Prosesi Nimbuk
Prosesi Nimbuk

Nimbuk atau Aruh Ambatur atau Mambatur, merupakan upacara adat yang digelar oleh warga Suku Dayak wilayah Balangan (Dayak Halong atau Dayak Meratus) berupa pengantaran roh yang diikuti dengan pembuatan batur diatas kuburan oleh ahli waris. Upacara ini dipercaya sebagai bentuk hadiah bagi orang yang sudah meninggal.[1] Hadiah yang dimaksud adalah kendaraan atau rumah. Upacara ini juga bisa dipahami sebagai wujud terimakasih dari orang-orang yang masih hidup pada almarhum atas pengorbanannya semasa masih hidup. Nimbuk merupakan warisan budaya tak benda yang sudah didaftarkan pada Kemendikbud.

Proses Nimbuk

sunting

Nimbuk adalah upacara menancapkan nisan kuburan dan meletakkan timbuk (membangun rumah kecil di pemakaman) yang dilakukan oleh keluarga tertentu atau berkelompok untuk sanak keluarga yang telah meninggal. Upacara ini dilaksanakan ketika padi sudah mengurai yaitu pada bulan Februari-April.[2] Waktu pelaksanaan Nimbuk bisa dilakukan kapan saja tergantung kemampuan ahli waris. Ada keyakinan pada masyarakat bahwa sebelum yang meninggal itu dibatur, maka roh yang meninggal belum sampai ke tujuannya dan masih mengembara kemana-mana.

Upacara dimulai dengan ritual yang dipimpin Balian yang berfungsi sebagai penghubung dengan roh-roh halus dan dibantu oleh pasambe atau patati. Pasambe atau patati adalahย wanita yang membantu balian menyusun sesaji dan juga menguasai jenis sesaji yang diperlukan oleh balian.

Apabila upacara nimbuk menggunakan kerbau maka diadakan acara tombak kerbau. Sebelum ditombak, Balian membaca mantra untuk memanggil arwah-arwah yang telah mati. Aturan penombakan kerbau ditunjukan pada bagian kepala sampai dada yang dibatasi oleh garis putih melingkar. Bagian tubuh dari kerbau yang dianggap penting diambil untuk dijadikan sebagai sesajen, seperti usus, daging tulang belakang, sendi tulang, kulit bagian kepala (sangkeat) yang dalam pengambilanya tidak boleh putus. Selain itu juga diambil hati, jantung, paru-paru, lidah/ilat/bela dan isi perut. Bagian kerbau yang diambil tersebut lalu dicincang dan dimasukan ke dalam buluh. Buluh juga dimasukkan biji sahang/merica, pisang talas/tuhu-tuhu, garam dan jagung segala tumbuhan yang mengikut hewan tadi. Buluh-buluh tersebut lalu dimasak dengan cara di bakarย seperti lemang. Setelah masak, buluh dimasukan ke dalam kirai (anyaman dari rotan). Jumlah buluh yang disusun dalam kirai tergantung jenis kelamin yang dibatur. Apabila yang dibatur berjenis kelamin laki-laki, maka jumlah buluh yang disediakan berjumlah 14 potong, apabila perempuan maka jumlah buluh yang disediakan berjumlah 7 potong buluh.[3]

Sesajen

sunting

Sesajen dari tubuh hewan persembahan (kerbau) terdiri dari buah zakar, usus, daging tulang belakang, sendi tulang, kulit bagian kepala (sangkeat), kepala kerbau dikuliti dan dalam prosesnya kulit tersebut tidak boleh putus, hati, jantung, paru-paru, lidah atau ilat, dan segala isi perut.

Sesajen selain tubuh hewan persembahan terdiri dari biji sahang/merica, garam, jagung, sirih, serai, kunyit, bambu, jeruk, ulin, rotan, pinang, kelapa, padi, andong, pisang talas/tuhu, kalau pisang talas tidak ada dapat diganti dengan pisang palembang yang berukuran agak kecil-kecil atau bisa juga dengan pisang muda. Sesajen termasuk juga segala tumbuhan yang mengikuti atau berhubungan dengan hewan persembahan tersebut. Tumbuhan daun (rawen) sirih dan buah (uwa) pinang ditaburkan di atas kubur untuk menghias kuburan dan (mempa) manginang bagi mendiang.

Ukiran Nisan

sunting

Ukiran-ukiran yang dibuat pada nisan kubur bersifat umum misalnya nanas. Daun Nanas untuk laki-laki pada ujung atas ukiran dibuat bundar sedangkan untuk perempuan persegi empat dengan agak lancip sedikit. Ukiran lain adalah manusia memegang tongkat yang melambangkan orang yang meninggal dunia adalah pemuka masyarakat. Ada juga ukiran orang memakai gelang dan ikat kepala yang melambangkan orang tersebut adalah Balian.

Filosofi

sunting

Pembuatan Batur menandakan bahwa upacara pengantaran roh ke alam keabadian telah dilakukan. Upacara ini menandakan ahli waris telah terbebas dari kewajibannya. Upacara ini juga berfungsi memanggil roh orang yang meninggal agar menjadi dewa pelindung keluarga, dalam posisi roh tersebut dapat memberi petunjuk dan bantuan dan jika roh yang diupacarai laki-laki maka akan menjadi dewa pemberi rezeki.

Referensi

sunting
  1. ^ Rohayanti, Isti (13 Februari 2022). Widodo, Hari (ed.). "Aruh Ambatur Suku Dayak Digelar, Begini Suasana Kebersamaan di Desa Kapul Balangan". Banjarmasinpost.co.id. Diakses tanggal 2025-06-14.
  2. ^ Kristina, Merti; Hidayah, Yulianti (2019-03-19). "Identifikasi Tumbuhan Pada Tradisi Nimbuk Suku Dayak di Halong Kalimantan Selatan". Jurnal Pendidikan Hayati (dalam bahasa American English). 5 (1). doi:10.33654/jph.v5i1.618. ISSNย 2828-2914.
  3. ^ "Nimbuk, Suatu upacara masyarakat dayak halong". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. 2 November 2019. Diakses tanggal 2025-06-14.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia

ritus, dan perayaan 201901049 Itatamba Banua 201901050 Ma'iwuu 201901051 Nimbuk 202001204 2020 Bagandut Seni Pertunjukan 202001205 Lampit Amuntai Keterampilan