Ilustrasi naga bersayap dan bernafaskan api oleh Friedrich Justin Bertuch dari 1806
Ukiran naga dalam mitologi Tiongkok di Dinding Sembilan Naga, Taman Beihai, Beijing

Naga merupakan satu dari makhluk legenda yang memiliki karakteristik serupa reptil yang muncul dalam banyak cerita rakyat berbagai budaya di dunia. Kepercayaan terhadap naga berbeda-beda pada setiap daerah, tetapi naga dalam mitologi barat sejak Puncak Abad Pertengahan dideskripsikan sebagai makhluk yang memiliki sayap, tanduk, empat kaki, dan dapat mengeluarkan nafas api. Sedangkan, dalam budaya timur, naga biasanya digambarkan sebagai makhluk tak bersayap, memiliki empat kaki, memiliki bentuk seperti ular dengan kecerdasan yang di atas rata-rata. Selain itu, naga digambarkan memiliki sifat yang merupakan gabungan dari fitur dalam ras felin, aves, dan reptil. Para ahli memercayai bahwa naga kemungkinan besar merupakan gambaran dari buaya, khususnya dengan karakteristik tempat tinggalnya, yaitu di rawa-rawa ataupun hutam lebat, juga struktur tubuhnya, menjadikan hewan ini sebagai asal-usul penggambaran dari naga timur modern.[1][2]

Etimologi

sunting
Kemunculan kata "dracan" yang merupakan sebuah kata dalam bahasa Inggris Kuno dalam Beowulf[3]

Istilah "naga" merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta, yaitu nāgá (नाग) yang berarti "ular kobra" yang berasal dari penamaan ular kobra India (Naja naja). Sinonim untuk nāgá adalah phaṇin (फणिन्). Sebetulnya terdapat beberapa kata yang juga berarti "ular" secara umum, dan satu dari yang paling sering digunakan adalah sarpá (सर्प). Terkadang, kata nāgá juga memiliki arti sebagai "ular" secara umum.[4] Kata tersebut memiliki kata asal yang sama dengan snake dalam bahasa Inggris, dan kata snake berasal dari bahasa rumpun Jermanik: *snēk-a-, Proto-IE: *(s)nēg-o- (dengan pergerakan s).

Dalam bahasa Inggris, kata dragon berasal dari bahasa Prancis Kuno yang masuk kedalam bahasa Inggris pada awal abad ke-13, kata dragon tersebut juga berasal dari bahasa Latin: draconem (bentuk normatif dari draco) yang berarti "ular raksasa, naga", dari bahasa Yunani Kuno δράκων, drákōn (bentuk genitif dari δράκοντος, drákontos) "ular laut, ular raksasa".[5][6] Istilah naga dalam bahasa Yunani dan Latin mengacu pada ular manapun yang berukuran besar dan tidak harus sebagai makhluk mitologi.[7] Kata bahasa Yunani δράκων kemungkinan besar berasal dari kata kerja dalam bahasa Yunani δέρκομαι (dérkomai) yang berarti "Aku melihat", dan menjadi ἔδρακον (édrakon) dalam bentuk aorist.[6] Asal-usul penamaan ini yang kemungkinan menjadi sebutan untuk sesuatu yang memiliki "tatapan yang mematikan"[8] atau mata yang memancarkan cahaya yang tidak biasa[9] ataupun "tajam",[10][11] juga bisa berarti untuk menggambarkan mata ular yang kelihatannya selalu terbuka dan setiap dari mata tersebut bisa melihat menembus kelopak matanya yang transparan dan bersisik, yang tertutup secara permanen. Kata dalam bahasa Yunani tersebut juga kemungkinan berasal dari basis kata *derḱ- dalam bahasa Indo-Eropa yang berarti "melihat"; dan akar kata bahasa Sansekerta दृश् (dr̥ś-) yang juga berarti "melihat".[12]

Deskripsi

sunting
Moncong kapal kapal panjang bangsa Viking di Ystad yang berbentuk kepala naga

Naga, dalam berbagai peradaban dikenal dengan nama dragon (Inggris), draken (Skandinavia), Liong (Tiongkok), dikenal sebagai makhluk superior yang berwujud menyerupai ular, kadang bisa menyemburkan api, habitatnya di seluruh ruang (air, darat, udara). Meskipun penggambaran wujudnya berbeda-beda, tetapi secara umum spesifikasi makhluk tersebut digambarkan sebagai makhluk sakti.

Sosok naga di dunia barat digambarkan sebagai monster, cenderung merusak dan bersekutu dengan kekuatan gelap. Dicitrakan sebagai tokoh antagonis yang seharusnya dihancurkan. Seseorang bisa mendapat gelar pahlawan atau ksatria dengan membunuh naga. Pendek kata, naga adalah ancaman bagi manusia.

Tidak demikian halnya dengan citra naga di peradaban timur. Di Tiongkok, naga dianggap sebagai sosok yang bijaksana dan agung layaknya dewa. Naga adalah satu-satunya hewan mitos yang menjadi simbol Shio. Budaya Minangkabau mengenal dongeng Ngarai Sianok yang diciptakan oleh Sang Naga. Hiasan berbentuk naga juga sangat lekat dengan budaya Jawa, umumnya terdapat di gamelan, pintu candi dan gapura, sebagai lambang penjaga. Masyarakat Dayak juga menggambarkan Naga sebagai penguasa dunia bawah, dan Burung Enggang sebagai penguasa dunia atas. Naga di peradaban timur mendapat tempat terhormat, karena meskipun mempunyai kekuatan dahsyat yang bisa menghancurkan, tetapi tidak semena-mena dan bahkan bisa mengayomi.

Naga atau Ular menurut pandangan kebanyakan Orang Indonesia, dianggap sebagai lambang dunia bawah. Sebelum Zaman Hindu (Neolithicum), di Indonesia terdapat anggapan bahwa dunia ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu dunia bawah dan dunia atas, dan masing-masing mempunyai sifat yang bertentangan. Dunia bawah antara lain dilambangkan dengan bumi, bulan, gelap, air, ular, kura-kura, buaya. Sedangkan dunia atas dilambangkan dengan matahari, terang, atas, kuda, rajawali.[13]

Pandangan semacam itu juga hampir merata di seluruh bangsa Asia. Dalam cerita Mahabharata maupun pandangan kebanyakan Orang Indonesia sendiri sebelum Zaman Hindu, naga atau ular selalu berhubungan dengan air, sedangkan air mutlak diperlukan sebagai sarana pertanian.

Menurut kebudayaan

sunting

Mesir

sunting
Ilustrasi yang menggambarkan dewa Set yang menombak ular Apep dikarenakan ia menyerang Perahu Surya dari RA dalam artefak serat papyrus dari era Mesir Kuno

Apep, atau Apophis merupakan sebuah makhluk berwujud ular dalam mitologi Mesir, makhluk tersebut tinggal di Duat yang merupakan dunia bawah Mesir.[14][15] Artefak tersebut ditulis pada sekitar 310 SM pada serat papyrus Bhemner-Rhind dan sekaligus menjadi salah satu bukti dari kisah Mesir yang menyatakan bahwa terbenamnya matahari disebabkan oleh RA yang berangkat ke Duat untuk melawan Apep.[14][15] Dalam beberapa tulisan lain disebutkan, bahwa Apep memiliki panjang delapan orang dewasa dengan kepala yang terbuat dari batu rijang.[15] Badai petir dan gempa bumi diyakini sebagai akibat dari rauman Apep[16] dan gerhana matahari diyakini sebagai akibat dari Apep yang menyerang Ra pada siang hari.[16]

Tiongkok

sunting
Patung Naga di Johor, Malaysia.

Dalam tradisi Tionghoa juga terdapat makhluk bernama Liong atau Lung (Hanzi sederhana: ; Hanzi tradisional: ) yang umumnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan istilah naga. Makhluk ini digambarkan sebagai ular berukuran raksasa, lengkap dengan tanduk, sungut, dan cakar, sehingga berbeda dengan gambaran naga versi India.

Naga versi Tionghoa dianggap sebagai simbol kekuatan alam, khususnya angin topan. Pada umumnya makhluk ini dianggap memiliki sifat yang baik selama ia selalu dihormati. Naga dianggap sebagai penjelmaan roh orang suci yang belum bisa masuk surga. Biasanya roh orang suci menjelma dalam bentuk naga kecil dan menyusup ke dalam bumi untuk menjalani tidur dalam waktu lama. Setelah tubuhnya membesar, ia bangun dan terbang menuju surga.

Sebagian ilmuwan berpendapat, naga dalam kebudayaan Tionghoa merupakan makhluk khayal yang diciptakan oleh masyarakat zaman dahulu akibat penemuan fosil dinosaurus. Makhluk ini juga dikenal dalam kebudayaan Jepang dengan istilah Ryuu (Kanji: 竜).

Naga dalam shio memiliki arti kebenaran. Arti lain adalah perlindungan dan keperkasaan. Shio naga terdapat pada tahun 2012, 2000, 1988, 1876, 1964, 1952, 1940. Shio naga memiliki kemampuan mulut yang baik dan sayangnya sering membuatnya celaka.

Kalimantan

sunting
Naga versi suku Banjar, Kalimantan Selatan

Naga dalam budaya Kalimantan (suku Dayak) dianggap sebagai simbol alam bawah. Naga digambarkan hidup di dalam air atau tanah dan disebut sebagai Naga Lipat Bumi. Naga merupakan perwujudan dari Tambun yaitu makhluk yang hidup dalam air.

Menurut budaya Kalimantan, alam semesta merupakan perwujudan "Dwitunggal Semesta" yaitu alam atas yang dikuasai oleh Mahatala atau Pohotara, yang disimbolkan enggang gading (burung), sedangkan alam bawah dikuasai oleh Jata atau Juata yang disimbolkan sebagai naga (reptil). Alam atas bersifat panas (maskulin) sedangkan alam bawah bersifat dingin (feminim). Manusia hidup di antara keduanya.

Dalam budaya Banjar, alam bawah merupakan milik Puteri Junjung Buih sedangkan alam atas milik Pangeran Suryanata, pasangan suami isteri yang mendirikan dinasti kerajaan Banjar. Setelah berkembangnya agama Islam, maka oleh suku Banjar alam atas dianggap dikuasai oleh Daud, sedangkan alam bawah dikuasai oleh Khidr Dalam arsitektur rumah Banjar, makhluk naga dan burung enggang gading diwujudkan dalam bentuk tatah ukiran, tetapi sebagai budaya yang tumbuh di bawah pengaruh agama Islam yang tidak memperkenankan membuat ukiran makhluk bernyawa, maka bentuk-bentuk makhluk bernyawa tersebut disamarkan atau didistilir dalam bentuk ukiran tumbuh-tumbuhan.

Eropa

sunting

Mitos dan dongeng rakyat tentang naga juga telah tumbuh di dunia Barat sejak berabad-abad silam. Naga dalam dunia Barat digambarkan sebagai kadal raksasa dengan 2 tangan dan 2 kaki serta memiliki sayap besar pula, ia juga memiliki kemampuan untuk menyemburkan lidah-lidah api dan hidup di gua. Naga seperti ini adalah naga yang terlihat dalam film Harry Potter and the Goblet of Fire & Harry Potter and the Deathly Hallows - Bagian 2 Naga ini selalu digambarkan suka memangsa manusia.

Naga adalah simbol yang kaya akan makna dan cerita, baik sebagai pelindung maupun ancaman. Keberadaan mereka dalam mitologi, legenda, dan budaya populer menunjukkan betapa besar pengaruh mereka dalam imajinasi manusia. Apa pun bentuknya, naga tetap menjadi simbol abadi yang terus memikat hati banyak orang.[1]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting

Kutipan

sunting
  1. ^ a b Stromberg, Joseph (23 January 2012). "Where Did Dragons Come From?". Smithsonian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2019. Diakses tanggal 2 September 2019.
  2. ^ "Archeologists Find Crocodile is Prototype of Dragon". People's Daily. 29 April 2000. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 September 2019. Diakses tanggal 2 September 2019.
  3. ^ Beowulf; a heroic poem of the 8th century, with tr., note and appendix by T. Arnold, 1876, p. 196.
  4. ^ Apte, Vaman Shivram (1997). The student's English-Sanskrit dictionary (Edisi 3rd rev. & enl.). Delhi: Motilal Banarsidass. ISBN 81-208-0299-3., p. 423. The first definition of nāgaḥ given reads "A snake in general, particularly the cobra." p.539
  5. ^ Ogden 2013, hlm. 4.
  6. ^ a b Δράκων Diarsipkan 20 June 2010 di Wayback Machine., Henry George Liddell, Robert Scott, A Greek-English Lexicon, at Perseus project
  7. ^ Ogden 2013, hlm. 2–4.
  8. ^ "Dragon | Origin and meaning of dragon by Online Etymology Dictionary".
  9. ^ "Greek Word Study Tool".
  10. ^ "Guns, herbs, and sores: Inside the dragon's etymological lair". 25 April 2015.
  11. ^ Wyld, Henry Cecil (1946). The Universal Dictionary Of The English Language. hlm. 334.
  12. ^ Skeat, Walter W. (1888). An etymological dictionary of the English language. Oxford: Oxford Clarendon Press. hlm. 178.
  13. ^ "Naga dan Dewi Sri dalam Budaya Jawa". 8 March 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-05. Diakses tanggal 2012-03-08.
  14. ^ a b Ogden 2013, hlm. 11.
  15. ^ a b c Niles 2013, hlm. 35.
  16. ^ a b Niles 2013, hlm. 36.

Daftar pustaka

sunting

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

9 Naga

9 Naga adalah film drama kriminal Indonesia tahun 2006 yang disutradarai Rudi Soedjarwo dan ditulis oleh Monty Tiwa. Film ini dibintangi oleh Donny Alamsyah

Buah naga

Buah naga (Inggris: pitaya atau dragon fruit) adalah buah dari beberapa jenis kaktus dari genus Stenocereus dan Selenicereus. Buah ini berasal dari Meksiko

Sembilan Naga

Sembilan Naga adalah istilah yang merujuk pada sekelompok pengusaha keturunan Tionghoa berpengaruh di Indonesia, terutama yang memiliki hubungan dekat

Naga (shio)

Shio naga adalah salah satu dari ke-12 shio yang ada dalam penanggalan Tionghoa. Menurut kepercayaan Tionghoa, orang yang mempunyai shio naga adalah orang

ADA Band

Piano) ADA Band dibentuk pada tanggal 18 November 1996. Kini beranggotakan Naga (vokalis), Dika Satjadibrata (bassist), Marshal (gitaris) & Adhy (drummer)

Kampung Naga

Kampung Naga adalah sebuah perkampungan tradisional Sunda yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Kampung ini merupakan suatu perkampungan

Kalimantan

patung liong yaitu naga khas budaya Tionghoa yang lazim ditaruh atau disembahyangi di kelenteng.[butuh rujukan] Pembangunan patung naga ini dianggap sebagai

Lidah naga

Agave atau lidah naga merupakan sebuah tanaman yang umumnya berbentuk duri. Bentuk daun dan corak istimewa menjadi daya tarik bagi para kolektor tanaman