Pendidikan perempuan adalah istilah yang mencakup berbagai isu mengenai pendidikan bagi anak perempuan dan perempuan dewasa, termasuk pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tersier, serta pendidikan kesehatan.[1][2] Istilah ini juga disebut sebagai pendidikan anak perempuan atau pendidikan wanita. Ruang lingkupnya meliputi kesetaraan gender dan akses terhadap layanan pendidikan. Pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan berperan penting dalam pengentasan kemiskinan.[3] Topik terkait yang lebih luas mencakup pendidikan jenis kelamin tunggal dan pendidikan keagamaan bagi perempuan, di mana proses pendidikan dipisahkan berdasarkan gender.

Ketimpangan pendidikan bagi anak perempuan dan perempuan memiliki berbagai bentuk.[4] Hambatan dapat berupa faktor langsung, seperti kekerasan terhadap perempuan atau pembatasan sosial terhadap kehadiran anak perempuan di sekolah, serta faktor tidak langsung yang bersifat struktural. Kesenjangan dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) tercatat di berbagai wilayah, termasuk Eropa dan Amerika Utara.[5] Di sejumlah negara Barat, perempuan memiliki tingkat pencapaian pendidikan formal yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki pada beberapa jenjang. Di Amerika Serikat pada tahun akademik 2020/2021, perempuan memperoleh 63% gelar associate, 58% gelar sarjana, 62% gelar magister, dan 56% gelar doktor.[6]

Peningkatan tingkat pendidikan anak perempuan memiliki dampak terhadap kesehatan dan kondisi ekonomi perempuan muda, yang kemudian meningkatkan indikator kesejahteraan pada tingkat komunitas.[7] Angka kematian bayi dari ibu yang menyelesaikan pendidikan dasar tercatat lebih rendah dibandingkan ibu yang tidak melek huruf.[8] Di negara-negara dengan tingkat pendapatan terendah, sekitar 50% anak perempuan tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah.[9][10][11][12][13] Sejumlah penelitian mencatat bahwa tambahan satu tahun pendidikan berkorelasi dengan peningkatan pendapatan seumur hidup sebesar sekitar 15%. Peningkatan pendidikan perempuan juga dikaitkan dengan perubahan pola alokasi pendapatan dalam rumah tangga.[14] Di beberapa negara Afrika, seperti Burkina Faso, faktor infrastruktur dasar, termasuk ketersediaan fasilitas sanitasi yang terpisah, tercatat sebagai salah satu faktor yang memengaruhi partisipasi sekolah anak perempuan.[15]

Pendidikan perempuan berkorelasi dengan indikator kesehatan individu dan keluarga.[16][17][18] Tingkat pendidikan yang lebih tinggi dikaitkan dengan perbedaan dalam usia aktivitas seksual pertama, usia pernikahan pertama, dan usia kelahiran pertama.[19][20] Pendidikan juga berhubungan dengan variasi dalam status perkawinan, jumlah anak, serta partisipasi dalam hubungan jangka panjang.[21][22] Sejumlah penelitian mencatat hubungan antara tingkat pendidikan, peluang karier, dan perencanaan kehidupan.[23][24] Di beberapa komunitas, norma budaya mengenai peran gender tercatat memengaruhi akses pendidikan bagi perempuan.[25] Pendidikan juga dikaitkan dengan tingkat penggunaan kontrasepsi, prevalensi infeksi menular seksual, akses terhadap sumber daya bagi perempuan yang bercerai atau berada dalam situasi kekerasan dalam rumah tangga, kemampuan komunikasi dengan pasangan dan rekan kerja, serta meningkatkan keterlibatan sipil.[26][27][28]

Pengurangan ketimpangan pendidikan bagi perempuan tercantum dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 5 tentang Kesetaraan Gender. Di negara berkembang, pendidikan anak perempuan dan pemberdayaan perempuan secara umum berkontribusi pada percepatan pembangunan dan penurunan laju pertumbuhan penduduk, sehingga berperan penting dalam penanganan isu lingkungan seperti mitigasi perubahan iklim.[13][29] Menurut Project Drawdown, pendidikan anak perempuan sebagai salah satu langkah dengan dampak signifikan dalam mengatasi perubahan iklim.[30]

Masalah

sunting

Kekerasan terhadap perempuan

sunting

Kekerasan terhadap perempuan, termasuk yang dialami oleh pelajar perempuan, merupakan isu sosial dan politik yang muncul di berbagai negara dalam konteks dan dengan latar belakang berbeda. Di Swedia pada periode 1900 hingga 1940, kekerasan terhadap guru perempuan menjadi perhatian publik.[31][32][33] Pada sekitar tahun 1900, sekitar 66 persen tenaga pengajar di negara tersebut adalah perempuan. Banyak di antara mereka bekerja di daerah pedesaan yang terpencil, sehingga menghadapi kondisi kerja yang terisolasi serta risiko ancaman kekerasan. Berbagai kalangan, termasuk politisi, pendidik, dan penulis perempuan, terlibat dalam diskusi mengenai langkah-langkah pencegahan, seperti penyediaan anjing penjaga, senjata, dan sarana komunikasi seperti telepon.[34]

Di Pakistan, penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif antara tingkat pendidikan formal yang dicapai perempuan dengan kemungkinan mereka mengalami kekerasan (berdasarkan rentang setelah tahun 2013). Semakin tinggi tingkat pendidikan seorang perempuan, semakin rendah risiko seseorang mengalami kekerasan.[35][36] Penelitian tersebut menggunakan metode pengambilan sampel snowball yaitu teknik di mana partisipan direkomendasikan oleh partisipan lain, dengan pertimbangan etika dan privasi. Penelitian ini melibatkan perempuan menikah berusia 18 hingga 60 tahun dari wilayah pedesaan dan perkotaan. Data dikumpulkan melalui informan dan diverifikasi ulang. Hasil penelitian menggambarkan berbagai bentuk kekerasan fisik yang dialami perempuan serta kondisi yang mereka hadapi dalam berbagai lingkungan sosial. Pendidikan disebut sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan penurunan risiko kekerasan, dengan catatan adanya hambatan sosial dan politik yang turut memengaruhi.[37]

Hubungan antara pendidikan dan pemberdayaan perempuan tidak selalu bersifat langsung. Perempuan yang tidak memiliki kemampuan baca tulis juga dapat mengalami peningkatan kapasitas diri. Hal ini terlihat dalam studi kualitatif terhadap perempuan imigran Latina (Immigrant Latina Women, disingkatย : ILW) yang mengikuti program selama sebelas minggu dalam kelompok kecil. Program tersebut berfokus pada peningkatan harga diri, pemahaman mengenai kekerasan dalam rumah tangga, dan pengembangan hubungan yang sehat. Meskipun tidak berada dalam lingkungan pendidikan formal, kegiatan tersebut mencakup dialog, pemikiran kritis, dan aspek kesejahteraan emosional. Peserta menunjukkan peningkatan dalam kemampuan mengelola kehidupan pribadi.[38]

Di berbagai negara lain, kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan terjadi dalam berbagai bentuk dan dampak. Di Nigeria, misalnya, UNICEF mengidentifikasi sejumlah fakta terkait fenomena ini, termasuk adanya dampak fisik dan psikologis, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dampak tersebut juga memengaruhi anak-anak dan masyarakat secara luas. Salah satu faktor yang berkaitan dengan kondisi ini adalah keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan. Upaya pembangunan sosial mencakup peningkatan akses terhadap pembelajaran serta pembentukan pola perilaku yang mendukung perlindungan dari kekerasan.[39][40] Di Zambia, sejak dekade 1980-an diterapkan kebijakan penyediaan pendidikan pada berbagai jenjang. Kebijakan ini berkaitan dengan upaya peningkatan kondisi sosial masyarakat, termasuk dalam konteks yang berhubungan dengan kekerasan terhadap perempuan.[41]

Pemberdayaan perempuan

sunting

Pemberdayaan perempuan dalam konteks pendidikan merujuk pada peran sistem pendidikan dalam membentuk pengalaman, akses, dan peluang peserta didik perempuan.[42][43] Sistem pendidikan memiliki perbedaan dalam aspek administrasi, kurikulum, dan tenaga pendidik, namun secara umum memberikan pengaruh terhadap perkembangan individu. Seiring dengan meningkatnya pengakuan terhadap hak-hak perempuan, pendidikan formal dipahami sebagai salah satu indikator perkembangan sosial serta sebagai bagian dari upaya menuju kesetaraan gender. Upaya tersebut memerlukan pendekatan yang menyeluruh dengan mempertimbangkan variasi kondisi sosial, budaya, dan struktural di berbagai wilayah.[44]

Fokus pada pemberdayaan perempuan dalam sistem pendidikan di berbagai negara menunjukkan keterkaitan dengan peningkatan akses dan partisipasi perempuan. Namun, penekanan pada pendidikan sebagai solusi tunggal terhadap kekerasan terhadap perempuan dan ketergantungan ekonomi dapat mengabaikan faktor lain seperti konteks sosial, sejarah, dan kondisi struktural. Dalam beberapa wacana publik, peristiwa yang melibatkan tokoh seperti Malala Yousafzai di Pakistan dan penculikan siswi di Chibok, Nigeria, dijadikan contoh pentingnya pendidikan bagi perempuan, meskipun faktor-faktor lain seperti kondisi politik, ekonomi, dan keamanan juga berperan dalam peristiwa tersebut.[45]

Lembaga pendidikan memiliki peran dalam memengaruhi minat siswa terhadap berbagai bidang studi, termasuk sains, teknologi, teknik, dan matematika. Akses yang setara terhadap pendidikan di bidang tersebut berkaitan dengan peluang pemberdayaan perempuan.[5] Di Bangladesh, pemerintah melaksanakan berbagai program untuk meningkatkan tingkat literasi perempuan, antara lain melalui distribusi buku gratis bagi siswa sekolah dasar, penyediaan pendidikan tanpa biaya bagi perempuan hingga tingkat universitas, serta pemberian bantuan finansial bagi siswi sekolah menengah di daerah pedesaan.[46]

Kesetaraan gender dalam pendidikan tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap sekolah, tetapi juga mencakup isi kurikulum dan proses pembelajaran.[47] Penguatan kepercayaan diri dan kapasitas perempuan untuk berpartisipasi secara setara dalam masyarakat menjadi bagian dari perhatian dalam pendidikan. Metode pengajaran yang digunakan oleh guru turut memengaruhi tingkat pemberdayaan dan kesetaraan gender di lingkungan sekolah. Beberapa program di negara seperti Peru dan Malawi melibatkan pelatihan guru dengan pendekatan pembelajaran yang sensitif terhadap gender. Program tersebut mencakup penyusunan panduan pengajaran serta pelatihan bagi guru untuk mendukung lingkungan belajar yang memperhatikan kesetaraan. Inisiatif ini bertujuan untuk membantu siswa perempuan dalam mengenali dan mengembangkan potensi mereka dalam berbagai bidang.[48]

Dampak pendidikan perempuan terhadap sosial ekonomi

sunting

Dampak pendidikan perempuan terhadap pembangunan sosial ekonomi merupakan salah satu bidang kajian dalam pembangunan antarnegara. Peningkatan tingkat pendidikan perempuan di suatu wilayah berkaitan dengan tingkat pembangunan yang lebih tinggi.[49][50] Dampak tersebut mencakup aspek ekonomi dan sosial. Dalam bidang ekonomi, pendidikan perempuan berkaitan dengan peningkatan pendapatan individu serta kontribusi terhadap pertumbuhan produk domestik bruto. Dalam bidang sosial, pendidikan perempuan berhubungan dengan berbagai perubahan yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas dan peran perempuan dalam masyarakat.[51][52]

Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pendidikan dengan perubahan dalam perencanaan kehidupan dan pola pengambilan keputusan perempuan, termasuk dalam hal pilihan karier dan pembentukan keluarga. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan partisipasi dalam menentukan waktu pernikahan, jumlah anggota keluarga, serta perkembangan karier.[23] Kondisi ini juga berkaitan dengan pergeseran dari peran domestik tradisional menuju keterlibatan dalam kegiatan profesional. Akses terhadap pendidikan berhubungan dengan keterlibatan perempuan dalam posisi kepemimpinan, kewirausahaan, dan pekerjaan teknis di berbagai komunitas.[24] Dalam masyarakat dengan norma gender tradisional yang kuat, terdapat kecenderungan pembatasan pendidikan bagi anak perempuan. Nilai perempuan dalam konteks tersebut sering dikaitkan dengan peran domestik dan pengasuhan anak. Kondisi ini dapat menimbulkan resistensi terhadap pendidikan perempuan, yang dipandang sebagai faktor yang berpotensi mengubah norma sosial yang berlaku.[25] Pembatasan akses pendidikan tersebut dapat memperkuat pola yang berulang, di mana ekspektasi terhadap peran perempuan tetap bertahan.[24]

Kajian sistematis mengenai pelatihan kejuruan dan bisnis bagi perempuan di negara berpendapatan rendah dan menengah menunjukkan bahwa program tersebut memiliki dampak positif dalam skala terbatas terhadap tingkat pekerjaan dan pendapatan, meskipun hasilnya beragam. Program cenderung lebih efektif jika pelaksanaannya lebih berfokus pada aspek gender.[53]

Dampak lingkungan

sunting

Pendidikan perempuan dan pemberdayaan perempuan di negara berkembang berdampak pada percepatan pembangunan serta penurunan laju pertumbuhan penduduk. Kondisi ini secara tidak langsung memberikan pengaruh signifikan terhadap isu lingkungan, termasuk perubahan iklim. Jaringan penelitian Drawdown memperkirakan bahwa pendidikan perempuan termasuk salah satu tindakan paling efektif untuk mengatasi perubahan iklim, menempati posisi keenam dalam daftar strategi mitigasi, di atas penerapan ladang tenaga surya, tenaga nuklir, aforestasi, dan berbagai tindakan lainnya.[54]

Jenis-jenis pendidikan khusus

sunting

Pendidikan teknologi

sunting
Persentase mahasiswa perempuan yang terdaftar dalam program teknik, manufaktur, dan konstruksi pada pendidikan tinggi di berbagai wilayah dunia.

Perkembangan teknologi dan layanan digital menjadikan keterampilan digital sebagai salah satu faktor yang memengaruhi partisipasi dalam masyarakat. Ketidakmampuan mengakses dan menggunakan internet dikaitkan dengan berbagai keterbatasan dalam akses informasi, layanan, dan peluang. Fenomena ini awalnya lebih banyak tercatat di negara-negara berpendapatan tinggi, namun dengan meningkatnya penyebaran teknologi yang terhubung ke internet, kondisi tersebut juga ditemukan di berbagai wilayah dunia. Peningkatan keterampilan digital bagi perempuan dan anak perempuan dikaitkan dengan akses yang lebih luas terhadap informasi dan layanan. Situs web dan aplikasi seluler di bidang kesehatan dan hak hukum dapat menyediakan informasi yang digunakan dalam pengambilan keputusan pribadi dan keluarga. Jejaring sosial daring dan sarana komunikasi digital juga memungkinkan pertukaran informasi di luar lingkup komunitas terdekat.[55]

Pembelajaran berbasis perangkat seluler, termasuk aplikasi literasi dan kursus daring terbuka massal (MOOC), menyediakan alternatif jalur pendidikan bagi anak perempuan yang tidak bersekolah dan perempuan dewasa.[56] Platform pencarian kerja dan jejaring profesional menyediakan sarana untuk mengakses pasar tenaga kerja, sementara layanan perdagangan elektronik dan perbankan digital dikaitkan dengan peluang kegiatan ekonomi yang lebih luas.[55]

Pendidikan STEM

sunting

Pendidikan perempuan di bidang STEM merujuk pada partisipasi anak perempuan dan perempuan dewasa dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyatakan bahwa kesenjangan gender di bidang ini berkaitan dengan diskriminasi, bias, norma sosial, dan ekspektasi yang memengaruhi kualitas pendidikan yang diterima perempuan serta bidang studi yang mereka pilih. UNESCO juga mengaitkan peningkatan partisipasi perempuan di bidang STEM dengan agenda pembangunan berkelanjutan.[5]

Disabilitas

sunting

Akses pendidikan bagi perempuan penyandang disabilitas menunjukkan perkembangan dalam beberapa dekade terakhir. Pada tahun 2011, Giusi Spagnolo menjadi perempuan pertama dengan sindrom Down yang menyelesaikan pendidikan tinggi di Eropa setelah lulus dari Universitas Palermo, Italia.[57][58]

Tradisi Katolik

sunting

Dalam tradisi Katolik Roma, perhatian terhadap pendidikan perempuan sudah muncul sejak abad ke-3 Masehi melalui Sekolah Alexandria, yang menyelenggarakan kursus bagi laki-laki dan perempuan.[59] Tokoh-tokoh gereja seperti St. Ambrosius, St. Agustinus, dan St. Hieronimus kemudian meninggalkan surat-surat bimbingan untuk perempuan di biara yang mereka dirikan atau dukung.[60][61] Pada Abad Pertengahan, sejumlah lembaga keagamaan berkembang dengan misi khusus untuk pendidikan perempuan, salah satunya berupa sekolah biara yang menjadi salah satu bentuk pendidikan pada masa itu.[62][63][64] Tradisi ini berlanjut pada periode modern awal melalui ordo seperti Ursulin pada tahun 1535[65] dan Religious of the Sacred Heart of Mary pada tahun 1849.[66] Sekolah biara kontemporer umumnya tidak lagi terbatas pada murid Katolik dan bahkan dapat menerima siswa laki-laki, seperti yang ada di India,[67] sehingga peran institusi ini tetap relevan dalam konteks pendidikan saat ini.[68]

Referensi

sunting
  1. ^ ะฃัะฐะผะพะฒ, ะ˜.ะ . (2019-12-18). "Digital Transformation of Education: Challenges and Prospects". ะ’ะตัั‚ะฝะธะบ ะ“ะ“ะะขะฃ. ะ“ัƒะผะฐะฝะธั‚ะฐั€ะฝั‹ะต ะ˜ ะกะพั†ะธะฐะปัŒะฝะพ-ัะบะพะฝะพะผะธั‡ะตัะบะธะต ะะฐัƒะบะธ. 3 (17). doi:10.34708/gstou.2019.17.3.021. ISSNย 2686-9721. S2CIDย 242230851.
  2. ^ Osler, Audrey; Vincent, Kerry (2003). Girls and Exclusion. doi:10.4324/9780203465202. ISBNย 978-1-134-41283-9.
  3. ^ Osman, Abdal Monium Khidir (November 2002). "Challenges for integrating gender into poverty alleviation programmes: Lessons from Sudan". Gender & Development. 10 (3): 22โ€“30. doi:10.1080/13552070215922. ISSNย 1355-2074. S2CIDย 71270250.
  4. ^ Dekkers, Hetty P.J.M.; Bosker, Roel J.; Driessen, Geert W.J.M. (March 2000). "Complex Inequalities of Educational Opportunities. A Large-Scale Longitudinal Study on the Relation Between Gender, Social Class, Ethnicity and School Success". Educational Research and Evaluation. 6 (1): 59โ€“82. doi:10.1076/1380-3611(200003)6:1;1-i;ft059. ISSNย 1380-3611. S2CIDย 144400482.
  5. ^ a b c Cracking the code: Girls' and women's education in science, technology, engineering and mathematics (STEM) (PDF). UNESCO. 2017. ISBNย 978-92-3-100233-5.
  6. ^ "Historical summary of faculty, enrollment, degrees conferred, and finances in degree-granting postsecondary institutions: Selected academic years, 1869-70 through 2020-21". National Center for Education Statistics. 2021. Diakses tanggal Jan 30, 2025.
  7. ^ "CAMFED USA: What we do". CAMFED. Diarsipkan dari asli tanggal October 9, 2011. Diakses tanggal October 11, 2011.
  8. ^ "Girls Education:A lifeline to development". 1995. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-04-25. Diakses tanggal 2022-02-03.
  9. ^ Filmer, Deon (2007-06-29). "If you build it, will they come? School availability and school enrolment in 21 poor countries". The Journal of Development Studies. 43 (5): 901โ€“928. doi:10.1080/00220380701384588. ISSNย 0022-0388. S2CIDย 216140496.
  10. ^ Herz, Barbara; Subbarao, K.; Habib, Masooma; Raney, Laura (1991-09-30). "Letting girls learn". World Bank Discussion Papers. doi:10.1596/0-8213-1937-x. ISBNย 978-0-8213-1937-6. ISSNย 0259-210X.
  11. ^ Paudel, Ramesh C. (2019-12-31). "Collier, P. (2008). The Bottom Billion: Why the Poorest Countries are Failing and What Can be Done About It, Oxford University Press, USA". Economic Journal of Nepal. 42 (3โ€“4): 79โ€“82. doi:10.3126/ejon.v42i3-4.36039. ISSNย 1018-631X. S2CIDย 242154293.
  12. ^ Comer, Debra R.; Vega, Gina (2015-05-18). Moral Courage in Organizations: Doing the Right Thing at Work (dalam bahasa Inggris). M.E. Sharpe. ISBNย 978-0-7656-2768-1.
  13. ^ a b Grimm, Wolfram (November 2006). "What Is Evidence-Based, What Is New in Medical Therapy of Acute Heart Failure?". Herz Kardiovaskulรคre Erkrankungen. 31 (8): 771โ€“779. doi:10.1007/s00059-006-2910-y. ISSNย 0340-9937. PMIDย 17149679. S2CIDย 38811473.
  14. ^ "Plan Overseas - Why Girls?". Plan Canada. Diarsipkan dari asli tanggal November 13, 2011. Diakses tanggal October 29, 2011.
  15. ^ "Plan Overseas โ€“ Education Girl-friendly schools see enrollment rates soar in Burkina Faso". Plan Canada. Diarsipkan dari asli tanggal October 11, 2011. Diakses tanggal October 29, 2011.
  16. ^ Chandra, Anjani; Martinez, Gladys M.; Mosher, William D.; Abma, Joyce C.; Jones, Jo (2005). "Fertility, family planning, and reproductive health of U.S. women: Data from the 2002 National Survey of Family Growth". PsycEXTRA Dataset. doi:10.1037/e414702008-001.
  17. ^ "Kakkar, Baron, (Ajay Kumar Kakkar) (born 28 April 1964)", Who's Who, Oxford University Press, 2010-12-01, doi:10.1093/ww/9780199540884.013.u251313
  18. ^ Ross, Catherine E.; Mirowsky, John; Goldsteen, Karen (November 1990). "The Impact of the Family on Health: The Decade in Review". Journal of Marriage and the Family. 52 (4): 1059. doi:10.2307/353319. ISSNย 0022-2445. JSTORย 353319. S2CIDย 29506270.
  19. ^ Miller, Brent C.; Moore, Kristin A. (November 1990). "Adolescent Sexual Behavior, Pregnancy, and Parenting: Research through the 1980s". Journal of Marriage and the Family. 52 (4): 1025. doi:10.2307/353317. ISSNย 0022-2445. JSTORย 353317.
  20. ^ Bongaarts, John; Rindfuss, Ronald R.; Morgan, S. Philip; Swicegood, Gray (December 1988). "First Births in America: Changes in the Timing of Parenthood". Population and Development Review. 14 (4): 747. doi:10.2307/1973641. ISSNย 0098-7921. JSTORย 1973641.
  21. ^ Harrison, Abigail; O'Sullivan, Lucia F. (2010-03-31). "In the Absence of Marriage: Long-Term Concurrent Partnerships, Pregnancy, and HIV Risk Dynamics Among South African Young Adults". AIDS and Behavior. 14 (5): 991โ€“1000. doi:10.1007/s10461-010-9687-y. ISSNย 1090-7165. PMCย 3848496. PMIDย 20354777.
  22. ^ Kuperberg, Arielle (2014-03-04). "Age at Coresidence, Premarital Cohabitation, and Marriage Dissolution: 1985โ€“2009". Journal of Marriage and Family. 76 (2): 352โ€“369. doi:10.1111/jomf.12092. ISSNย 0022-2445.
  23. ^ a b Elsayed, Ahmed; Shirshikova, Alina (2023-06-01). "The women-empowering effect of higher education". Journal of Development Economics. 163: 103101. doi:10.1016/j.jdeveco.2023.103101. ISSNย 0304-3878.
  24. ^ a b c Wolfe, Leslie R. (2020). Women, Work, and School: Occupational Segregation and the Role of Education. Milton: Taylor & Francis Group. ISBNย 978-1-000-00902-6.
  25. ^ a b Mushibwe, Christine Phiri (2014). What are the effects of cultural traditions on the education of women? The study of Tumbuka People of Zambia. Hamburg: Anchor Academic Publishing. ISBNย 978-3-95489-597-7.
  26. ^ Leke, Robert J. I.; Oduma, Jemimah A.; Bassol-Mayagoitia, Susana; Bacha, Angela Maria; Grigor, Kenneth M. (July 1993). "Regional and Geographical Variations in Infertility: Effects of Environmental, Cultural, and Socioeconomic Factors". Environmental Health Perspectives. 101 (Suppl 2): 73โ€“80. doi:10.2307/3431379. ISSNย 0091-6765. JSTORย 3431379. PMCย 1519926. PMIDย 8243409.
  27. ^ Farzaneh Roudi-Fahimi; Valentine M. Moghadam. "Empowering Women, Developing Society: Female Education in the Middle East and North Africa". Population Reference Bureau. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-10-25. Diakses tanggal October 29, 2011.
  28. ^ Population, Education and Development (PDF). United Nations. 2003. ISBNย 978-92-1-151382-0. Diakses tanggal October 29, 2011.
  29. ^ Grown, Caren; Gupta, Geeta Rao; Kes, Aslihan; UN Millennium Project. Task Force on Education and Gender Equality, ed. (2005). Taking action: achieving gender equality and empowering women. Londonย ; Sterling, Va: Earthscan. ISBNย 978-1-84407-222-4.
  30. ^ "Educating Girls | Drawdown". Drawdown (dalam bahasa Inggris). 2017-02-07. Diakses tanggal 2026-02-27.
  31. ^ Vaughan, Mary Kay (1997). Cultural Politics in Revolution: Teachers, Peasants, and Schools in Mexico, 1930-1940. University of Arizona Press. doi:10.2307/j.ctv1d6q40z. ISBNย 978-0-8165-1675-9.
  32. ^ Durrant, Joan E.; Smith, Anne B., ed. (2010-12-20). Global Pathways to Abolishing Physical Punishment (dalam bahasa Inggris) (Edisi 0). Routledge. doi:10.4324/9780203839683. ISBNย 978-1-136-88635-5.
  33. ^ Pratt, John; Eriksson, Anna (2014-06-03). Contrasts in Punishment: An explanation of Anglophone excess and Nordic exceptionalism (dalam bahasa Inggris) (Edisi 0). Routledge. doi:10.4324/9780203096116. ISBNย 978-0-203-09611-6.
  34. ^ Prytz, Sara Backman; Westberg, Johannes (2022-02). ""Arm the Schoolmistress!" Loneliness, Male Violence, and the Work and Living Conditions of Early Twentieth-Century Female Teachers in Sweden". History of Education Quarterly (dalam bahasa Inggris). 62 (1): 18โ€“37. doi:10.1017/heq.2021.55. ISSNย 0018-2680.
  35. ^ Mumtaz, Sarwat; Bahk, Jinwook; Khang, Young-Ho (2017-10-17). "Rising trends and inequalities in cesarean section rates in Pakistan: Evidence from Pakistan Demographic and Health Surveys, 1990โ€“2013". PLOS ONE. 12 (10) e0186563. Bibcode:2017PLoSO..1286563M. doi:10.1371/journal.pone.0186563. ISSNย 1932-6203. PMCย 5645133. PMIDย 29040316.
  36. ^ Blair, Graeme; Christine Fair, C.; Malhotra, Neil; Shapiro, Jacob N. (2012-07-16). "Poverty and Support for Militant Politics: Evidence from Pakistan". American Journal of Political Science. 57 (1): 30โ€“48. doi:10.1111/j.1540-5907.2012.00604.x. ISSNย 0092-5853.
  37. ^ Khan, Hafiz Muhammad Ather; Sindher, Riaz Hussain Khan; Hussain, Irshad (2013). "Studying the role of education in eliminating violence against women". Pakistan Journal of Commerce and Social Sciences. 7 (2): 405โ€“416. hdl:10419/188100. ProQuestย 1517529927.
  38. ^ Marrs Fuchsel, L. Catherine (2014). "'Yes, I Feel Stronger with More Confidence and Strength:' Examining the Experiences of Immigrant Latina Women (ILW) Participating in the Si, Yo Puedo Curriculum". Journal of Ethnographic & Qualitative Research. 9 (2): 161โ€“182. Templat:ERIC.
  39. ^ "16 facts about violence against women and girls in Nigeria | UNICEF Nigeria". www.unicef.org (dalam bahasa Inggris). 2022-11-22. Diakses tanggal 2026-04-06.
  40. ^ "Unites to End Gender-Based Violence: 16 Days of Activism Highlights Urgent Call for Action". www.unicef.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-06.
  41. ^ Longwe, Sara Hlupekile (1998). "Education for Women's Empowerment or Schooling for Women's Subordination?". Gender and Development. 6 (2): 19โ€“26. doi:10.1080/741922726. JSTORย 4030341. PMIDย 12294042. Diakses tanggal 27 Januari 2025.
  42. ^ Bray, Mark; Hajar, Anas (2022), "Educational and social impact", Shadow Education in the Middle East, London: Routledge, hlm.ย 54โ€“61, doi:10.4324/9781003317593-5, ISBNย 978-1-003-31759-3
  43. ^ Alkhaldi, Amal Hatem; Burgess, John; Connell, Julia (2014-12-01). "The Transfer of HRM Policies and Practices in American Multinational Hotels in Saudi Arabia". International Research Journal of Business Studies. 7 (3): 155โ€“164. doi:10.21632/irjbs.7.3.155-164. hdl:20.500.11937/33. ISSNย 2089-6271.
  44. ^ Carvalho, Shelby; Evans, David K (2022). "Girls' Education and Women's Equality: How to Get More out of the World's Most Promising Investment" (PDF). Center for Global Development.
  45. ^ Khoja-Moolji, Shenila (20 April 2015). "Suturing Together Girls and Education: An Investigation Into the Social (Re)Production of Girls' Education as a Hegemonic Ideology". Diaspora, Indigenous, and Minority Education. 9 (2): 87โ€“107. doi:10.1080/15595692.2015.1010640. S2CIDย 143790091.
  46. ^ "UN Women Bangladesh". UN Women โ€“ Asia-Pacific (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 06 Maret 2025.
  47. ^ Gibbs, Matthew (October 2020). "Towards an equal future: Reimagining girls' education through STEM" (PDF). United Nations Children's Fund.
  48. ^ Saldivias Mendez, Paola; Kaliwo, Takondwa (2021). "Gender-Sensitive Teacher Training: A guide to the journey of the creation process" (PDF). Women Strong.
  49. ^ Zahra, Kiran; Yasin, Mudassar; Sultana, Baserat; Haider, Zulqarnain; Khatoon, Raheela (2021-08-31). "Impact of Women Education on Economic Growth: An Evidence from Pakistan". Journal of Economic Impact (dalam bahasa Inggris). 3 (2): 113โ€“120. doi:10.52223/jei30221037. ISSNย 2664-9764.
  50. ^ Hassan, Gazi; Cooray, Arusha (2015-02-01). "Effects of male and female education on economic growth: Some evidence from Asia". Journal of Asian Economics. 36: 97โ€“109. doi:10.1016/j.asieco.2014.09.001. ISSNย 1049-0078.
  51. ^ Asadullah, Md; Yeasmin, Dr. Minara (2022-02-21). "Socio-Economic Impact of Women Education in India" (PDF). International Journal of Research Publication and Reviews: 785โ€“788. doi:10.55248/gengpi.2022.3.2.9.
  52. ^ Minasyan, Anna; Zenker, Juliane; Klasen, Stephan; Vollmer, Sebastian (2019-10-01). "Educational gender gaps and economic growth: A systematic review and meta-regression analysis". World Development. 122: 199โ€“217. doi:10.1016/j.worlddev.2019.05.006. ISSNย 0305-750X.
  53. ^ "Sage Journals: Discover world-class research". Sage Journals (dalam bahasa Inggris). doi:10.4073/csr.2017.16. Diakses tanggal 2026-04-06.
  54. ^ "Educating Girls | Drawdown". Drawdown (dalam bahasa Inggris). 2017-02-07. Diakses tanggal 2026-04-06.
  55. ^ a b "I'd blush if I could: closing gender divides in digital skills through education" (PDF). 2019.
  56. ^ Hempel, Jessi (28 October 2015). "Siri and Cortana Sound Like Ladies Because of Sexism". Wired.
  57. ^ Anello, Laura (2011-03-22). "A Palermo la favola della Down diventata dottoressa". La Stampa Italia (dalam bahasa Italia). Diakses tanggal 2013-10-06.
  58. ^ "Giusi Spagnolo, la prima laureata Down d Italia". Lottimista.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-09-25. Diakses tanggal 2013-10-06.
  59. ^ Eusebius dari Caesaria. Ecclesiastical History, Book VI, Buku VI, Bab VIII, Paragraf I. Ditulis sebelum tahun 340 Masehi.
  60. ^ "Church Fathers: Letter 82 (Augustine) or 116 (Jerome)". www.newadvent.org. Diakses tanggal 06 Maret 2026.
  61. ^ Tkacz, Catherine Brown. "Is the Education of Women a Modern Idea?". Catholic Answers (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-06.
  62. ^ Hall, Megan J. (2021-05). "Women's Education and Literacy in England, 1066โ€“1540". History of Education Quarterly (dalam bahasa Inggris). 61 (2): 181โ€“212. doi:10.1017/heq.2021.8. ISSNย 0018-2680.
  63. ^ Dr. Lisa Marie Portugal (2014). "The education of women: An historical to present day analysis" (dalam bahasa Inggris). doi:10.13140/2.1.3835.0080.
  64. ^ "Women's practical Literacy and Learning Practices in the late Middle Ages (1350-1500) | ActiLit | Project | Fact Sheet | H2020". CORDIS | European Commission (dalam bahasa Inggris). doi:10.3030/101026488. Diakses tanggal 2026-04-06.
  65. ^ "History | Ursuline Sisters". www.ursulinesisters.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-06.
  66. ^ "Beginnings of the Institute - RELIGIOUS OF THE SACRED HEART OF MARY". rshm.org (dalam bahasa American English). 2019-04-09. Diakses tanggal 2026-04-06.
  67. ^ www.tandfonline.com. doi:10.1080/00309230.2021.2004175 https://www.tandfonline.com/action/cookieAbsent. Diakses tanggal 2026-04-06.
  68. ^ Donlevy, J. Kent (2002). "Catholic Schools: The Inclusion of Non-Catholic Students". Canadian Journal of Education / Revue canadienne de l'รฉducation. 27 (1): 101โ€“118. doi:10.2307/1602190. ISSNย 0380-2361.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Sejarah perempuan di Indonesia

Sejarah perempuan di Indonesia mencakup pengalaman hidup dan kontribusi perempuan sepanjang sejarah Indonesia. Pada periode sebelum kedatangan kekuasaan

Perempuan

Perempuan adalah istilah untuk jenis kelamin manusia yang berlawanan dengan laki-laki. Perempuan memiliki organ sistem reproduksi wanita yaitu ovarium

Perempuan dalam angkatan kerja

dasar, pendidikan, akses terhadap kredit, pekerjaan, serta partisipasi dalam kehidupan publik tidak hanya berdampak pada perempuan dan anak perempuan, tetapi

Pendidikan

dan pendidikan tinggi. Klasifikasi lain berfokus pada metode pengajaran, seperti pendidikan yang berpusat pada guru dan berpusat pada peserta didik, serta

Hak perempuan

Hak perempuan adalah hak dan peran yang diklaim untuk perempuan dan pemudi di seluruh dunia, dan membentuk dasar gerakan hak perempuan pada abad kesembilan

Salma Ranggita

Jakarta untuk menempuh pendidikan menengah dan menyelesaikan studinya di SMA Garuda Cendekia pada tahun 2021. Pada tingkat pendidikan tinggi, Salma melanjutkan

Kartini

Belanda. Setelah kematiannya, saudara perempuannya melanjutkan perjuangannya untuk mendidik anak perempuan dan perempuan. Surat-surat Kartini diterbitkan di

Widiyanti Putri Wardhana

sebagai pelukis. Ia sempat menempuh pendidikan menengah di Collรจge du Lรฉman, Swiss. Kemudian ia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Pepperdine pada