti pelukis dan musisi. Lonjakan kreativitas juga dipengaruhi oleh jenis ganja yang digunakan. Efek yang dihasilkan juga beragam terhadap setiap individu. Ada yang merasakan efek yang membuat mereka menjadi malas, sementara ada kelompok yang menjadi aktif, terutama dalam berpikir kreatif (bukan aktif secara fisik seperti efek yang dihasilkan metamfetamin). Itu semua tergantung kadar tetrahidrokanabinol yang terkandung dalam ganja. Semakin tinggi kadar tetrahidrokanabinol di dalam ganja, maka semakin besar perubahan otak yang terjadi dan risiko kecanduan pun semakin meningkat.[7]

Ganja tidak terbukti sebagai penyebab kematian dikarenakan zat yang terkandung dalam ganja. Bahkan, pada masa lalu dianggap sebagai tanaman luar biasa yang hampir semua unsur yang ada padanya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Namun, overdosis bagi penderita penyakit jantung memicu gagal jantung telah terbukti mematikan.[8] Akibat penggunaan ganja dengan kadar tetrahidrokanabinol yang tinggi mengakibatkan tekanan darah rendah dan hilangnya ingatan jangka pendek, percepatan detak jantung, berkurangnya kemampuan motorik, dan efek samping lain yang menghalangi kinerja tubuh dalam banyak kegiatan. Jika ini terjadi dalam kondisi dan situasi lingkungan yang bisa membahayakan seperti mengendarai kendaraan yang membutuhkan konsentrasi. Maka kecelakaan akan terjadi sehingga mengakibatkan peluang yang besar terjadinya kematian.[9] Penggunaan yang aman adalah memperhitungkan batas wajar zat psikoaktif yang jangan sampai di atas kesanggupan tubuh menerima zat tersebut, dan tidak melakukan aktivitas yang membahayakan jiwa dikarenakan efek memabukkan ganja yang melebihi mabuk alkohol atau narkoba lainnya kalau kadar tetrahidrokanabinol terlalu tinggi untuk dihadapi oleh tubuh individu penggunanya.

Pemanfaatan

sunting
Ganja tidak dilarang untuk wilayah berwarna biru, dan wilayah berwarna merah masih berstatus sangat dilarang dengan aturan hukum yang ketat dan berat

Tumbuhan ganja telah dikenal manusia sejak lama dan digunakan sebagai bahan tekstil karena serat yang dihasilkannya kuat. Biji ganja juga digunakan sebagai sumber minyak. Namun, ganja juga dikenal sebagai sumber narkotika dan kegunaan ini lebih bernilai ekonomi, karena dominan pemanfaatannya untuk hal yang bersifat rekreasional.

Budidaya

sunting

Tanaman ini ditemukan hampir di setiap negara tropis. Bahkan beberapa negara beriklim dingin pun sudah mulai membudidayakannya dalam rumah kaca.

Di Indonesia, ganja dibudidayakan secara ilegal di Aceh. Biasanya ganja ditanam pada awal musim penghujan, menjelang kemarau sudah bisa dipanen hasilnya.

Hasil panen ganja berupa daun berikut ranting dan bunga serta buahnya berupa biji-biji kecil. Campuran daun, ranting, bunga, dan buah yang telah dikeringkan inilah yang biasa dilinting menjadi rokok. Kalau bunga betinanya diekstrak, akan dihasilkan damar pekat yang disebut hasis.

Deputi Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Polisi Ali Djohardi Wirogiotoanja mengatakan bahwa ganja yang tumbuh di Indonesia memiliki kadar tetrahidrokanabinol tertinggi di dunia, meskipun tidak dibudidayakan secara modern seperti di negara-negara maju yang telah melegalkan penggunaan ganja.[10] Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo mengatakan ganja terbaik kualitasnya di dunia dari Aceh.[11] Selain Aceh sebagai peringkat pertama penghasil ganja, ada Bengkulu sebagai peringkat kedua, Jambi peringkat ketiga, dan Sumatera Utara sebagai provinsi dengan peringkat keempat pemasok ganja di dunia.[12] Kapolda Bengkulu Brigadir Jenderal Polisi M. Ghufron mengatakan Bengkulu memiliki lahan yang sangat subur untuk ditanami ganja. Bahkan, ganja-ganja yang dihasilkan memiliki kualitas terbaik dibandingkan tanaman sejenis dari daerah lain.[13]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Cervantes, Jorge (2006). Marijuana Horticulture: The Indoor/Outdoor Medical Grower's Bible (Edisi 5th). Van Patten Publishing. hlm.ย 12. ISBNย 978-1-878823-23-6.
  2. ^ Ethan B Russo (2013). Cannabis and Cannabinoids: Pharmacology, Toxicology, and Therapeutic Potential. Routledge. hlm.ย 28. ISBNย 978-1-136-61493-4. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-28. Diakses tanggal 2016-05-18.
  3. ^ "What are cannabinoids?". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-25. Diakses tanggal 2023-04-20.
  4. ^ "Uruguay Legalkan Konsumsi Ganja". Metrotvnews.com. MetroTV News. 11 Desember 2013.[pranala nonaktif permanen]
  5. ^ Patnistik, Egidius, ed. (11 Desember 2013). "Uruguay Negara Pertama yang Legalkan Perdagangan Ganja". Kompas.com. Kompas. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-17. Diakses tanggal 2013-12-11.
  6. ^ "Hello Sehat: Apa yang Terjadi Jika Rutin Mengisap Ganja Dalam Jangka Panjang?". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-08-11. Diakses tanggal 2019-09-10.
  7. ^ "Kalau Remaja Konsumsi Ganja, Begini Otaknya". Diarsipkan dari asli tanggal 2021-06-10. Diakses tanggal 2019-09-10.
  8. ^ "Bangkok Post: Anutin defends pot decriminalisation". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-28. Diakses tanggal 2022-06-15.
  9. ^ "Benarkah Overdosis Ganja Tidak Sebabkan Kematian?". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-02-08. Diakses tanggal 2019-09-10.
  10. ^ "BNN: Ganja Indonesia Punya THC Tertinggi". Diarsipkan dari asli tanggal 2021-03-30. Diakses tanggal 2019-09-10.
  11. ^ "Ganja Aceh Terbaik Kualitasnya di Dunia". Diarsipkan dari asli tanggal 2021-12-02. Diakses tanggal 2019-09-10.
  12. ^ "Astaga, 4 Daerah Di Indonesia Ini Jadi Pemasok Ganja Dunia". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-01-02. Diakses tanggal 2019-09-10.
  13. ^ "Pedoman Bengkulu: Ganja Terbaik Dari Bengkulu, Polda Giatkan Pemberantasan". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-02-21. Diakses tanggal 2019-09-10.

Pranala luar

sunting


Kesalahan pengutipan: Ditemukan tanda <ref> untuk kelompok bernama "lower-alpha", tapi tidak ditemukan tanda <references group="lower-alpha"/> yang berkaitan

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Partai Legalkan Marijuana Sekarang

Legalkan Marijuana Sekarang (bahasa Inggris: Legal Marijuana Nowcode: en is deprecated ) adalah partai politik satu isu Amerika Serikat yang didirikan

69 (posisi seksual)

Intelligencer. Diakses tanggal 2020-09-04. "Why is 420 associated with marijuana? The weed number explained". The Indianapolis Star (video slideshow).

Joaquรญn Guzmรกn Loera

terlibat dalam produksi, penyelundupan, dan pengedaran metamfetamin, marijuana, dan heroin di Meksiko. Saat ia ditangkap tahun 2014, Guzmรกn telah mengimpor

Generasi Z

(November 19, 2020). "College-age kids and teens are drinking less alcohol โ€“ marijuana is a different story". The Conversation. Diarsipkan dari versi aslinya

Kartel Sinaloa

Sinaloa, Durango, dan Chihuahua. Kawasan ini merupakan produsen opium dan marijuana terbesar di Meksiko. Menurut Jaksa Umum Amerika Serikat, Kartel Sinaloa

Cannabis

Gardens, Kew. Diakses tanggal 17 January 2019. A. ElSohly, Mahmoud (2007). Marijuana and the Cannabinoids. Humana Press. hlm.ย 8. ISBNย 978-1-58829-456-2. Diakses

Willie Nelson

sekaligus ketua dewan penasihat National Organization for the Reform of Marijuana Laws (NORML), organisasi advokasi legalisasi ganja. Ia memiliki merek

Justin Bieber

Oldenburg, Ann (January 30, 2014). "Justin Bieber toxicology report: Marijuana, Xanax". USA Today. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-03-19. Diakses tanggal