| Abuya | |
|---|---|
| Nama | Muhammad Dimyathi |
| Nasab | bin Muhammad Amin |
| Nisbah | Al-Bantani |
| Lahir | Muhammad Dimyathi 7 Februari 1926 Kalahang, Cadasari, Pandeglang, Banten, Hindia Belanda |
| Meninggal | 3 Oktober 2003 (umurย 77) Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten, Indonesia |
| Nama lain | Abuya Dimyathi Cidahu Abuya Dimyathi Cadasari Mbah Dim |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Etnis | Sunda Banten |
| Pekerjaan | Ulama, Mursyid Thoriqoh Syadziliyyah |
| Denominasi | Sunni |
| Mazhab Fikih | Syafi'i |
| Murid dari | Abuya Abdul Halim Abuya Muqri Abdul Hamid Mama Bakri Sempur Mbah Dalhar Mbah Nawawi Jejeran Jogja Mbah Khozin Bendo Pare Mbah Baidlowi Lasem Mbah Ruqyat Kaliwungu dan lain-lainnya. |
Mempengaruhi
| |
| Istri | Hj. Asmah (Istri Pertama) Hj. Dallalah (Istri Kedua) |
| Keturunan | Ahmad Muhtadi (Abah Muh)
Muhammad Murtadho (Abah Mur) Abdul Aziz Fakhruddin (Abah Ade) Ahmad Muntaqo (Abah Mun) Ahmad Muqotil (Abah Aceng) Ahmad Mujtaba (Abah Taba) |
| Orang tua | KH. Muhammad Amin (ayah) Hj. Ruqoyyah (ibu) |
Abuya KH. Muhammad Dimyathi bin Syeikh Muhammad Amin Al-Bantani (bahasa Arab: ุฃุจููุง ููุงูู ุงูุญุงุฌ ู ุญู ุฏ ุฏู ูุงุทู ุจู ุงูุดูุฎ ู ุญู ุฏ ุฃู ูู ุงูุจูุชูู), atau yang lebih dikenal dengan Abuya Dimyathi (7 Februari 1926ย โย 3 Oktober 2003) adalah seorang ulama asal Banten.[1] Dia merupakan ayah dari Abuya KH. Ahmad Muhtadi Dimyathi (ุฃุจููุง ููุงูู ุงูุญุงุฌ ุฃุญู ุฏ ู ูุชุฏู ุฏู ูุงุทู).[2] Dia (Abuya Dimyathi) juga merupakan guru dari Abuya KH. Uci Turthusi (Cilongok - Pasar Kemis - Tangerang).
Kehidupan awal
suntingAbuya Dimyathi lahir di Banten. Dia merupakan putra dari pasangan KH. Muhammad Amin dan Hj. Ruqayyah.[3]
Masa pendidikan
suntingSejak kecil Abuya Dimyathi sudah menampakan kecerdasan dan keshalihannya. Dia belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya, menjelajah tanah Jawa hingga ke pulau Lombok untuk menuntut ilmu.
Kehidupan pribadi
suntingAbuya Dimyathi menikah dengan Hj. Asma. Buah hati dari pernikahannya, Dia dikaruniai beberapa anak. Di antaranya Abuya Ahmad Muhtadi.[4]
Mendirikan pesantren
suntingAbuya Dimyathi merintis pesantren di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten sekitar tahun 1965, dan telah banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin Ja'far Assegaf yang sekarang memimpin Majelis Nurul Musthofa di Jakarta dan (alm) Abuya Uci Turtusi yang memimpin Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah di Cilongok Sukamantri, Pasar Kemis, Tangerang yang wafat pada tahun 2021.
Dalam perilaku sehari-hari dia tampak tawadhu, zuhud dan ikhlas. Banyak dari beberapa pihak maupun wartawan yang coba untuk memublikasikan kegiatannya dipesantren selalu ditolak dengan halus oleh Abuya Dimyathi, begitu pun ketika dia diberi sumbangan oleh para pejabat selalu ditolak dan dikembalikan sumbangan tersebut. Hal ini pernah menimpa Siti Hardijanti Rukmana yang memberi sumbangan sebesar 1 miliar. Namun, oleh Abuya Dimyathi ditolak.
Kontroversi
suntingBab atau bagian ini sebagian besar atau seluruhnya berasal dari satu sumber. (Desember 2022) |
Abuya Dimyathi dikenal sebagai salah satu orang yang sangat teguh pendiriannya.[5] Sampai-sampai karena keteguhannya ini,[yang mana?][kenetralan diragukan] Ia pernah dipenjara pada zaman Orde Baru. Pada tahun 1977 Abuya Dimyathi sempat difitnah dan dimasukkan ke dalam penjara.[5] Hal ini disebabkan Abuya Dimyathi sangat berbeda prinsip[yang mana?][diragukan ] dengan pemerintah ketika terjadi pemilu pada tahun tersebut. Abuya Dimyathi dituduh menghasut dan anti pemerintah. Abuya Dimyathi pun dijatuhi vonis selama 6 bulan. Namun 4 bulan kemudian dia keluar dari penjara.[5]
Karya-karya
suntingBeberapa kitab yang dikarang oleh Abuya Dimyathi. Di antaranya adalah:[6]
- Kitab Minhajul Ishthifa. Kitab ini isinya menguraikan tentang Hidzib Nashr dan Hidzib Ikhfa. Dikarang pada bulan Rajab 1379 H/1959 M.
- Kitab Aslul Qodr. Yang didalamnya khususiyat sahabat saat perang Badr.
- Kitab Roshnul Qodr. Isinya menguraikan tentang Hidzib Nasr. Rochbul Qoir I dan II yang juga sama isinya yaitu menguraikan tentang Hidzib Nasr.
- Kitab Bahjatul Qooalaid. Nadzam Tijanud Darori.
- Kitab Al-Hadiyyatul Jalaliyyah didalamnya membahas tentang tarekat Syadziliyyah.
Wafat
suntingAbuya Dimyathi meninggal dunia pada 3 Oktober 2003 pukul 03.00 wib di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten.[7]
Referensi
suntingCatatan Kaki
sunting- ^ Alawi, Abdullah (2019-10-31). "Mengenal Ulama Kharismatik Banten Abuya Dimyati". nu.or.id. Diakses tanggal 2022-12-14.
- ^ DIA, Yayasan (2019-03-14). "Biografi KH. Muhammad Dimyati al-Bantani (Abuya Dimyati)". Biografi KH. Muhammad Dimyati al-Bantani (Abuya Dimyati) (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-12-14.
- ^ Agu 2; Jelajah, 2021 | (2021-08-02). "MBAH DIMYATI BIN MUHAMMAD AMIN AL BANTANI, KESEDERHAAN BERSAHAJA DENGAN SUASANA KEILMUAN". Sidogiri Media Online. Diakses tanggal 2022-12-14. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ Jayasantika, Yadi. "Ada Ulama Banten Dampingi Kapolri, Abuya Muhtadi Bersama Habib Luthfi bin Yahya Gelorakan Semangat Persatuan - Kabar Banten". kabarbanten.pikiran-rakyat.com. Diakses tanggal 2022-12-14.
- ^ a b c Nugraha, Dindin (24 Januari 2017). "Biografi KH Muhammad Dimyati (Mbah Dim) Pandeglang Banten". NU Online Jawa Barat (dalam bahasa (Indonesia)). Diakses tanggal 14 Desember 2022. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ Roji, Fathur (2020-04-16). "Abuya Dimyati, Ulama Kharismatik yang Waktunya untuk Ilmu dan Dakwah". Gontornews (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2022-12-14.
- ^ "KH Dimyati Banten Meninggal Dunia". nu.or.id. Diakses tanggal 2022-12-14.