Koran dalam proses pencetakan

Percetakan adalah sebuah proses industri untuk memproduksi secara massal tulisan dan gambar, terutama dengan tinta di atas kertas menggunakan sebuah mesin cetak. Percetakan merupakan sebuah bagian penting dalam penerbitan dan percetakan transaksi.

Percetakan digambarkan sebagai proses mentransfer tinta ke atas kertas (atau substrat lain) melalui pelat cetak.[1]

Banyak buku, koran, brosur, flyer, dan majalah sekarang ini biasanya dicetak menggunakan teknik percetakan offset. Image yang akan dicetak di print di atas film lalu di transfer ke plat cetak. Warna-warna bisa didapatkan dengan menimpakan beberapa pola warna dari setiap pelat offset sekaligus.

Teknik percetakan umum lainnya adalah cetak relief, sablon (cetak saring), rotogravure, dan percetakan berbasis digital yakni pita jarum, inkjet, dan laser.

Dikenal pula teknik cetak poly untuk pemberian kesan emas dan perak ke atas permukaan dan cetak emboss untuk memberikan kesan menonjol kepada kertas.

Sejarah

sunting

Percetakan mempunyai catatan sejarahnya sendiri. Sejarah menuliskan informasi tanggal dari gambar dinding gua yang berumur lebih dari 30.000 tahun. Pada tahun 2500 S.M., orang Mesir mengukir hieroglyphics pada batu. Akan tetapi, percetakan yang kita ketahui sekarang tidak ditemukan hingga lebih dari sekitar 500 tahun yang lalu.

Orang China membuat banyak penemuan. Mereka menemukan kertas pada abad pertama dan moveable type yang terbuat dari tanah liat sekitar abad ke-11. Orang Korea pertama kali membuat moveable type dari perunggu pada pertengahan abad ke-13. Akan tetapi, tidak diketahui adanya hubungan antara penemuan awal orang Asia dan penemuan percetakan di Eropa pada abad ke-15.

Di Eropa, sebelum percetakan ditemukan, semua informasi yang tercatat ditulis dengan tangan. Buku-buku dengan hati-hati disalin oleh ahli tulis (scribes) yang sering menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan satu jilid buku. Metode ini begitu lambat prosesnya dan mahal. Bahkan hanya sedikit orang yang memiliki kesempatan atau kemampuan untuk membaca karya yang telah selesai.

Kemungkinan besar percetakan pertama kali ditemukan untuk mempermudah penduplikasian Injil. Jika sebelumnya ditulis dengan tangan di ruang scriptoria, maka sejak zaman renaisans manusia mulai berpikir untuk mempercepat proses ini lewat produksi massal.

Teknik cetak pertama kali yang dikenal dimulai dari Kota Mainz, Jerman pada tahun 1440 yang merupakan sentra kerajinan uang logam saat itu. Pertama kali metode cetak diperkenalkan oleh Johannes Gutenberg dengan inspirasi uang logam yang digesekkan dengan arang ke atas kertas.

Relief uang logam menimbulkan ide untuk membuat permukaan dengan tinggi bervariasi. Hal ini dikenal dengan nama cetak tinggi.

Referensi

sunting
  1. ^ Kipphan, Helmut (2001). Handbook of Print Media. Berlin, Heidelberg: Springer Berlin Heidelberg. hlm.ย 1005โ€“1026. ISBNย 978-3-540-67326-2.

Lihat pula

sunting

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Gambar vektor

ISBN 0-471-98386-1. "Vector & Raster Graphics in Offset Printing". Olympus Press - Commercial Printing. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-02-12. Diakses

Kartu undangan

Sistem pencetakan pada kertas biasanya menggunakan sistem cetak offset maupun digital printing, dalam dunia percetakan undangan pernikahan dikenal dengan 2

Piktogram DOT

Green paint chips for certain symbol signs are included..." "If an offset printing ink is being used...the closest colors in the Pantone Matching System

Perkembangan media cetak

kimia menggunakan lempengan logam. Setelah Perang Dunia II, teknologi offset printing mulai digunakan secara luas karena kualitas hasil cetak yang tinggi

Heidelberger Druckmaschinen

Datenbank Diarsipkan 2023-08-17 di Wayback Machine. Printing machines since 1900 โ€“ Summary of all offset and letterpress machines ever built, including Heidelberg

Soliin Danzan

pada 1924. Batbayar, Ts. (1996). Modern Mongolia: A Concise History. Offset Printing, Mongolian Center for Scientific and Technological Information Dash

Politeknik Negeri Media Kreatif

produksi cetak, hingga pascacetak, diantaranya Digital Printing HP Indigo, OCE, Simulator Offset, Offset Sakurai empat warna, Image Setter CTP dan CTF. Laboratorium

Seni grafis

kemudian dicetak. Konsep warna subtraktif yang juga digunakan dalam cetak offset atau cetak digital, di dalam software vektorial misalnya Macromedia Freehand