Foto para menak Priangan beserta istri-istrinya.

Menak (ᮦᮙᮔᮊ᮪, Alfabet bahasa Sunda: ménak, pengucapan bahasa Sunda: [menak][a]) adalah suatu istilah yang mengacu kepada kelas sosial atau golongan bangsawan dalam kebudayaan Sunda.[1] Sebagai keturunan penguasa dan keluarga kerajaan di tatar Sunda, terdapat gelar-gelar yang biasa mereka gunakan, antara lain Raden, Raden Tumenggung, Demang, Dipati, Tubagus, dan Ratu. Istilah ménak berdasarkan etimologi rakyat berasal dari akronim diémén-émén diénak-énak (harf. disayangi dan dilayani).[2][3]

Tokoh

sunting

Beberapa tokoh menak yang terkenal, antara lain:

Referensi

sunting

Keterangan

sunting
  1. ^ huruf e curek dibunyikan seperti e pada ember, bunyi "k" diucapkan secara jelas

Kutipan

sunting
  1. ^ Danadibrata, R.A (2006). Kamus Basa Sunda. Bandung: PT Kiblat Buku Utama. hlm. 434. ISBN 9793631937. Diakses tanggal (disungsi) 4 Maret 2021.
  2. ^ Wahyudiarto, D. (2005). Kapita selekta budaya. Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. ISBN 979-8217-37-3. OCLC 190760439. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ Dwipradja, D. (1987). Polemik undak usuk Basa Sunda. Bandung: Mangle Panglipur. OCLC 651083295. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Aksara Sunda Kuno

Pada waktu itu para menak Sunda lebih banyak menjadikan budaya Jawa sebagai anutan dan tipe ideal. Akibatnya, kebudayaan Sunda tergeser oleh kebudayaan

Wayang golek

di waktu itu dikhususkan untuk kaum menak (bangsawan) sebelum akhirnya menyebar luas di kalangan masyarakat Sunda. Pertunjukan seni wayang golek merupakan

Menak

Menak (ménak) adalah orang terhormat; bangsawan; ningrat; priayi. Istilah menak juga bisa merujuk ke: Menak Sunda Wayang menak Carita Menak Halaman disambiguasi

Kusumadinata II

tahun 1480 saka (+ 19 Juli 1558). Dia dijadikan titik tolak urutan para menak keturunan Sumedang serta diposisikan sebagai bupati pertama walaupun istilah

Parade kuda kosong

tradisi disebutkan dalam naskah Babad Cikundul atau dalam judul lain Babad Menak Sunda koleksi Perpustakaan Nasional RI yang diteliti oleh Asep Saeful Azhar

Tari Sunda

fakta ini sebagian berkontribusi pada sejarah Sunda, Namun orang Sunda akrab dengan budaya aristokrat para menak (bangsawan) di wilayah Priangan, terutama

Carita Menak

adalah salah satu cara dari pengisahan cerita tersebut. Menak Sunda Menak Jinggo Wayang menak Shadily, Hassan (1984). ENSIKLOPEDI TARI INDONESIA (SERI

Dominasi Mataram di Parahyangan

Kaum menak Sunda mengikuti tradisi literasi yang digunakan bangsawan Jawa. Aksara Jawa digunakan untuk menulis korespondensi di kalangan menak, menulis