Nomina, kata benda, atau kata nama adalah kelas kata yang menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.

Ciri-ciri

sunting

Nomina yang merupakan kelas leksikal gramatikal mempunyai ciri sebagai berikut:

  1. makna kebendaan
  2. daya rangkai sintaksis
  3. adanya sarana-sarana khusus untuk menyatakan arti ketunggalan dan arti kejamakan

Berdasarkan segi sintaksis, nomina mempunyai ciri-ciri tertentu, yaitu sebagai berikut.

  1. Dalam kalimat, nomina biasanya menduduki struktur subjek, objek atau pelengkap.
  2. Bisa diikuti pengingkaran bukan.
  3. Umumnya, nomina diikuti adjektiva, baik langsung ataupun di antara kata yang diluaskan dengan konjungsi yang.[1]

Pembagian

sunting

Berdasarkan wujudnya, nomina dapat dibagi menjadi dua:

  • Kata benda konkret, untuk benda yang dapat dikenal dengan panca indra. Misalnya, kata buku
  • Kata benda abstrak, untuk benda yang menyatakan hal yang hanya dapat dikenal dengan pikiran. Misalnya, kata cinta.

Sedangkan berdasarkan entitasnya, nomina dapat dikelompokkan menjadi dua:

  • Nama diri atau kata benda khusus (proper noun), yaitu nomina yang mewakili suatu entitas tunggal tertentu. Misalnya, Jakarta atau Ali.
  • Nama jenis atau kata benda umum (common noun), yaitu nomina menunjukkan jenis atau kelas entitas jamak secara umum dengan penciri yang sama. Misalnya, kota atau orang.

Pembentukan Nomina

sunting

Dari segi strukturnya, nomina dapat dibedakan dari morfologi katanya yang dibagi menjadi nomina akar, sederhana, bukan turunan, nomina turunan berimbuhan, nomina turunan berulang, dan nomina majemuk dan gabungan.

Nomina akar terdiri dari satu morfem akar, yang bersuku satu,dua, atau banyak, sedangkan nomina turunan berimbuhan yang terdiri dari morfem akar dan afiks derivatif. Contohnya nomina orang yang melakukan pekerjaan atau tindakan dan alat untuk melakukan pekerjaan, morfem dapat dibentuk sebagai berikut: pe- + kerja = pekerja (pekerjaan), pem- + pukul = pemukul (melakukan pekerjaan). Nomina pada tingkat paling atas adalah nomina majemuk bermakna benda dan nomina bermaknakan benda, sebagai contoh ibu + kota = ibu kota, dan tukang + jahit = tukang jahit.

Pustaka

sunting
  • H. Alwi; Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, Anton M. Moeliono (1998). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  • N.F. Alieva, dkk (1991). Bahasa Indonesia Deskripsi dan Teori. Yogyakarta: Kanisius. hlm.ย 211. ISBNย 9794137057. OCLCย 645828121.
  • "Kata", Ensiklopedi Nasional Indonesia (ENI), vol.ย 8, Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka, 1990

Referensi

sunting
  1. ^ Pbsi, Widyastuti (2017-05-19). "PROSES PEMBENTUKAN NOMINA BAHASA MUNA DIALEK GU-MAWASANGKA". JURNAL HUMANIKA. 3 (15). ISSNย 1979-8296.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

The

tunggal digunakan dengan nomina dari semua gender. Kata ini dapat digunakan dengan nomina tunggal dan jamak, dan dengan nomina yang dimulai dengan huruf

Pronomina

merupakan suatu kata atau kelompok kata yang dapat menggantikan nomina (kata benda) atau frasa nomina. Contohnya adalah saya, kapan, -nya, ini, dan sebagainya

Frasa nomina

terdari dari nomina dengan nomina maupun nomina dengan kata dari kelas kata lain. Bentuk-bentuk frasa nomina sebagai berikut: Nomina + Nomina yakni semua

Preposisi

yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat dan biasanya diikuti oleh nomina atau pronomina. Preposisi bisa berbentuk kata, misalnya di dan untuk, atau

Bahasa Makassar

dirujuk-silang oleh klitik pronomina. Nomina juga dapat menjadi inti dari sebuah frasa nomina (termasuk klausa relatif). Nomina dapat berperan sebagai pemilik

Bahasa Madura

'yaitu'. Nomina dalam bahasa Madura berdasarkan bentuk dapat dikategorikan menjadi dua antara lain nomina dasar dan turunan. Nomina dasar adalah nomina yang

Bahasa Jawa

kaรฉ. Dalam bahasa Jawa, atribut pewatas (modifier) nomina inti diletakkan setelah nomina. Nomina inti tidak diberi imbuhan jika diikuti dengan atribut

Kepala wihara

memegang posisi setara juga dikenal sebagai kepala wihara (Pali: saแน…ghanฤyakฤ, nomina feminin dengan ฤ di akhir; Inggris: abbess, terj. har.โ€‰'abdis'). Di negara-negara