Pinto Aceh

Pinto Aceh atau Pinto Khob adalah ragam hias atau motif khas Aceh yang terkenal. Ragam hias pinto aceh tidak hanya diterapkan pada kain atau batik, tetapi juga dalam bentuk benda-benda cendera mata lainnya, seperti tas, pin atau bros, liontin, dan pada buah tangan dalam bentuk lainnya.[1] Meskipun pada awalnya motif perhiasan Pinto Aceh hanya diciptakan untuk bros jenis perhiasan dada kaum perempuan, tetapi penerapannya kian beragam seiring waktu.[2]

Sejarah

sunting

Ragam hias Pinto Aceh kemungkinan ditemukan pada tahun 1939. Namun, catatan lain menyebutkan bahwa ragam hias ini sudah ada sejak tahun 1926. Corak ini ditemukan oleh Mahmud Ibrahim atau lebih akrab dikenal sebagai Utoh Mud, seorang perajin emas dari Blang Oi, Kecamatan Meuraksa, Kota Banda Aceh. Kepiawaiannya dalam menciptakan karya seni ini mendapatkan izin resmi langsung dari Pemerintah Belanda di Kutaraja kala itu.

Pin yang diciptakannya kala itu berbentuk ramping dengan jeruji-jeruji yang dihiasi motif kembang. Pada setiap ujungnya ada gulungan-gulungan kecil. Desain ini diciptakan Utoh Mud berdasarkan sejarah Kerajaan Aceh, yakni pinto khop. Pinto khop merupakan pintu istana Kerajaan Aceh bagian belakang, jalan menuju Taman Ghairah atau Bustanussalatin. Pintu itu tempat keluar-masuk permaisuri dan dayang-dayang.[1]

Pada tahun 2015, Pinto Aceh dinobatkan menjadi salah satu dari lima warisan budaya Indonesia tak benda yang berasal dari Aceh, di samping Tari Dampeng (Aceh Singkil), Tari Bines (Gayo Lues), Tari Rapai Geleng (Aceh Barat Daya), Tari Rabbani Wahid (Bireuen).[2]

Galeri

sunting

Pranala luar

sunting

Catatan kaki

sunting
  1. ^ a b "Pinto Khop, Souvenir Motif Kerajaan Aceh". JKMA ACEH (dalam bahasa American English). 2018-10-14. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-02-09. Diakses tanggal 2019-02-09.
  2. ^ a b "Pinto Aceh". Serambi Indonesia. Diakses tanggal 2019-02-09.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Lambang Aceh

Aceh. Sementara lambang versi mereka, mereka mengusulkan merpati, dacin, Pinto Aceh, al-Qur'an, rencong, padi, dan kapas. Bagi mereka, lambang yang diusulkan

Batik Aceh

keanekaragaman flora di Aceh. Pinto Aceh, merupakan corak batik yang digambarkan dengan motif ukiran khas Aceh yaitu pinto Aceh. ukiran ini berbentuk serupa

Pinto Rimba, Trumon Timur, Aceh Selatan

Pinto Rimba merupakan salah satu gampong yang ada di kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan, provinsi Aceh, Indonesia. (Indonesia) Keputusan Menteri

Suku Aceh

wilayah Kuala Daya, Lam No (pesisir barat Aceh). Pelaut-pelaut Portugis di bawah pimpinan nakhoda Kapten Pinto, yang berlayar hendak menuju Malaka, sempat

Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara

Pinto Makmur merupakan salah satu gampong yang ada di kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, provinsi Aceh, Indonesia. (Indonesia) Keputusan Menteri

Kesultanan Aceh

Kesultanan Aceh, atau Kesultanan Aceh Darussalam (bahasa Aceh: Acรจh Darussalamcode: ace is deprecated ; Jawoรซ: ูƒุงูˆุฑุฌุงูˆู† ุงฺ†ูŠู‡ ุฏุงุฑุงู„ุณู„ุงู…) merupakan sebuah

Meunasah Pinto, Muara Batu, Aceh Utara

Meunasah Pinto merupakan salah satu gampong yang ada di kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, provinsi Aceh, Indonesia. (Indonesia) Keputusan Menteri

Rambong Pinto, Woyla Timur, Aceh Barat

Rambong Pinto merupakan salah satu gampong yang ada di Kecamatan Woyla Timur, Kabupaten Aceh Barat, provinsi Aceh, Indonesia. Penduduk Rambong Pinto sampai