📑 Table of Contents

Suku Padoe (To Padoe), adalah salah satu suku bangsa berdiam di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Khusus di wilayah Sulawesi Selatan, suku Padoe tersebar di Kecamatan Wasuponda, Malili, Nuha, Towuti, Angkona dan Mangkutana di Kabupaten Luwu Timur.[1] Hingga saat ini, populasi suku Padoe diperkirakan sekitar 22.000 orang.

Asal-muasal

sunting

Suku Padoe secara bahasa berhubungan dengan rumpun bahasa Bungku-Tolaki. Suku Padoe mendiami daerah ini diperkirakan sejak peradaban awal di area Malili-Nuha. Sebagian rumpun keluarga kemudian bermigrasi ke Sulawesi Tengah, di daerah Kanta, Kayaka. Rumpun ini juga setelah sekian abad, berimigrasi kembali ke area Malili-Nuha pada sekitar abad ke-XIV-XV. Sementara rumpun-rumpun yang tetap tinggal ada di area Angkona dan sebagian Malili.

Dalam bahasa setempat istilah "Padoe" berarti "orang jauh" karena itu dikenal pula sebagai "To BelaE". Di Tana Luwu mereka menjadi salah satu bagian dari 12 anak suku di bawah pemerintahan Kedatuan Luwu (Kerajaan Luwu). Suku To Padoe sekarang banyak yang bertempat tinggal di daerah Pakatan di Kecamatan Mangkutana; Angkona dan Lakawali di Kecamatan Angkona; Pabeta, Kore-korea (Tulantula) dan Malili di Kecamatan Malili; Laroeha, Kawata, Lasulawai, Amasi, Tawaki, Ledu-Ledu, Wasuponda dan Tabarano di Kecamatan Wasuponda; Wawondula, Lioka, Matompi di Kecamatan Towuti; Taliwan di Kecamatan Mori Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi tengah; Mayakeli di kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

Kepercayaan

sunting

Kepercayaan asli orang Padoe adalah agama Lahomua. Agama Lahumoa berpusat kepada penyembahan terhadap Ue Lahumoa. Ue (Mpue, Pue) berarti Tuhan dan Lahumoa adalah gelaran kepada Yang Maha Kuasa. Lahumoa berasal dari dua suku kata, yaitu Lahu dan Moa. Lahu berarti wujud/ kodrat maskulin dan Moa berarti Besar dan Esa. Ue Lahumoa berarti Tuhan yang berwujud maskulin yang besar dan esa. Ue Lahumoa adalah sumber segala berkat dan kebaikan karena itu sembahan diberikan berkala pada sebuah bagian atap rumah yang dapat dibuka yang disebut "tinungga." Selain Ue Lahumoa terdapat juga tuhan-tuhan (Ue-Ue) yang membawa bencana dan malapetaka. Ue-Ue inilah yang diberikan sesembahan agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Tempat-tempat yang dianggap keramat dianggap sebagai tempat bersemayamnya Ue-Ue ini. Kegiatan memberikan sesembahan ini disebut "montuila."

Pada tahun 1920-an para misionaris Kristen dari Belanda mulai memasuki wilayah suku Padoe dan memperkenalkan agama Kristen kepada masyarakat suku Padoe. Tahun 1965 banyak orang Padoe yang mengungsi ke wilayah Sulawesi Tengah, akibat adanya pergerakan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin Kahar Muzakkar. Hal ini menyebabkan suku Padoe juga banyak tersebar dan berdiam di wilayah Sulawesi Tengah hingga kini.

Rujukan

sunting
  1. ^ Idwar Anwar. Ensiklopedi kebudayaan Luwu. Komunitas Kampung Sawerigading. ISBNย 9789799837226.


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Bahasa Padoe

pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka Halaman bahasa acak Bahasa Padoe adalah sebuah bahasa Austronesia yang dipertuturkan di Sulawesi Selatan

Malili, Luwu Timur

Malili adalah tempat bertemunya suku Padoe, suku asli penduduk Luwu Timur yang disegani oleh Datu Luwu. Populasi suku Padoe di Luwu Timur menyebar dari daerah

Bahasa Indonesia

Mamasa Mamuju Mandar Moma Mongondow Mori Atas Mori Bawah Moronene Muna Napu Padoe Pamona (Ta'a) Panasuan Pancana Pannei Pendau Ponosakan Rahambuu Rampi Ratahan

Tari Moriringgo

Sulawesi Selatan yang sejak dahulu sampai sekarang dilestarikan oleh suku Padoe. Tarian syukuran ini sering dilaksanakan setelah selesai melaksanakan padungku

Kedatuan Luwu

adalah daerah dengan keragaman etnis yang sangat beragam. Orang Pamona, Padoe, Toala, Wotu dan Lemolang tinggal di dataran rendah pesisir dan kaki bukit

Bahasa Sunda

Mamasa Mamuju Mandar Moma Mongondow Mori Atas Mori Bawah Moronene Muna Napu Padoe Pamona (Ta'a) Panasuan Pancana Pannei Pendau Ponosakan Rahambuu Rampi Ratahan

Sorowako, Nuha, Luwu Timur

Selain itu, Sorowako juga mempunyai penduduk asli yang bahasa aslinya adalah Padoe. Di sekitar Sorowako terdapat 3 buah danau yang terkenal yaitu Danau Matano

Gereja di Indonesia

- GKE - (Dayak) Gereja Toraja - GeTor - (Toraja, Rongkong, Seko, Rampi, Padoe) Gereja Toraja Mamasa - GTM (Mamasa) Gereja Kristen Sulawesi Selatan - GKSS