Plaek Pibulsongkhram | |
|---|---|
| แปลก พิบูลสงคราม | |
Plaek Pibulsongkhram pada 1940-an | |
| Perdana Menteri Thailand Ke-3 dan Ke-6 | |
| Masa jabatan 20 Desember 1938 – 1 Agustus 1944 | |
| Penguasa monarki | Rama VIII[a] |
| Wakil | Seni Pramoj[b] |
| Masa jabatan 8 November 1948 – 16 September 1957 | |
| Penguasa monarki | Rama IX[c] |
| Wakil | Seni Pramoj[d] |
| Pemimpin Tertinggi Thailand | |
| Diktator militer Thailand[e] | |
| Masa jabatan 20 Desember 1938 – 1 Agustus 1944 | |
| Penguasa monarki | Rama VIII |
| Perdana Menteri | diri sendiri |
| Masa jabatan 8 November 1948 – 16 September 1957 | |
| Penguasa monarki | Rama IX |
| Perdana Menteri | diri sendiri |
Pengganti jabatan de facto dihapuskan kembali | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | PlaekNonthaburi, Siam 14 Juli 1897 Nonthaburi, Siam |
| Meninggal | 11 Juni 1964 (umur 66) Sagamihara, Kanagawa, Jepang |
| Kebangsaan | Thai |
| Partai politik | Khana Ratsadon (1927-) Partai Seri Manangkasila (1955-1957) |
| Suami/istri | Thanphuying atau Lady La-aide Bhandhukravi |
| Karier militer | |
| Pihak | |
| Dinas/cabang | |
| Masa dinas | 1914 - 1957 |
| Pangkat | |
| Penghargaan
| |
Jenderal Besar Plaek Phibunsongkhram (bahasa Thai: แปลก พิบูลสงคราม; transkripsi alternatif Pibulsongkram atau Pibulsonggram) (lahir di Nonthaburi, Thailand, 14 Juli 1897 – meninggal di Sagamihara, Jepang, 3 Desember 1988 pada umur 66 tahun) adalah seorang perwira militer dan politikus Thailand yang menjabat sebagai Perdana Menteri Thailand pada dua periode utama (1938–1944 dan 1948–1957) dan Diktator Militer pada dua periode masa jabatannya. Ia dikenal karena perannya dalam Revolusi 1932 yang mengakhiri Monarki absolut di Siam, kebijakan modernisasi dan Nasionalisme, serta keputusan geopolitik kontroversialnya selama Perang Dunia II. [1][2] secara kontemporer ia dikenal sebagai Luang Pibulsonggram, sering juga disebut Phibunsongkhram (Pibul Songgram) atau di barat secara sederhananya disebut Phibun (Pibul)[3]
Nama
suntingNama lahirnya sering ditulis sebagai Plaek Khittasangkha dan kemudian lebih dikenal dengan varian romanisasi seperti Plaek Phibunsongkhram atau Phibunsongkhram.[f][4]
Kehidupan awal
suntingPlaek lahir di Nonthaburi, dekat Bangkok, pada 14 Juli 1897. Ia berasal dari keluarga sederhana dan memasuki pendidikan militer sejak muda. Karier militernya berkembang pesat seiring keterlibatannya dalam jaringan perwira muda yang kemudian menjadi aktor utama dalam politik Thailand modern.[5]
Karier militer dan keterlibatan dalam Revolusi 1932
suntingPada 1932, kelompok perwira dan intelektual yang dikenal sebagai Khana Ratsadon (Partai Rakyat) melakukan perubahan politik menggantikan sistem monarki absolut dengan konstitusional. Plaek merupakan salah satu tokoh militer berpengaruh dalam faksi yang mendorong perubahan tersebut; reputasinya sebagai perwira yang keras dan terorganisir membuatnya menonjol dalam dekade berikutnya.[5]
Masa jabatan pertama sebagai Perdana Menteri (1938–1944)
suntingPada 1938 Plaek menjadi Perdana Menteri dan melancarkan serangkaian kebijakan modernisasi serta program identitas nasional (terkadang disebut 'cultural mandates') yang bertujuan membentuk identitas Thai modern, termasuk perubahan nama negara dan promosi budaya tertentu. Kebijakan-kebijakan ini sering dikritik karena nuansa otoriter dan penekanan pada kontrol negara terhadap kehidupan sosial dan budaya.
Hubungan dengan Jepang dan Perang Dunia II
suntingSelama Perang Dunia II, Thailand di bawah kepemimpinannya mengambil sikap kooperatif terhadap Kekaisaran Jepang—suatu keputusan pragmatis yang menyebabkan kontroversi domestik dan internasional. Thailand memberikan akses strategis bagi militer Jepang dan terlibat dalam operasi regional; namun pada saat yang sama muncul gerakan perlawanan dalam negeri (Seri Thai) yang bekerja sama dengan Sekutu. Keputusan aliansi ini melemahkan posisi politik Plaek dan menjadi salah satu penyebab perubahan rezim pada pertengahan 1940-an.[2]
Masa jabatan kedua dan akhir pemerintahan (1948–1957)
suntingPlaek kembali berkuasa setelah pergolakan politik pascaperang dan memperkuat kembali peranan militer dalam pemerintahan. Pada periode Perang Dingin ia mengambil sikap anti-komunis yang jelas dan mengonsolidasikan kekuasaan melalui koalisi militer dan partai-partai pendukung. Pemerintahannya berakhir setelah pergeseran kekuatan internal di militer pada 1957 yang mengantar tokoh-tokoh baru seperti Sarit Thanarat ke puncak kekuasaan; Plaek kemudian diasingkan dan menghabiskan sisa hidupnya di luar negeri.[5]
Kebijakan dan kontroversi
sunting- Modernisasi dan identitas nasional: program-program administratif dan kebijakan budaya yang memperkuat negara-bangsa Thai.
- Otoritarianisme: pembatasan terhadap kebebasan politik, penggunaan kekuatan militer terhadap lawan politik, dan sentralisasi kekuasaan.
- Kooperasi dengan Jepang: kebijakan selama Perang Dunia II yang memicu kritik luas serta gerakan perlawanan dalam negeri.
Warisan
suntingWarisan Plaek bersifat kontras: beberapa sejarawan memuji dorongan modernisasinya yang mempercepat pembangunan negara-birokrasi, sementara yang lain mengecam tindakan otoriternya dan keputusan aliansi selama perang. Banyak unsur kebijakan nasionalisnya tetap mempengaruhi politik dan budaya Thailand pascaperang.
Catatan kaki
sunting- ^ name="enwiki">"Plaek Phibunsongkhram". Wikipedia (en). Diakses tanggal 15 Januari 2026.
- ^ a b "Phibunsongkhram". Encyclopaedia Britannica. Diakses tanggal 15 Januari 2026.
- ^ Darling, Frank C. (1962). "American Policy in Thailand". The Western Political Quarterly. 15 (1): 93–110. doi:10.2307/446100. JSTOR 446100 – via JSTOR.
- ^ "แปลก พิบูลสงคราม". Wikipedia (th). Diakses tanggal 15 Januari 2026.
- ^ a b c Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaenwiki - ^ Stowe, Judith A. (1990). Nationalism and the State: The Cultural Mandates of the 1930s. Academic Press.
- ^ Brown, D. (1985). "Phibun's Thailand: Nationalism and Collaboration". Modern Asian Studies. 19: 123–147.
Referensi
sunting- "Plaek Phibunsongkhram". Wikipedia (en). Diakses tanggal 15 Januari 2026.
- "Phibunsongkhram". Encyclopaedia Britannica. Diakses tanggal 15 Januari 2026.
- Stowe, Judith A. Nationalism and the State: The Cultural Mandates of the 1930s. Academic Press, 1990.
- Brown, D. "Phibun's Thailand: Nationalism and Collaboration", Modern Asian Studies, 1985.
Pranala luar
suntingReferensi
sunting
Kesalahan pengutipan: Ditemukan tanda <ref> untuk kelompok bernama "lower-alpha", tapi tidak ditemukan tanda <references group="lower-alpha"/> yang berkaitan



