| Pangeran Wirokusumo | |
|---|---|
| Lahir | Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri Sebelum 1839 (diperkirakan) Jambi, Kesultanan Jambi |
| Meninggal | 1905 (atau 1902 menurut makam) Olak Kemang, Kesultanan Jambi[1] |
| Dikenal atas | Ulama, Pepati Dalam Kesultanan Jambi, pembangun Rumah Batu Olak Kemang dan Masjid Al Ihsaniyyah |
| Gelar | Pangeran Wirokusumo |
| Suami/istri | 1. Ratu Mas Maryam 2. H. Sina 3. Putri Sultan Nazaruddin |
| Orang tua | Hasan Al-Jufri (ayah) |
Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri dikenal juga dengan gelar Pangeran Wirokusumo adalah seorang ulama dan tokoh penting dalam sejarah Jambi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ia dikenal atas perannya dalam pembangunan situs-situs keagamaan di wilayah Jambi Seberang, serta keterlibatannya dalam politik Kesultanan Jambi, yakni sebagai Pepati Dalam.[2] Ia juga merupakan menantu dari Sultan Ahmad Nazaruddin, Sultan Jambi yang berkuasa pada tahun 1858 hingga 1881.
Biografi
suntingSayyid Idrus bin Hasan al-Jufri lahir di Jambi, diperkirakan sebelum tahun 1839, berdasarkan catatan Belanda tahun 1879 yang menyatakan usianya di atas 40 tahun.[2] Ia berasal dari etnis Arab keturunan keluarga Al-Jufri dari Hadramaut, Yaman. Keluarga Al-Jufri merupakan golongan Sayyid (Said) yang dikenal karena kesalehan, kejujuran, serta karakter dan moral yang tinggi. Mereka dihormati dan berperan penting dalam penyebaran Islam di Nusantara, termasuk di Jambi.[3]
Sayyid Idrus menikah dengan tiga orang wanita dan memiliki tujuh orang anak. Istri pertamanya adalah Ratu Mas Maryam, yang memberinya tiga anak: Syarifah Hazrah, Sayyid Alwi, dan Sayyid Muhammad (yang bergelar Pangeran Suto). Dari istri keduanya, H. Sina, Ia dikaruniai seorang anak bernama Sayyid Ja'far. Kemudian dari istri ketiganya, dikaruniai tiga anak, yaitu Sayyid Umar, Sayyid Hasan, dan Sayyid Muhammad.[2]
Salah satu istrinya juga merupakan putri dari Sultan Nazarudin, seorang Sultan di Kesultanan Jambi. Dari pernikahan inilah Sayyid Idrus mendapatkan gelar Pangeran Wirokusumo dari Sultan Nazarudin.[2] Anak Sayyid Idrus, Pangeran Suto, kemudian menikah dengan Ratu Mas Intan, putri dari Sultan Thaha Saifuddin. Namun, pernikahan ini tidak dikaruniai anak, dan Pangeran Suto wafat pada tahun 1904. Setelah itu, Ratu Mas Intan menikah lagi dengan Abbas bin Syekh Abu Bakar, yang juga merupakan bagian dari keluarga Sayyid Idrus, dan memiliki empat anak: Syarifah Ayu, Said Abdullah, Syarifah Bulat, dan Syarifah Khadijah.[2]
Pangeran Wirokusumo wafat pada tahun 1905, meskipun di batu nisannya tertulis tahun 1902.[2] Ia dimakamkan di Desa Olak Kemang, tepatnya di depan Masjid Al Ihsaniyyah.[3]
Peran dan Kontribusi
suntingSayyid Idrus memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan agama Islam di Provinsi Jambi. Ia tidak hanya memperkenalkan agama Islam kepada penduduk setempat tetapi juga membangun dan mempertahankan keislaman Jambi, meskipun pada masa itu daerah tersebut berada di bawah kekuasaan Belanda.[2]
Penyebaran Islam
suntingSayyid Idrus bin Hasan al-Jufri dikenal sebagai salah satu penyebar agama Islam terkemuka di Jambi Kota Seberang. Ia dan rekan-rekannya secara aktif berdakwah untuk menyebarkan agama Islam, yang dampaknya masih terasa hingga saat ini. Ia memandu masyarakat menuju kebaikan, memelihara mereka dari hal-hal tercela, dan mengusapi pemahaman kepada hati masyarakat dengan iktikad yang sebenarnya.[3]
Pembangunan Masjid Al-Ikhsaniyah
suntingPada tahun 1880, Sayyid Idrus mendirikan Masjid Al Ihsaniyyah di Desa Olak Kemang, yang merupakan masjid tertua di Kota Jambi. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan dakwah di Seberang Kota Jambi.[3]
Pembangunan Rumah Batu Olak Kemang
suntingIa juga mendirikan Rumah Batu Olak Kemang di Desa Olak Kemang, yang berfungsi sebagai pusat aktivitas keagamaan dan tempat belajar bagi masyarakat setempat.[2] Penamaan "Rumah Batu" merujuk pada fakta bahwa bangunan ini merupakan salah satu rumah pertama yang dibangun dengan menggunakan material batu bata di daerah tersebut, sementara rumah lain masih dari kayu atau bambu, menjadikannya istimewa dan unik. Pembangunan rumah ini juga didasari kebutuhan akan tempat yang lebih besar untuk menampung tamu seperti Sultan Nazaruddin atau Sultan Thaha Saifuddin beserta keluarga mereka saat berkunjung ke ilir Jambi, mengingat akses jalan yang sempit dan perlunya menggunakan perahu jukong.[2] Dalam proses pembangunannya, Sayyid Idrus menerima saran dari Datuk Shintai, seorang pedagang muslim dari Tiongkok dan penasihat Kesultanan Jambi, untuk mengkombinasikan arsitektur Tiongkok dan Melayu pada desain rumah. Arsitektur Tiongkok terlihat dari lambang naga dan barongsai di atas bumbungan atap, serta patung singa di pintu kolam pemandian yang menyatu dengan rumah. Pembangunan rumah ini disetujui pada abad ke-18, dengan akulturasi gaya arsitektur Melayu, Tiongkok, dan Eropa.[2]
Peran dalam Kesultanan Jambi
suntingSayyid Idrus memegang peran politik penting. Ia menerima gelar Pangeran Wirokusumo langsung dari Sultan Nazarudin, yang juga memberinya kekuasaan sebagai "Pepati Dalam" di Keraton Jambi. Hal ini memungkinkannya untuk menggantikan peran sultan, ketika sultan tidak berada di tempat. Keluarga Arab, termasuk Sayyid Idrus, berperan sebagai mediator dan juru bicara antara penguasa lokal dengan pemerintahan Belanda pada masa itu, serta antara keluarga Al-Jufri dengan Keraton Jambi. Selama masa kepemimpinannya di Kesultanan Jambi, Ia berperan penting dalam menjalankan pemerintahan karena Sultan Nazaruddin kurang menyukai kehadiran Belanda di Jambi dan memilih menjauh.[2]
Referensi
sunting- ^ Makam Pangeran Wirokusumo di jambikota.go.id Diakses 9 Juni 2025
- ^ a b c d e f g h i j k Siregar, Isrina; Niswari, Vina Ayu; Sinurat, Junita Yosephine; Supian; Agustiningsih, Nur (2023). "Islamisasi di Jambi oleh Pangeran Wirokusumo (1860-1902)". HISTORIA: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah. 7 (1): 73โ82. doi:10.17509/historia.v7i1.57136. Diakses tanggal 2025-05-31.
- ^ a b c d Falah, Muhammad; Andriana, Anggia Rita (Juni 2023). "Tapak Tilas Para Habib pada Permukaan Kultur Masyarakat Seberang Jambi Sebagai Penguat Upaya untuk Melindungi dan Menjaga Warisan Budaya Menuju Kota yang Berkelanjutan". MALAY Studies: History, Culture and Civilization. 2 (1): 1โ14. Diakses tanggal 2025-05-31.