Monumen Selamat Datang
Selamat Datang Monument
Monumen Selamat Datang pada tahun 2025
Peta
Informasi umum
JenisPatung
LokasiBundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Indonesia
Koordinat6°11′41.9244″S 106°49′22.9764″E / 6.194979000°S 106.823049000°E / -6.194979000; 106.823049000
Diresmikan17 Agustus 1961
ManajemenPemerintah Provinsi DKI Jakarta
Tinggi10 m
Desain dan konstruksi
Arsitek

Monumen Selamat Datang (bahasa Inggris: Selamat Datang Monument), juga dikenal sebagai Monumen Bundaran HI atau Monumen Bunderan HI, adalah sebuah monumen yang terletak di Jakarta Pusat, Indonesia, tepat di tengah bundaran Hotel Indonesia. Monumen ini selesai dibangun pada tahun 1962 oleh pemahat Edhi Sunarso, Monumen Selamat Datang merupakan salah satu landmark bersejarah di Jakarta.[1]

Sejarah

sunting

Pada tahun 1962, Jakarta menyambut tamu-tamu kenegaraan di Bundaran Hotel Indonesia. Ketika itu, Presiden Soekarno membangun Monumen Selamat Datang dalam rangka Asian Games IV yang diadakan di Jakarta. Para atlet dan ofisial menginap di Hotel Indonesia dan bertanding di komplek olahraga Ikada, sekarang komplek Gelora Bung Karno, Senayan. Stadion Senayan pada saat itu adalah stadion terbesar di Asia Tenggara yang mampu menampung 120.000 penonton.[2]

Ide pembuatan patung ini berasal dari Presiden Sukarno dan rancangan awalnya dikerjakan oleh Henk Ngantung yang pada saat itu merupakan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tinggi patung perunggu ini dari kepala sampai kaki 5 m, sedangkan tinggi seluruhnya dari kaki hingga tangan yang melambai adalah ±7 m, dan tinggi kaki patung adalah 10 m. Pelaksana pembuatan patung ini adalah tim pematung Keluarga Arca pimpinan Edhi Sunarso di Karangwuni, dan dibantu oleh Trubus Soedarsono. Pada saat pembuatannya, Presiden Sukarno didampingi Duta Besar Amerika Serikat, Howard P. Jones beserta para menteri sempat berkunjung ke sanggar Edhi Sunarso. Pembuatan patung ini memakan waktu sekitar satu tahun. Monumen Selamat Datang kemudian diresmikan oleh Sukarno pada tahun 1962.[2]

Bundaran Hotel Indonesia

sunting

Monumen Selamat Datang terletak di pusat Bundaran Hotel Indonesia atau Bundaran HI. Dinamakan demikian karena letaknya yang dekat dengan Hotel Indonesia. Ejaan lain yang diterima adalah Bunderan HI, yaitu bahasa yang lebih dekat dengan Bahasa Jawa-Betawi, dialek yang lebih dekat dengan identitas Jakarta. Bundaran ini terletak di tengah persimpangan Jalan M. H. Thamrin dengan Jalan Imam Bonjol, Jalan Sutan Syahrir, dan Jalan Kebon Kacang. Pada tahun 2002, Bundaran Hotel Indonesia direstorasi oleh PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama dengan penambahan air mancur baru, desain kolam baru, dan pencahayaan. Setelah era reformasi, Bundaran HI menjadi tempat populer untuk melakukan aksi demonstrasi. Setiap hari minggu pagi, saat dilaksanakan Jakarta Car free day, bundaran ini dipenuhi oleh orang yang berolahraga, bersepeda, maupun pedagang kaki lima.

Kasus

sunting

Kasus logo Grand Indonesia

sunting

Kasus ciptaan turunan logo pusat perbelanjaan Grand Indonesia terjadi dua kali. Kasus yang pertama terjadi pada 2010 dan kedua terjadi pada 2021. Patung tersebut telah terdaftar di pangkalan data DJKI pada 2010.[3]

Pada April 2010, keluarga besar Henk Ngantung menggugat Grand Indonesia atas logo pertama dari Grand Indonesia, yaitu siluet Monumen Selamat Datang dengan warna emas. Kuasa hukum keluarga Henk, Andy Nababan telah beberapa kali mengingatkan Grand Indonesia untuk tidak menggunakan siluet Monumen Selamat Datang sebagai logonya tanpa izin keluarga besar Henk Ngantung. Namun, pihak Grand Indonesia tidak menggubris peringatan tersebut, dengan alasan "logo terinspirasi murni dari patung".[4]

Pada Januari 2021, keluarga Henk menuntut lagi Grand Indonesia yang masih menggunakan patungnya sebagai logo, yaitu siluet Monumen Selamat Datang dalam lingkaran merah. Alhasil, Grand Indonesia harus membayar ganti rugi sebesar Rp1 miliar kepada keluarga besar Henk Ngantung.[5]

Galeri

sunting

Catatan kaki

sunting
  1. ^ "Edhi Sunarso, Sculptor of 'Selamat Datang' and 'Dirgantara' Landmarks, Dies at 83". Jakarta Globe. 5 January 2016. Diakses tanggal 10 January 2016.
  2. ^ a b "yulian.firdaus.or.id - Monumen Selamat Datang". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-12-18. Diakses tanggal 2010-08-01.
  3. ^ Saputra, Andi. "Dalil Grand Indonesia Pakai Logo 'Tugu Selamat Datang' hingga Didenda Rp 1 M". detikcom. Diakses tanggal 2021-04-08.
  4. ^ "Persoalan Logo Grand Indonesia Diselesaikan Kekeluargaan". Tempo.co. 2010-07-02. Diakses tanggal 2021-04-08.
  5. ^ "Duduk Perkara 'Tugu Selamat Datang' Berujung Denda ke Grand Indonesia". detikcom. Diakses tanggal 2021-04-08.

Pranala luar

sunting


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Jalan M.H. Thamrin (Jakarta)

ini terdapat sejumlah gedung Kedutaan Besar, Hotel Indonesia dan Monumen Selamat Datang (Bundaran HI). Gambir, Gambir, Jakarta Pusat Kebon Sirih, Menteng

Monumen Pembebasan Irian Barat

dibawah pimpinan Edhi Sunarso. Edhi juga dikenal sebagai pencipta Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia dan Patung Dirgantara, yang lebih dikenal

Patung Dirgantara

Monumen Patung Dirgantara atau lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran adalah salah satu monumen patung yang terdapat di Jakarta. Letak monumen ini

Tugu Selamat Datang (Kota Manokwari)

Tugu Selamat Datang adalah sebuah tugu yang terletak di daerah Kotaraja, depan pelabuhan, samping kantor pos Kota Manokwari, Provinsi Papua Barat. Di tugu

Plaza Indonesia

penyewa-penyewa mewah yang didatangkan dari luar negeri. Letak mal berada di Jalan M.H. Thamrin, di sudut barat laut Monumen Selamat Datang yang dikenal pula sebagai

Grand Indonesia

menggugat Grand Indonesia atas logo mal tersebut, yaitu siluet Monumen Selamat Datang dengan warna emas. Kuasa hukum keluarga Henk, Andy Nababan telah

Borobudur

Meskipun terdapat tabu yang melarang orang untuk mengunjungi monumen ini, "Sang Pangeran datang mengunjungi satria yang terpenjara di dalam kurungan (arca

Politik mercusuar

merupakan stasiun pernyiaran televisi pertama kalinya di Indonesia. Monumen Selamat Datang, yang berfungsi untuk menyambut para kontingen atlet dari luar negeri