Museum Mpu Purwa

Museum Mpu Purwa adalah museum yang mengoleksi benda-benda purbakala yang ada di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Koleksinya meliputi patung, arca, candi dan prasasti dari berbagai kerajaan di Jawa. Benda-benda tersebut dahulu digunakan dalam berbagai aktivitas kerajaan dan menghilang bersama dengan keruntuhan kerajaannya. Beberapa pemerintah daerah di Pulau Jawa menemukan kembali benda-benda tersebut dan mengumpulkannya. Setelah itu, mereka mendirikan Museum Mpu Purwa pada tahun 2004. Peresmian museum dilakukan oleh Wali Kota Malang, Peni Suparto. Awalanya, bangunan museum merupakan Balai Penyelamatan Benda Purbakala. Koleksi yang ditampilkan adalah arca dan patung yang berasal dari masa kekuasaan Mpu Sindok sampai Kerajaan Majapahit. Kepemilikan museum diberikan kepada pemerintah Kota Malang. Pengelolaannya diserahkan kepada Unit Pelaksana Teknis Museum Mpu Purwa. Museum ini beralamat di Jalan Soekarno Hatta Perumahan Griya Shanta Blok. B Nomor 210, Mojolangu, Lowokwaru, Malang, Jawa Timur.[1] Titik koordinatnya di 7ยฐ56โ€™25.4โ€ Lintang Selatan dan 112ยฐ37โ€™15.1โ€ Bujur Timur. Museum Mpu Purwa dapat dicapai dari Stasiun Malang dengan jarak 7 km atau dari Terminal Arjosari dengan jarak 6 km.[2]

Sejarah

sunting

Pada tahun 2000, Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Pendidikan merencanakan pengumpulan benda-benda bersejarah yang tersebar di berbagai lokasi di wilayah Malang. Mengakui pentingnya melestarikan benda-benda tersebut, awalnya benda-benda tersebut disimpan di Perpustakaan Umum Kota Malang. Namun, pada tahun 2001, keputusan diambil untuk menyimpan benda-benda cagar budaya tersebut di gedung bekas SDN Mojolangu 2 Malang karena beberapa alasan tertentu. Akhirnya, Museum Mpu Purwa diresmikan pada tahun 2004 oleh Wali Kota Malang, Drs. Peni Suparto, dengan nama Balai Penyelamatan Benda Purbakala Mpu Purwa.[3]

Koleksi

sunting

Museum Mpu Purwa, dengan luas sekitar 1.200 mยฒ, menyimpan sekitar 136 artefak warisan dari zaman kerajaan Jawa kuna. Artefak tersebut berasal dari Kerajaan Kanjuruhan, Mataram Kuna, Kediri, Singosari, dan Majapahit, mencakup prasasti, arca, makara, lingga, dan berbagai jenis artefak purbakala lainnya. Di antara peninggalan masa prasejarah yang disimpan adalah Batu Pelor, Batu Lumpang, dan Batu Gores. Museum Mpu Purwa terbagi menjadi dua lantai dengan koleksi yang berbeda. Lantai satu menampilkan koleksi arca, termasuk arca tertua yang berusia 800 tahun dan Arca Brahma Catur dari sekitar Candi Singosari. Salah satu artefak yang menarik adalah arca Ganesya Tikus, yang merupakan representasi unik dengan ukuran kecil duduk di atas Musaka. Selain itu, terdapat juga arca Bodhisatwa yang langka dan hanya ditemukan di India. Museum ini juga menyimpan beberapa prasasti langka di Indonesia, seperti Prasasti Kanuruhan, Prasasti Muncang, dan Prasasti Dinoyo II, yang berisi tentang pemberian hadiah berupa tanah. Lantai satu juga dilengkapi dengan ruang audio visual. Sementara itu, lantai dua fokus pada koleksi yang berkaitan dengan kisah Ken Arok.[4]

Fasilitas

sunting

Museum yang menyimpan artefak budaya ini dapat dikunjungi secara gratis. Terdapat petugas keamanan yang siap membantu dalam pengaturan parkir dan arah masuk. Museum Mpu Purwa memiliki dua bangunan, yakni bangunan untuk koleksi museum dan bangunan untuk pegawai serta perpustakaan. Di dekat pintu masuk, terdapat gazebo yang bisa digunakan untuk bersantai. Dekat dengan bangunan pegawai, terdapat fasilitas toilet untuk pengunjung. Siswa dan mahasiswa yang ingin melakukan studi arsip dapat mengunjungi perpustakaan dengan izin dari pihak pengelola Museum Mpu Purwa. Sebelum memasuki museum, pengunjung diminta untuk mencuci tangan dan memindai kode kode batang yang tersedia di meja informasi. Kode batang tersebut akan mengarahkan pengunjung ke halaman formulir. Pengunjung yang telah melakukan pendaftaran dapat mengakses link yang memberikan penjelasan mengenai koleksi museum. Museum Mpu Purwa dilengkapi oleh AC dan memiliki pencahayaan yang sangat baik sehingga koleksi dapat terlihat dengan jelas. Hal ini menciptakan suasana nyaman bagi pengunjung yang ingin menjelajahi museum sambil mengamati koleksi bersejarah Mpu Purwa.[3]

Referensi

sunting
  1. ^ "DAFTAR MUSEUM KEBUDAYAAN PER KEC. Lowokwaru". Pusdatin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 31 Meiย 2025. ;
  2. ^ Rusmiyati, dkk. (2018). Katalog Museum Indonesia Jilid II (PDF). Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. hlm.ย 142. ISBNย 978-979-8250-67-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ a b Widodo, Talitha Salfara Oktalia. "Museum Mpu Purwa, Destinasi Wisata Penyimpan Sejarah di Kota Malang". www.goodnewsfromindonesia.id. Diakses tanggal 2024-05-28.
  4. ^ Daniswari, Dani (2023-09-22). "Museum Mpu Purwa di Malang: Koleksi, Harga Tiket, dan Jam Buka Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2024-05-28.

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Mpu Purwa

Mpu Purwa adalah seorang pendeta Buddha aliran Mahayana yang terdapat dalam Pararaton sebagai ayah dari Ken Dedes. Mpu Gnijaya menikah dengan Dewi Manik

Tunggul Ametung

bernama Mpu Purwa. Tunggul Ametung terpikat hatinya dan segera meminang Ken Dedes. Gadis itu memintanya supaya menunggu kedatangan Mpu Purwa yang saat

Kisah Ken Arok dan Keris Gandring

pendeta Buddha di Panawijen, Mpu Purwa, konon ketika Tunggul Ametung datang ke Panawijen untuk meminang Ken Dedes, saat itu Mpu Purwa sedang bertapa di Tegal

Ken Dedes

kecantikan yang sempurna. Menurut Pararaton, Ken Dedes adalah putri dari Mpu Purwa, seorang pendeta Buddha aliran Mahayana dari desa Panawijen. Pada suatu

Polowijen, Blimbing, Malang

Pararaton, Panawijen dikenal dengan tempat sucinya sejak tahun 948 M sampai Mpu Purwa (ayah Ken Dedes) tinggal di Panawijen sekitar tahun 1180-an hingga Majapahit

Ken Arok & Ken Dedes

menangkap Ken Arok. Saat pengejaran, Ken Arok bertemu dengan Ken Dedes, anak Mpu Purwa. Keduanya pun langsung jatuh hati, tetapi perjalanan cinta mereka tidaklah

Fragmen Garuda Wisnu

naik lembu. malangmuseum (2018-08-13). "Fragmen Garuda Wisnu / Nandi Siswa". MUSEUM MPU PURWA MALANG (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-15.

Sangkuriang: Legenda Tangkuban Perahu

sebagai Tumang Alex Bernard sebagai Prabu Jaya Wisesa Syadeli sebagai Mpu Purwa Cerita dimulai dengan kutukan yang diucapkan Prabu Jaya Wisesa yang buruk