PT Mulyo Trans Sakonda
Bus Mulyo
DidirikanAgustus 1947; 78 tahun lalu (1947-08)
Kantor pusatJalan Yos Sudarso 188, Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia
Wilayah layananJawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jenis layananBus antarkota
Trayek1
Tujuan akhirPurwokerto dan Yogyakarta
Jenis bahan bakarDiesel
Direktur UtamaSunarman Mangun Sardjono

PT Mulyo Trans Sakonda adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat dan memiliki garasi utama di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Didirikan pada tahun 1947, perusahaan otobus ini menjadi perusahaan otobus swasta tertua asal Jawa yang masih beroperasi hingga sekarang. Perusahaan otobus ini melayani bus antarkota antarprovinsi jarak menengah yang beroperasi di jalur selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Bus-bus milik Mulyo memiliki kelas bumel ekonomi non-AC.[1]

Sejarah

sunting

PO Mulyo didirikan pada Agustus 1947, hanya dua tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sehingga termasuk salah satu perusahaan otobus yang lahir pada masa awal republik. Dari sisi usia, Mulyo tercatat sekitar sepuluh tahun lebih muda dibandingkan NPM, delapan bulan lebih muda dari DAMRI, serta kira-kira dua tahun lebih tua dibandingkan Hiba Utama. Perusahaan otobus ini didirikan sekaligus dimiliki oleh Soenarman Mangoen Sardjono, yang sejak awal memegang peranan penting dalam pengelolaan dan arah perkembangan usaha. Keberadaan Mulyo pada masa awal kemerdekaan mencerminkan semangat wirausaha pribumi yang tumbuh seiring dengan kebutuhan transportasi masyarakat lokal di Jawa.[1][2]

Menurut sebuah memoar yang ditulis oleh Yan Lubis pada tahun 2018, keluarga Sunarman yang menjadi pemilik PO Mulyo disebut berasal dari kelompok "Wong Kalang". Kelompok ini dikenal luas dalam masyarakat Jawa sebagai komunitas dengan keterampilan berdagang, etos kerja tinggi, serta jiwa kewirausahaan yang kuat. Latar belakang tersebut diyakini turut memengaruhi karakter PO Mulyo sebagai perusahaan otobus yang bertahan lama meskipun dikelola dengan pendekatan yang relatif tradisional. Nilai kerja keras dan kemandirian yang melekat pada keluarga Soenarman Mangoen Sardjono menjadi fondasi penting dalam perjalanan panjang perusahaan ini.[3]

Pada masa awal operasionalnya, Mulyo mengandalkan bus bermerek Dodge sebagai armada utama. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman operasional, perusahaan ini mulai memperluas jangkauan layanannya. Ketika memasuki usia sekitar 26 tahun, Mulyo telah memiliki trayek penting yang menghubungkan Gombong dan Solo. Namun, perjalanan sejarahnya tidak selalu berjalan mulus. Pada Maret 1973, PO Mulyo menjadi sorotan publik akibat kecelakaan tragis dengan kereta api pengangkut ketel Pertamina di sebelah barat Stasiun Soka. Peristiwa tersebut mengakibatkan lima orang meninggal dunia di tempat, termasuk pengemudi bus, dan menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah perusahaan.[4]

Dalam perkembangannya, PO Mulyo tetap dikenal sebagai perusahaan otobus yang mempertahankan sistem kerja klasik, yaitu sistem setoran bagi para pengemudi bus. Sistem ini memang mendorong persaingan antarpengemudi untuk memperoleh penumpang sebanyak mungkin, tetapi di sisi lain kerap menimbulkan tekanan kerja yang tinggi. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi kualitas pelayanan, tingkat kenyamanan, serta waktu istirahat pengemudi dan kru bus. Bahkan, sebuah penelitian mahasiswa UIN Sunan Kalijaga menunjukkan bahwa sistem kerja klasik yang diterapkan Mulyo sering kali berdampak pada keterbatasan waktu karyawan untuk menjalankan ibadah.[5] Meski demikian, dedikasi keluarga Soenarman dalam dunia transportasi bus akhirnya diakui secara nasional, ketika pada 21 Maret 2012 Kementerian Perhubungan Republik Indonesia menganugerahkan penghargaan Lifetime Achievement kepada keluarga tersebut.[2]

Armada dan trayek

sunting

Dalam hal layanan, PO Mulyo memfokuskan bisnisnya pada angkutan antarkota jarak menengah. Perusahaan ini dikenal konsisten mengoperasikan bus-bus lama non-AC sebagai ciri khasnya.[1] Hingga saat ini, Mulyo hanya melayani dua trayek bus ekonomi atau bumel, yaitu rute Purwokerto–Yogyakarta dan Purwokerto–Solo. Kedua trayek tersebut menjadi tulang punggung operasional perusahaan, melayani mobilitas masyarakat dengan karakter layanan yang sederhana, tradisional, dan mencerminkan identitas PO Mulyo sebagai perusahaan otobus lama yang masih bertahan di tengah perubahan industri transportasi.[6][7]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c "Sederet PO Bus Asal Daerah Ngapak, Nomor 3 Telah Melayani Sejak Tahun 1947". iNews. 2022-12-29. Diakses tanggal 2025-11-28.
  2. ^ a b "KEMENHUB SERAHKAN PENGHARGAAN KEPADA PERUSAHAAN ANGKUTAN UMUM DENGAN PELAYANAN TERBAIK". Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. 2012-03-21. Diakses tanggal 2025-11-28.
  3. ^ Lubis 2018, hlm. 418.
  4. ^ "Diseret sejauh 100 meter". Kompas. 1973-03-16.
  5. ^ Hartito 2011.
  6. ^ Hidayat 2023, hlm. 8.
  7. ^ radarbanyumas.co.id. "Bus AKAP Mulai Beroperasi di Terminal Purwokerto, Jurusan Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta Lancar". radarbanyumas.co.id. Diakses tanggal 2025-11-28.

Daftar pustaka

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Eko Patrio

bersama Parto dan Akri.[butuh rujukan] Eko dilahirkan dari pasangan Sumarsono Mulyo dan Sumini. Ketika masih SMA, Eko membentuk kelompok lawak Seboel, yang

Saipul Jamil

warganet, KPI meminta maaf atas pernyataan Agung tersebut. Komisioner KPI Mulyo Hadi Purnomo dalam wawancara program Sapa Indonesia Pagi yang tayang di

Jalan Malioboro

Malioboro terdiri atas Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, dan Jalan Margo Mulyo. Jalan ini menghubungkan Tugu Yogyakarta hingga menjelang kompleks Keraton

Mulyo Aji

Mulyo Aji, M.A. (lahir 28 Juli 1964) adalah seorang Purnawirawan TNI-AD yang terakhir menjabat sebagai Sesmenko Polhukam. Mulyo Aji, merupakan lulusan

Jati Mulyo, Jati Agung, Lampung Selatan

Jati Mulyo adalah sebuah desa di Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Indonesia. "Kode pos Kecamatan Jati Agung". www.nomor

Coyo

Tengah yang masih beroperasi hingga sekarang (berdiri tujuh tahun setelah Mulyo) dan memiliki garasi di Tegal, Pekalongan, dan Semarang. Coyo didirikan

Suko Mulyo, Sepaku, Penajam Paser Utara

Suko Mulyo adalah salah satu desa di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. (Indonesia) Keputusan Menteri

Pangeran Surowiyoto

Lasem dan Babad Demak. Makam Pangeran Surowiyoto berada di Desa Gedong Mulyo Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Disini beliau juga dikenal dengan sebutan