Pelesit atau Palasik adalah sosok dalam kepercayaan tradisional masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat. Dalam tradisi lisan setempat, palasik digambarkan sebagai manusia yang diyakini memiliki kemampuan gaib atau mempraktikkan ilmu hitam. Berbeda dengan hantu atau makhluk supranatural sepenuhnya, palasik dipahami sebagai individu manusia yang memperoleh kekuatan tersebut melalui praktik ilmu gaib, ritual tertentu, atau warisan dalam garis keluarga. Dalam cerita rakyat Minangkabau, palasik sering diasosiasikan dengan gangguan terhadap bayi, balita, atau janin dalam kandungan, sehingga keberadaannya menjadi salah satu unsur yang menimbulkan kekhawatiran dalam kehidupan sosial masyarakat tradisional, terutama terkait keselamatan anak dan ibu hamil.[1]

Kepercayaan mengenai palasik merupakan bagian dari budaya rakyat dan sistem kepercayaan lokal yang berkaitan dengan konsep kesehatan, perlindungan anak, serta hubungan manusia dengan dunia gaib. Kisah mengenai sosok ini terutama diwariskan melalui tradisi lisan, cerita rakyat, dan praktik pengobatan tradisional di wilayah budaya Minangkabau serta kawasan Melayu lainnya, seperti Riau dan beberapa daerah di Sumatra.[2][3]

Asal-usul kepercayaan

sunting

Dalam pandangan masyarakat tradisional Minangkabau, palasik diyakini sebagai manusia yang memiliki kekuatan gaib yang digunakan untuk tujuan tertentu, khususnya untuk memperoleh kekuatan atau mempertahankan kehidupannya. Kekuatan tersebut dipercaya dapat diperoleh melalui praktik ilmu hitam atau diwariskan secara turun-temurun dalam suatu keluarga. Oleh karena itu, terdapat anggapan bahwa keturunan seseorang yang dianggap palasik berpotensi mewarisi kemampuan yang sama. Cerita rakyat juga menggambarkan bahwa orang-orang yang memiliki kemampuan palasik cenderung membentuk hubungan yang erat dengan sesama palasik. Mereka dipercaya saling membantu dan menjaga rahasia satu sama lain. Meskipun demikian, dalam kehidupan sosial sehari-hari mereka tetap dapat berbaur dengan masyarakat umum. Seorang yang dicurigai sebagai palasik dapat menjalani kehidupan normal, menghadiri pertemuan adat, bahkan memiliki status sosial tertentu di dalam komunitasnya. secara sosial, individu yang dicurigai sebagai palasik sering mengalami pengucilan atau stigma dari masyarakat luas. Hal ini karena keberadaan mereka dianggap membahayakan, terutama bagi keluarga yang memiliki anak dibawah umur.[1][4]

Kepercayaan masyarakat menyebutkan bahwa sasaran utama palasik adalah anak-anak, terutama bayi dan balita. Dalam beberapa cerita, palasik juga diyakini dapat menyerang janin dalam kandungan sehingga bayi dapat lahir dalam kondisi meninggal. Selain itu, terdapat pula kepercayaan bahwa palasik dapat menyebabkan anak jatuh sakit tanpa sebab yang jelas. Gejala yang sering dikaitkan dengan pengaruh palasik meliputi demam tinggi yang berkepanjangan, tubuh menjadi lemah dan kurus, gangguan pencernaan seperti diare, serta kondisi mata yang tampak sayu atau berair. Dari sisi perilaku, anak yang diduga terkena pengaruh palasik sering digambarkan menangis terus-menerus, sulit tidur, atau tampak gelisah pada malam hari. Dalam masyarakat tradisional, gejala-gejala tersebut sering ditafsirkan sebagai akibat gangguan gaib, sehingga keluarga biasanya meminta bantuan dukun atau tabib untuk melakukan pengobatan tradisional.[1][4]

Klasifikasi dalam cerita rakyat

sunting

Dalam tradisi lisan masyarakat Minangkabau, palasik umumnya dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu palasik bangkai dan palasik kuduang. Pembagian ini didasarkan pada bentuk perilaku atau kemampuan gaib yang dikaitkan dengan sosok tersebut.[5][6]

Palasik bangkai

sunting

Palasik bangkai digambarkan sebagai individu yang memiliki kebiasaan memakan daging atau tulang manusia yang telah dikuburkan. Dalam cerita rakyat, palasik jenis ini sering mencuri mayat bayi dari kuburan untuk dijadikan makanan atau sumber kekuatan gaib. Praktik tersebut dipercaya dilakukan secara diam-diam pada malam hari, terutama ketika suasana kampung sedang sepi. Kepercayaan ini juga berkaitan dengan kebiasaan masyarakat di beberapa daerah Minangkabau untuk menjaga kuburan anak yang baru meninggal selama beberapa malam setelah pemakaman. Penjagaan tersebut dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan pencurian mayat oleh palasik. Dalam cerita rakyat, palasik bangkai digambarkan akan menjadi lemah dan pucat jika tidak memakan daging manusia dalam jangka waktu tertentu.[6]

Palasik kuduang

sunting

Jenis kedua adalah palasik kuduang, yang dalam beberapa cerita juga dikenal sebagai penanggal. Palasik jenis ini dipercaya memiliki kemampuan untuk memisahkan kepala dari tubuhnya. Kepala tersebut kemudian bergerak pada malam hari untuk mencari mangsa, sementara tubuhnya tetap berada di tempat asal. Dalam narasi folklor, kepala palasik kuduang digambarkan dapat bergerak dengan bantuan tangan yang ikut terlepas dari tubuh. Setelah memperoleh mangsa atau memenuhi tujuannya, kepala tersebut akan kembali dan menyatu kembali dengan tubuhnya. Palasik kuduang juga sering digambarkan kebal terhadap senjata tajam dan mampu menghilang dengan cepat apabila dikejar.[6]

Penangkal dan praktik pengobatan tradisional

sunting

Berbagai praktik tradisional berkembang dalam masyarakat sebagai upaya melindungi anak-anak dari pengaruh palasik. Salah satu cara yang umum dilakukan adalah memasang penangkal pada pakaian bayi atau di sekitar rumah. Penangkal tersebut biasanya berupa ramuan yang terdiri dari bahan-bahan seperti merica, bawang putih tunggal, pinang, pala, cengkih, dan kunyit.[7] Selain itu, terdapat pula praktik lain seperti menaburkan garam di sekeliling rumah, menggantung bawang putih pada pintu dan jendela, atau menanam telur angsa di halaman rumah. Dalam beberapa kasus, masyarakat juga memelihara angsa karena suara hewan tersebut dipercaya dapat mengusir palasik. Pengobatan terhadap anak yang diduga terkena pengaruh palasik biasanya dilakukan oleh dukun atau tabib tradisional. Proses pengobatan dapat melibatkan pembacaan mantra, penggunaan ramuan herbal, atau tindakan simbolik seperti meniup ubun-ubun bayi. Mantra yang digunakan merupakan bagian dari sastra lisan masyarakat Melayu yang diwariskan secara turun-temurun.[2][6]

Pelesit dalam folklor Melayu

sunting

Dalam folklor masyarakat Malaysia dikenal makhluk gaib bernama pelesit, yang diciptakan melalui praktik sihir seorang penyihir perempuan untuk dijadikan makhluk peliharaan supranatural. Penciptaannya digambarkan melalui ritual kompleks, misalnya menangkap bayangan sendiri pada malam bulan purnama hingga muncul penampakan anak kecil yang lidahnya diambil dan kemudian berubah menjadi pelesit. Makhluk ini memerlukan makanan khusus, seperti campuran darah jari keempat penyihir dan nasi kunyit, serta mampu berubah wujud menjadi serangga kecil, terutama jangkrik rumah, agar dapat menyusup tanpa diketahui. Pelesit biasanya diperintahkan menyerang anak-anak dari sasaran tertentu, menyebabkan penyakit misterius, kejang, atau perilaku tidak biasa, dan sering bekerja bersama makhluk gaib lain seperti Polong. Meski terdapat jampi atau penangkal, pengaruh pelesit dipercaya sulit diatasi setelah serangan dimulai.[8][9][10]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c Yuniarti, Kwartarini Wahyu; Hanafi, Sekar; Laheba, Teofilus Hans (2021-01-22). Psikopatologi Lintas Budaya. UGM PRESS. hlm.ย 106. ISBNย 978-602-386-849-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ a b Medan Bahasa. 1958. hlm.ย 47โ€“48. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ Masyarakat Melayu Riau dan kebudayaannya. Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1986.
  4. ^ a b Helfi (2022-10-03). Sjech Hasbullah (Dari Biografi Sampai Tafsir Keislaman dalam Konteks Lokal Minangkabau). Penerbit Widina. hlm.ย 79. ISBNย 978-623-459-200-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ^ Managak-an banang basah: membangun tradisi intelektual dalam masyarakat kampus yang hedonisย : persembahan untuk Prof. Dr. Amir Hakim Usman. Minangkabau Press, Fakultas Sastra, Universitas Andalas. 2010. hlm.ย 113. ISBNย 978-602-95529-0-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ^ a b c d dkk, Novi Anoegrajekti, V. Endah Imawati, Ifan Iskandar, H. R. Utami. Sastra Horor. PT Kanisius. hlm.ย 329โ€“335. ISBNย 978-979-21-8213-2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ^ Anas Nafis, Animisme di Minangkabau, (Padang: Pusat Pengkajian Islam Minangkabau (PPIM) Sumatera Barat, 2004), 10.
  8. ^ Bane, Theresa (2025-10-08). The Undead in World Mythology and Folklore: An Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). McFarland. hlm.ย 138. ISBNย 978-1-4766-5606-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. ^ Folklore Society of Great Britain. 1902. Folklore, Vol. 13: hlm. 150โ€“157
  10. ^ Skeat, Walter William. 1900. Malay Magic: Being an Introduction to the Folklore and Popular Religion of the Malay Peninsula. London: Macmillan & Co., hlm. 321, 328โ€“330.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Hantu dalam budaya Melayu

identitas pemiliknya, korban akan meninggal setelah satu atau dua hari. Pelesit Pelesit diciptakan dari lidah mayat yang baru dikubur, yang ibunya juga merupakan

Azar Azmi

Kolestrol Solehah TV9 Derita Untuk Bahagia Alisya Astro Prima Bila Syaitan Berbisik Dhia Astro Ria Malaysian Ghost Stories Azizah Episode: โ€œPelesitโ€

Mentari Merah di Ufuk Timur

No. Judul Lirik Musik Durasi 1. "Pelesit Kota" Bakri Johari M. Nasir 4:06 2. "Fantasia Bulan Madu" M. Nasir M. Nasir 5:13 3. "Gelora Cintaku" Search Search

Rockestra (album Search)

No. Judul Durasi 1. "Pawana / Pelesit Kota" (dari Rock N' Roll Pie Live N' Loud (1997)) 8.30 2. "Bencana *" 6.52 3. "Kejora" (dari "Unplugged" Gema Di