Tradisi Monuntul adalah tradisi pasang lampu botol yang dilakukan masyarakat di Bolaang Mongondow Raya, Kota Kotamobagu, Provinsi Sulawesi Utara, untuk menyambut Idul Fitri, terutama pada tiga malam terakhir yakin malam ke 27-29 Ramadhan hingga malam takbiran. Secara harfiah, "monuntul" dalam bahasa Mongondow berarti memasang atau menyalakan lampu. Disebut demikian, karena ketika itu seluruh masyarakat muslim akan memasang beberapa lampu minyak di depan rumah, dan menyalakannya selepas salat Maghrib hingga selesai Subuh.[1][2]

Sejarah Monuntul

sunting

Monuntul telah ada sebelum masyarakat Bolaang Mongondow Raya memeluk agama Islam. Tradisi monuntul berawal dari kebiasaan orang yang menerangi rumah baru sebelum menempatinya. Tradisi itulah yang kemudian berkembang menjadi monuntul ketika agama Islam mulai dipeluk oleh masyarakat Bolmong.Diperkirakan tradisi ini mulai ada di Bolaang Mongondow pada akhir abad 19 M.[1][3]

Makna Monuntul

sunting

Dalam prakteknya, monuntul dilakukan dengan menyalakan lampu botol dan diletakkan di depan rumah, entah itu di pagar atau di area teras rumah. Jumlah lampu botol setiap rumah cukup beragam, umumnya sesuai dengan jumlah penghuni rumah. Misalnya, jika penghuni rumah berjumlah lima orang maka lima lampu botol akan dinyalakan. Monuntul merupakan wujud ekspresi religius sekaligus kultural yang memiliki narasi mendalam tentang spiritualitas, solidaritas sosial, dan identitas kultural. Hal itulah, menurut Donal, yang membuat monuntul mengakar kuat dalam kesadaran kolektif masyarakat Bolmong. Sebelum tuntul dinyalakan, dibacakan surat Al-Qadr, harapannya mendapatkan keberkahan dan pencerahan di malam Lailatul Qadar.[3][4]

Keyakinan Masyarakat

sunting

Di masyarakat Bolaang Mongondow, ada pemahaman orang-orang tua yang juga menjadi motif dalam pelaksanaan Monuntul, bahwa malam-malam terakhir Ramadan merupakan waktu bagi para malaikat turun ke bumi. Jadi langit perlu diterangi. Hal ini tidak lepas dari ajaran lailatul qadar (malam kemuliaan). Sehingga sebagian meyakini bahwa untuk menyalakan lampu dalam tradisi Monuntul tidak boleh sembarangan, harus didahului dengan membaca surah al-Qadr. Lampu yang biasa digunakan dalam tradisi Monuntul adalah lampu botol berisi minyak tanah atau solar, ada juga yang masih mempertahankan penggunaan lampu lilin berbahan bakar minyak goreng. Ratusan bahkan ribuan lampu akan dinyalakan di malam Monuntul. Menciptakan keindahan tersendiri di malam-malam terakhir Ramadan.[1]

Keharmonisan antar umat beragama

sunting

Pada dasarnya tradisi Monuntul atau momen pemasangan lilin di malam hari untuk menyambut idul fitri merupakan tradisi yang biasa dilakukan oleh umat Muslim di kota Kotamobagu. Tapi sebagai masyarakat yang berbaur dalam perbedaan keyakinan, umat Kristen di kota ini justru turut ikut melaksanakan tradisi ini. Umumnya, umat Muslim akan menggelar tradisi penerangan ini selama tiga hari sebelum Idul Fitri dan biasanya akan berakhir di malam takbir. Di momen inilah kita bisa menyaksikan keharmonisan antarumat beragama di Kotamobagu. Selain keharmonisan beragama masyarakatnya, Kotamobagu juga menyimpan jejak sejarah keagamaan yang unik. Kota ini dihuni oleh mayoritas umat Muslim. Di sana masyarakat beragamanya pun setia melestarikan ikon-ikon religi yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.[5]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c "Monuntul; Tradisi Pasang Lampu di Bulan Ramadan dalam Masyarakat Muslim Bolaang Mongondow". Alif.ID - Berkeislamanan dalam Kebudayaan (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-20.
  2. ^ "Tradisi Ramadhanย : Cahaya Monuntul Terangi Malam ke-27 Ramadhan". Kompas.tv. Diakses tanggal 2025-11-20.
  3. ^ a b "Mengenal 'Monuntul', tradisi masyarakat Bolmong di penghujung Ramadan" (dalam bahasa American English). 2025-03-27. Diakses tanggal 2025-11-20.
  4. ^ "Semarak Lomba Monuntul, Ditandai Pemasangan Obor Oleh Penjabat Wali Kota Kotamobagu". newskotamobagu.go.id. 11-06-2018. Diakses tanggal 20-11-2025.
  5. ^ Jawaban.com, CBN Indonesia 2014-. "Tradisi Monuntul dan Gereja Tua Ini Bikin Umat Beragama Kotamobagu Hidup Berdampingan". jawaban.com. Diakses tanggal 2025-11-20. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Perayaan-Perayaan Ponukuto Mopo Pooma Hukumo Sou-Sou'uria Adati Povullea Monuntul Awingngu Ruangan Manduluโ€™uโ€™tonna Ohlor Silan Ne Tombulu Tou Mu'ung Kumawus

Tumbilo tohe

Mongondow, Bolaang Mongondow Timur dan Kota Kotamobagu dikenal dengan istilah "Monuntul" yang berasal dari bahasa Mongondow dan di Dumai dan Bengkalis ada "Festival

Passi 1, Passi Barat, Bolaang Mongondow

diri mulai dari potong kuku, berkeramas, dan mandi di pancuran atau sungai 20 Monuntul tradisi memasang lampu di depan rumah 3 hari jelang idul Fitri