Panette atau Pannette adalah sebutan bagi perempuan Mandar yang menjalankan profesi sebagai penenun ataupun sebutan untuk alat tenun kain sutra tradisional, khususnya lipa' sa'be, di wilayah Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Peran panette mencerminkan filosofi sibaliparri, yakni prinsip kebersamaan dalam menghadapi suka dan duka keluarga.[1] Panette telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam bentuk kemahiran budaya melalui SK No.โ€ฏ362/M/2019.[2]

Alat tenun

sunting

Alat tenun tradisional yang digunakan untuk membuat lipa' sa'be mandar disebut juga sebagai panette atau panetteang (gedokan).[3] Alat tenun ini berbahan dasar kayu dan bambu dengan beberapa komponen tertentu. Alat ini terdiri atas beberapa bagian seperti: petandayangan (tiang penyangga), pawalo (penahan benang), kalapa atau palapa (alat merapatkan benang dari kulit pelepah enau), aleโ€™ (pengatur gerakan benang atas-bawah), dan passo (penggulung kain jadi),[1] toraq (tempat gulungan benang), pallumu-lumu (pembatas benang yang melintang secara diagonal), susuq ale (pengangkat benang dari ranting bambu), suruq (alat cetak pengatur jarak benang dari pohon balambang), panetteq (untuk merapatkan benang yang menyusup disela benang lungsi), passolorang (tempat bersandarnya alat lain), dan passue' (pengukur jarak motif).[4]

Proses penenunan

sunting

Kain yang dihasilkan oleh panette dikenal sebagai lipaโ€™ saโ€™be mandar dengan motif kotak-kotak simetris.[1] Motif-motif tenun dirancang oleh bala'ba. Adapun, benang sutra yang digunakan dapat bersumber dari Cina, India, Jepang atau diproduksi lokal oleh komunitas daerah.[3] Penenunan dilakukan melalui beberapa tahap seperti: penyusunan benang, pemindahan benang ke pawalo, dan proses penenunan akhir (netteโ€™). Waktu penenunan satu kain bisa mencapai satu hingga dua minggu, tergantung ketersediaan bahan dan intensitas kerja.[1]

Motif

sunting

Motif lipaโ€™ saโ€™be hasil tenunan mencerminkan struktur sosial dan nilai budaya Mandar, seperti garis vertikal dan horizontal yang menggambarkan hubungan antara manusia dan Tuhan (hablumminallah) serta hubungan antarsesama (hablumminannas). Sarung ini juga berfungsi sebagai simbol status sosial, pelindung kehormatan, dan identitas budaya.[1] Terdapat aturan tertentu dalam pemilihan motif yang digunakan. Misalnya, dalam atraksi budaya, hindari menggunakan motif-motif tertentu seperti sureโ€™ salaka dan padzadza sebagai ikat kepala (passapu), karena dianggap mengurangi makna filosofisnya.[3]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e Sahabuddin, Chuduriah (2017). "PANETTE Sebuah Sistem Sibalippari dalam Keluarga Mandar". Pepatudzu: Media Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan. 5 (1): 59โ€“69.
  2. ^ "Pannette". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-19.
  3. ^ a b c Azis, Ahmad Ridhai; Tambono, Muhammad Adil (2023-06-08). "Dialog Panette' Tenunan Mandar Tenunan Peradaban terhadap Kelompok Panette' Kabupaten Polewali Mandar". MALAQBIQ (dalam bahasa Inggris). 2 (1): 1โ€“11. doi:10.46870/jam.v2i1.452. ISSNย 2962-0139.
  4. ^ Bahrum, Shaifuddin; Anwar, Dalif (2009-01-01). Tenunan Tradisional Sutra Mandar di Sulawesi Barat. Direktorat Jenderal Kebudayaan. ISBNย 978-602-8099-16-5.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Kerajaan Batulappa

Arung Batulappa XIII (menggantikan ayahandanya) menikah dengan Puang Balu Panette dari pernikahan tersebut melahirkan Luwu Puang Ponding Arung Batulappa

Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia

tradisional 201901069 Pakkacaping tommuane Seni pertunjukan 201901070 Panette Keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional 202301941 2023 Mappandesasi

Lebang, Cendana, Enrekang

Kabupaten Enrekang. Desa Lebang terbagi atas 4 dusun, yaitu Garege, Lebang, Panette, dan Bissakan. Harliyani, dkk. (2024). Azis, D. N. I., dan Rahman, V. F