Nolam atau Manolam adalah budaya tradisi sastra lisan Indonesia yang dilakukan masyarakat Kampar. Tradisi ini berbentuk syair-syair yang dinyanyikan tanpa menggunakan alat musik, sehingga hanya menggunakan suara manusia. tradisi Manolam memuat unsur seni, karena penutur membacakan teks dengan cara bernyanyi. Serta unsur agamanya dari teks yang dibacakan tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW. Irama menyanyikannya sangat khas, layaknya membaca syair yang dilakukan menggunakan bahasa daerah Kampar.[1][2]
Tradisi Manolam ini biasanya dilakukan oleh ibu-ibu kaum wanita di sebuah kampung kecil bernama Padang Danau, Dusun Pulau Sialang, Desa Rumbio, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Cara menyanyikannya bisa dalam bentuk kelompok maupun tunggal. Isi dari syair-syair Manolam adalah petuah yang berisi pesan-pesan keagamaan. Pesan Islam yang sangat kuat tersurat dalam syair-syair yang dibacakan. Selain pesan keagamaan, Nolam juga mengandung petuah-petuah moral, nasihat dan ungkapan-ungkapan bijak yang kaya dengan pesan-pesan. Layaknya membaca barjanji, tradisi Nolam ini biasanya juga dibacakan di acara-acara keagamaan seperti peringatan Israโ Miโraj, hari-hari besar Islam dan sebagainya. Beberapa orang ibu-ibu membentuk kelompok dan menyanyikan syair-syair manolam tanpa diiringi alat musik.[1][3]
Sejarah tradisi Manolam
suntingTradisi manolam dulunya diperdengarkan setelah salat Isya berjamaah. Tuan rumah mengundang penutur Nolam dan masyarakat lainnya untuk hadir. Tuan rumah juga menyiapkan ruangan, perlengkapan, dan makanan serta minuman. Penutur mulai dengan membaca "Bismillahirrahmanirrohim" dan mukadimah singkat, lalu dilanjutkan dengan melantunkan syair-syair Manolam tentang Cerita Nabi Muhammad SAW yang tertera di dalam Naskah. Sejarah Manolam berkembang di kelurahan Airtiris, Desa Rumbio, Ranah, dan desa lainnya di Kecamatan Kampar pada awal abad ke-19. Penutur mencari naskahnya kepada guru, kemudian dicatat kembali ke buku atau menghafalnya, dan menyimpan syair-syair tersebut.[4]
Pelaksanaan tradisi Manolam
suntingPelaksanaan tradisi nolam diawali dengan pembacaan yang berlangsung selama tiga hingga empat jam, sesekali penutur menjelaskan makna dari syair yang dinyanyikan, sehingga pendengar bisa lebih mengerti isinya. Penutur akan berhenti sejenak untuk beristirahat menyantap makanan dan minuman yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Dikutip dari laman Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Manolam biasanya dituturkan oleh laki-laki, tetapi para perempuan juga bisa, bahkan secara kelompok. Manolam juga difungsikan untuk memberikan pesan moral,. adab anak dan kebaikan lainnya.[4]
Tradisi Manolam berkisah tentang 33 pasal tentang Kelahiran dan perjalanan Nabi Muhammad SAW seperti Manolam Maulid Nabi Muhammad SAW. Kemudian Manolam Nabi Bercukur pada masa bulan Rabi'ul Awal, Manolam Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad S.A.W pada masa bulan Rajab, dan Manolam lainnya. Manolam juga berlangsung ketika acara hajatan masyarakat, aqiqah, nikah, hasil panen, dan mendoakan naik haji. Maka syair yang dinyanyikan berisikan cerita pengingat dan bentuk syukur.[4]
Upaya pelestarian
suntingTim dari Balai Bahasa Provinsi Riau telah melakukan upaya konservasi penjagaan tradisi lisan yang hampir punah di Kabupaten Kampar tersebut. Dokumentasi teks cetak nolam dan kajiannya dilakukan untuk membantu meningkatkan penjagaan tradisi tersebut. Selain itu, ditetapkannya Nolam sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Provinsi Riau tahun 2020 menjadikan langkah awal upaya konservasi dan revitalisasi yang lebih intensif bagi keberlangsungan budaya tradisi lisan Kabupaten Kampar tersebut.[1]
Nolam adalah bagian dari kekayaan budaya tradisi Riau, khususnya Kampar. Ditetapkannya sebagai WBTB 2020 saja belum cukup jika tidak ada upaya lanjutan untuk menjaga dan melestarikannya. Ada banyak WBTB Riau yang setiap tahunnya ditetapkan tetapi hingga kini tak juga masyarakat mengenalnya. Oleh karena itu, dibutuhkan kebijakan pemerintah yang mampu menggandeng semua elemen untuk membangkitkan tradisi yang juga memiliki nilai pariwisata.[1]
Referensi
sunting- ^ a b c d "Tradisi Nolam Kabupaten Kampar - Warisan Budaya Tak Benda Riau 2020" (dalam bahasa Inggris). 2021-04-13. Diakses tanggal 2025-11-12.
- ^ hasan b (10-06-2024). "Nolam, Malalak, dan Baghandu Syair Khas Kampar". goriau.com. Diakses tanggal 12-11-2025.
- ^ MelayuPedia. "Tradisi Manolam, Syair yang Dinyanyikan Tanpa Alat Musik - melayupedia.com". www.melayupedia.com (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2025-11-12. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ a b c Simanjuntak, Elisabeth. "Manolam, Tradisi dan Ekpresi Lisan Berbentuk Syair dari Masyarakat Kampar". detiksumut. Diakses tanggal 2025-11-12.