Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Juni 2025) |
Ngasa adalah tradisi adat tahunan yang digelar oleh masyarakat Dusun Jalawastu, Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. Selayaknya sedekah gunung, ritual ini merupakan bentuk syukur terhadap alam dan hasil bumi yang dirayakan setiap tahun pada hari Selasa Kliwon bulan Kasanga dalam kalender Jawa (sekitar Bulan FebruariโMaret).[1]
Sejarah
suntingUpacara Ngasa bermula pada masa pemerintahan Bupati Brebes keโ9, Raden Arya Candra Negara (sekitar tahun 1880โ1885), ketika masyarakat lereng Gunung Kumbang ingin kembali melestarikan ritual lama sebagai ungkapan syukur dan permohonan kelimpahan hasil panen. Masyarakat Jalawastu memelihara tradisi ini secara turun-temurun, bahkan sebelum Islam masuk ke Jawa, dengan akar akulturasi antara kepercayaan Sunda Wiwitan, HinduโBuddha, dan ajaran Islam.[2] Ngasa kemudian menjadi identitas masyarakat lereng Gunung Kumbang sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan pelestarian harmoni antara manusia dan alam.[3]
Ngasa berfungsi sebagai ungkapan syukur kepada Batara Windu Buana, sebagai simbol pengakuan atas kemakmuran dan keselamatan dari alam. Unsur pantangan terhadap nasi, daging, dan sampah menekankan nilai kesederhanaan, kebersamaan, serta rasa hormat kepada alam. Rangkaian ritual dan kebersamaan dalam prosesi mempererat solidaritas, gotong royong, dan hubungan generasional dalam masyarakat adat.[butuh rujukan]
Pelaksanaan
suntingRitual Ngasa dilaksanakan dengan prosesi yang diawali pada malam sebelum Selasa Kliwon, yaitu Senin Wage, melalui kegiatan bersih dusun dan persiapan sesaji.[1] Pada hari pelaksanaan, warga berjubah putih berkumpul di Balai Budaya sebelum berjalan bersama menuju lokasi ritual di Gedong Pasarean, yaitu hutan adat yang dipenuhi makam keramat dan sumber mata air. Di sana, juru kunci membacakan doa, diikuti pengucuran nasi jagung ke sawah, simbol syukur atas keberkahan hasil bumi. Hidangan sederhana berupa nasi jagung, lalapan, dan umbi-umbian disantap bersama tanpa piring, mencerminkan prinsip kesederhanaan dan pantangan untuk tidak menggunakan bahan hewani.[2] Ritual diakhiri dengan persembahan sambil membakar kemenyan dan doa bersama, diiringi musik calung dan Tari Perang Centhong sebagai bentuk ungkapan syukur yang penuh kegembiraan.[butuh rujukan]
Upaya Pelestarian
suntingSejak 30 Maret 2020, Dusun Jalawastu ditetapkan sebagai Kampung Budaya dan Ngasa diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kemendikbudristek.[4] Dukungan pun diberikan melalui publikasi peta budaya, pendokumentasian ritual, serta pengembangan fasilitas infrastruktur untuk festival budaya. Kajian akademis mendalam terhadap makna simbol, konstruksi sosial, dan nilai teologis dalam upacara ini memperkuat posisi Ngasa sebagai representasi lokal yang hidup dan relijius.[butuh rujukan]
Referensi
sunting- ^ a b igong, andrian (2025-03-05). "Tradisi Ngasa di Jalawastu, Wujud Syukur dan Harmoni dengan Alam". Berita Update Brebes Hari Ini (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ a b Pamungkas, Satria S. "Mengenal Upacara Adat Ngasa di Jalawastu Brebes, Warisan Budaya Sunda yang Masih Lestari Sampai Sekarang - Pantura Post". Mengenal Upacara Adat Ngasa di Jalawastu Brebes, Warisan Budaya Sunda yang Masih Lestari Sampai Sekarang - Pantura Post. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ "Ngasa Jalawastu". Roda Wisata Brebes. 2024-11-07. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ "Lestarikan Adat Ngasa, Kampung Jalawastu Dinobatkan Sebagai Warisan Budaya" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-15.