Masjid Pulo Kambing atau Masjid Nurul Huda merupakan sebuah masjid tua di Aceh yang terletak di desa Pulo Kambing, Kluet Utara, Aceh Selatan. Masjid ini sudah berusia kurang lebih enam ratus tahun.[1]

Sejarah

sunting

Terdapat dua versi berbeda tentang sejarah dibangunnya masjid ini. Versi pertama, masjid ini didirikan oleh Teuku Ali Basyah semasa kepemimpinan Keujruen Kluet (setingkat Ulee Balang) ke-11 yakni Teuku Meurah Adam, sekitar sembilan abad (900 tahun) lalu. Saat itu, wilayah kekuasaan Keujruen Kluet meliputi Kasik Putih, Sama Dua, hingga Trumon, sebelum dibentuk kewedanaan.[2]

Sedangkan versi yang kedua, masjid ini dibangun pada tahun 1351. Pendiri bangunan masjid ini adalah seorang ulama asal Persia bernama Syekh Muhammad Husen Al Fanjuri bin Muhammad Al Fajri Kautsar. Tiang pertama masjid ini, kayunya diangkut sendirian dari hutan dengan tangan kosong oleh salah seorang murid Syekh Muhammad Husen Al Fanjuri yang bernama Syech Mutawali Alfanshuri. Awal pembangunan masjid ini tanpa menggunakan paku.[2]

Pada tahun 2011, Masjid Nurul Huda masuk ke dalam salah satu Cagar Budaya Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesi melalui SK Nomor PM.90/PW.007/MKP/2011 pada 17 Oktober 2011.[3]

Arsitektur

sunting

Masjid ini memiliki arsitektur yang unik. Hal ini bisa dilihat dari sebuah kubah khas yang ditempatkan pada puncak atapnya. Pada bagian dasar masjid ini juga memiliki arsitektur yang sangat khas seperti masjid-masjid tua lainnya di Indonesia. Terutama pada bagian atap yang berbentuk limas bersusun tiga. Tetapi, di bagian atap paling atas masjid ini memiliki bentuk yang sedikit berbeda.[4]

Masjid ini dibangun dengan 3 lantai. Pada bagian pondasinya dibangun dengan sangat kokoh, dindingnya terbuat dari kayu, dan pada bagian besi yang digunakan merupakan besi yang masih asli sejak masjid ini pertama kali dibangun.[4]

Soko Guru

sunting

Masjid ini memiliki empat soko guru seperti masjid-masjid tradisional Indonesia lain pada umumnya. Keempatnya memiliki diameter kurang lebih satu meter dengan ketinggian kurang lebih 15 meter, soko guru ini dihiasi dengan ukiran kaligrafi yang menceritakan berbagai kisah-kisah sejarah kerajaan Islam Aceh.[4]

Hal unik dari masjid ini, terdapat salah satu soko guru yang dapat mengeluarkan air bening yang dingin sampai membasahi lantai masjid ini sejak masjid ini didirikan.[4]

Tetesan air dari soko guru tersebut dikumpulkan dan diambil oleh beberapa masyarakat sekitar masjid tersebut dan dijadikan sebagai obat. Menurut beberapa pengakuan masyarakat, air tetesan yang mengalir dari soko guru tersebut dapat mengobati berbagai macam penyakit. Namun, air yang keluar dari soko guru tersebut saat ini tidak sebanyak di masa lalu sejak bagian bawahnya disemen, dan bagian lantainya diubah menjadi keramik.[4]

Referensi

sunting
  1. ^ "Masjid Tuo Pulo Kambing Aceh". Diakses tanggal 20 Maret 2019.[pranala nonaktif permanen]
  2. ^ a b "Sejarah dan Keunikan Masjid Tuo Pulo Kambing". Diakses tanggal 20 Maret 2019.
  3. ^ "Keindahan Masjid Tuo Pulo Kambing, Wisata Religi di Aceh Selatan". analisaaceh.com. 17 Mei 2022. Diakses tanggal 24 Juni 2023.
  4. ^ a b c d e "Masjid Tuo Pulo Kambing โ€“ Aceh Selatan". Diakses tanggal 20 Maret 2019.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Pulo Kambing, Kluet Utara, Aceh Selatan

Negeri - Republik Indonesia". www.kemendagri.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-04-29. Diakses tanggal 2018-01-14. Masjid Tuo Pulo Kambing l b s

Daftar cagar budaya di Indonesia

Masjid Indrapuri Kompleks Makam Poteu Meureuhom Daya Makam Meureuhom Unga Masjid Pulo Kambing Benteng Trumon Bukit Kerang Desa Masjid Kampung Masjid Makam

Kota Medan

Anderson yang menyebutkan daerah Meidan didirikan Radin Inu bergelar Rajah Pulo Brayan tak lama sebelum 16 Januari 1823. Menurut Bappenas, Medan adalah salah

Tokoh dan Pemimpin Konflik Aceh-Belanda

Meuraxa, Lamteumen, Masjid Raya I, Kraton Aceh I, Kuala Gigieng, dan Peunayong (1873) serta Masjid Raya II, Kraton Aceh II, Lam Pulo, Garot, Kota Radja

Daftar masjid di Aceh

Seunagan Masjid Tuo Pulo Kambing Masjid Agung Singkil Masjid Asal Penampaan Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh Masjid Baiturrahim, Ulee Lheue Masjid Teungku

Rumah panggung Betawi

dinding dalam rumah Si Pitung Masjid Al Alam Marunda yang tidak jauh dari Rumah Si Pitung Gerbang masuk Kampung Marunda Pulo Jakarta Utara Salah satu rumah

Pertempuran Masjid Raya I (1873)

Pertempuran Masjid Raya I adalah pertempuran yang terjadi pada April 1873 di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Kutaraja (kini Banda Aceh), antara pasukan

Kota Palembang

tepung terigu, yang diberi telur bebek dan telur ayam,kuahnya berbahan kari kambing yang dicampur kentang. Pindang Patin, salah satu makanan khas Melayu Palembang