Perang Aceh Pertama
Tanggal26 Maret 1873 – 25 April 1873
(4 minggu dan 2 hari)
LokasiKesultanan Aceh
Hasil Kemenangan Aceh
Pihak terlibat
 Netherlands Kesultanan Aceh
Tokoh dan pemimpin
J.H.R. Köhler   Panglima Polim
Sultan Mahmud Syah

Perang Aceh Pertama, adalah kampanye militer yang dilakukan oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) melawan kesultanan Aceh di utara Sumatera pada tahun 1873. Ekspedisi ini diluncurkan sebagai tindakan hukuman oleh Belanda. pemerintah kolonial sebagai respons terhadap tantangan yang mereka rasakan terhadap kendali mereka atas wilayah tersebut dan perlawanan Aceh terhadap campur tangan Belanda dalam urusan-urusan di wilayah tersebut.[1]

Kampanye tersebut menghasilkan kemenangan Belanda. Namun hal ini merugikan kedua belah pihak, dengan banyak korban jiwa di kedua belah pihak dan kerusakan parah pada infrastruktur dan perekonomian Aceh.[2]

Pada awal tahun 1873, Konsul Amerika Serikat di Singapura berdiskusi dengan seorang utusan Aceh tentang kemungkinan perjanjian Aceh-Amerika, yang dianggap oleh Belanda sebagai pembenaran untuk melakukan intervensi. Pada bulan Maret 1873, Belanda mengebom ibu kota Aceh Banda Aceh (Kutaraja) dan pada bulan April mereka mendaratkan 3.000 tentara yang dipimpin oleh Johan Harmen Rudolf Köhler. Karena salah menilai perlawanan orang Aceh, Belanda terpaksa mundur karena kehilangan Köhler dan delapan puluh orangnya. Mereka kemudian melakukan blokade dan pasukan Aceh (yang diperkirakan berjumlah 10.000 hingga 100.000 orang) bersiap untuk berperang.

Hal ini disusul dengan Ekspedisi Aceh Kedua pada akhir tahun 1873.

Penangkapan Pertama Masjid Baiturrahman (1873)

sunting

Pada tahun 1873 pasukan Belanda yang dipimpin Kohler berusaha merebut Masjid Baiturrahman di Kutaraja. Namun pasukan Aceh berhasil mengusir pasukan Belanda yang ada di Masjid Baiturrahman.[3]

Lihat juga

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "Aceh: History, Politics and Culture". ISEAS Publishing Online Bookshop.
  2. ^ Saleh, I. A., The Dutch-Indonesian Aceh War (1873-1904): The Dutch Perspective, Southeast Asian Journal of Social Science, 9(1), 1-23
  3. ^ Media, Kompas Cyber (2023-11-04). "Perang Aceh: Latar Belakang, Kronologi, dan Akhir Pertempuran Halaman all - Kompas.com". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2025-01-01.

Sumber

sunting
  • Ricklefs, M. C. (1991). A History of Modern Indonesia Since c. 1300 (Edisi 2nd). Macmillan. ISBN 0-333-57689-6.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Konflik Aceh–Belanda

menyerang wilayah inti Aceh, yang dikenal sebagai Perang Aceh. Perang ini menjadi salah satu perang kolonial terberat dalam sejarah Hindia Belanda akibat

Aceh

mendapatkan kekuasaan di kawasan tersebut. Perang Aceh dimulai sejak Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873, dimulai dari kedatangan

Cut Nyak Dhien

1848 – 6 November 1908) adalah seorang pemimpin pasukan gerilya Aceh selama Perang Aceh. Setelah kematian suaminya, Teuku Umar, ia memimpin aksi gerilya

Husaini M. Hasan

tokoh pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dia pernah menjabat sebagai Sekretaris Negara, Menteri Pendidikan dan Penerangan Aceh Merdeka. Dr. Husaini M

Perang Bali I

Perang Bali I merupakan ekspedisi militer pertama yang dilancarkan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger ke kerajaan Buleleng, Bali pada tahun 1846. Perang

Daftar kepala pemerintahan Belanda di Aceh

Panglima Perang serta Gubernur Sipil dan Militer pada masa penjajahan Hindia Belanda selama terjadinya Perang Aceh. Perang Aceh Perang Aceh I Perang Aceh II

Perang Aceh

Perang Aceh, juga dikenal sebagai Perang Belanda atau Perang Kafir (1873–1904), adalah konflik militer bersenjata antara Kesultanan Aceh dan Kerajaan Belanda

Kesultanan Aceh

status Aceh sebagai vassal Turki Utsmaniyah serta mengirimkan sejumlah dana bantuan untuk Perang Krimea. Sebagai balasan, Sultan Abdul Majid I mengirimkan