Infobox orangEsther Lederberg

Suntingan nilai di Wikidata
Biografi
Kelahiran(de) Esther Miriam Zimmer Lederberg Suntingan nilai di Wikidata
18 Desember 1922 Suntingan nilai di Wikidata
The Bronx Suntingan nilai di Wikidata
Kematian11 November 2006 Suntingan nilai di Wikidata (83 tahun)
Stanford Suntingan nilai di Wikidata
Penyebab kematianGagal jantung Suntingan nilai di Wikidata
Data pribadi
PendidikanUniversitas Wisconsin–Madison
Universitas Stanford
Hunter College (–1942) Suntingan nilai di Wikidata
Kegiatan
SpesialisasiMikrobiologi, Peperomia blanda (mul) Terjemahkan, Escherichia coli, Enterobacteria phage lambda (mul) Terjemahkan dan Genetika Suntingan nilai di Wikidata
Pekerjaangeneticist (en) Terjemahkan, mikrobiolog Suntingan nilai di Wikidata
Bekerja diNew York Botanical Garden
Carnegie Institution for Science (mul) Terjemahkan
Universitas Wisconsin–Madison Suntingan nilai di Wikidata
Tertarik denganMikrobiologi Suntingan nilai di Wikidata
Keluarga
Pasangan nikahJoshua Lederberg Suntingan nilai di Wikidata


Esther Miriam Zimmer Lederberg (18 Desember 1922 – 11 November 2006) adalah seorang ahli mikrobiologi Amerika Serikat dan pelopor dalam bidang genetika bakteri. Lederberg menemukan lambda phage, virus bakteri yang banyak digunakan sebagai alat untuk mempelajari regulasi gen dan rekombinasi genetik.

Dia juga menemukan teknik replica plating, yang digunakan untuk mengisolasi dan menganalisis mutan bakteri serta melacak resistensi antibiotik serta menemukan faktor kesuburan bakteri F (plasmid F) untuk memahami transfer genetik di antara bakteri. Penemuan yang kemudian memberikan dasar bagi banyak penelitian genetika di paruh kedua abad ke-20. [1]

Lederberg juga mendirikan dan memimpin Plasmid Reference Center di Universitas Stanford, yang berfungsi untuk menyimpan, memberi nama, dan mendistribusikan berbagai jenis plasmid, termasuk yang mengkodekan resistansi antibiotik, resistansi logam berat, virulensi, konjugasi, kolisin, transposon, dan faktor-faktor lain yang belum diketahui.[2]

Esther Lederberg membuat kontribusi besar dalam mikrobiologi, termasuk penemuan lambda phage dan pengembangan teknik replika plating bersama suaminya, Joshua Lederberg. Meskipun banyak penemuan penting yang dilakukan Lederberg, penghargaan seperti Hadiah Nobel yang diterima Joshua pada tahun 1958 tidak mencantumkan namanya, meskipun ia berperan sebagai ilmuwan utama dalam penelitian tersebut. Prestasi Esther tertutupi oleh keberhasilan suaminya, dan tidak mendapatkan pengakuan yang layak atas kontribusinya.[3]

Kontribusi terhadap mikrobiologi dan genetika

sunting

Phage lambda

sunting

Pada tahun 1950, Esther Lederberg mempelajari phage coli yang belum terkarakterisasi sebelumnya, yang dikenal dengan nama phage "lambda." Virus ini memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan virus lainnya, karena tidak langsung menyebabkan lisis sel setelah menginfeksi. Sebaliknya, sel yang terinfeksi dapat membelah dengan normal, memungkinkan genom virus terintegrasi ke dalam genom sel inang. Hanya dalam kondisi lingkungan tertentu, virus ini akan melakukan replikasi dan membunuh sel. Penemuan ini mengarah pada pemahaman siklus lisogenik dan menjadi dasar bagi banyak penelitian biologi selanjutnya mengenai transduksi dan transfer horizontal genetik.[4][5][6]

Faktor kesuburan bakteri (F-plasmid)

sunting

Pada tahun 1953, Esther Lederberg memublikasikan penelitiannya mengenai phage lambda, tetapi juga menemukan fenomena menarik terkait bakteri. Beberapa strain bakteri yang tidak terinfeksi gagal menghasilkan rekombinan setelah disilangkan. Dari pengamatan ini, Esther berhipotesis bahwa ada faktor kesuburan yang diperlukan untuk pembelahan sel bakteri dan dapat hilang pada bakteri yang gagal berrekombinasi. Faktor ini kemudian dikenal sebagai F-plasmid, yang merupakan plasmid yang dapat dipindahkan antar bakteri dan, setelah dipindahkan, dapat berfungsi di sitoplasma atau terintegrasi dalam kromosom bakteri, memfasilitasi proses transfer genetik antar bakteri.[7][8]

Replica Plating

sunting

Esther Lederberg juga mengembangkan teknik baru untuk mempermudah pemilihan koloni bakteri dengan fenotipe tertentu, yang dikenal sebagai replica plating. Sebelumnya, mikrobiolog harus menggunakan metode yang memakan waktu untuk menyaring koloni bakteri pada pelat selektif. Esther berinovasi dengan menggunakan kain beludru sebagai alat untuk mentransfer pola koloni dari satu pelat ke pelat lain, memungkinkan penggandaan pola geometrik koloni. Teknik ini mempermudah deteksi mutasi spontan pada bakteri dan mendukung penelitian lebih lanjut mengenai mutasi adaptif pada organisme mikroba.[9][10][11]

Tantangan profesional

sunting

Esther Lederberg adalah korban dari seksisme yang melanda dunia ilmiah pada 1950-an dan 1960-an, periode di mana dominasi pria dalam ilmu pengetahuan sering kali membuat para ilmuwan perempuan kesulitan mendapatkan pengakuan atas kontribusinya. Meskipun Esther memainkan peran penting dalam berbagai penemuan ilmiah yang membentuk dasar biologi molekuler modern, dirinya sering kali terpinggirkan dan tidak mendapatkan pengakuan yang layak. Salah satunya adalah pengabaian terhadapnya dalam penerimaan Hadiah Nobel di bidang Kedokteran pada tahun 1958, yang diterima suaminya, Joshua Lederberg, bersama George Wells Beadle dan Edward Tatum. Hadiah Nobel tersebut diberikan atas penelitian terkait rekombinasi genetik dan materi genetik bakteri, di mana Esther memiliki peran sentral. Namun, namanya tidak disebutkan dalam penghargaan tersebut, meskipun ia adalah ilmuwan utama yang melakukan eksperimen eksperimental yang memungkinkan Joshua meraih Nobel tersebut. Meskipun Esther hadir dalam upacara tersebut, dia hanya duduk di antara penonton, mengamati suaminya menerima penghargaan yang seharusnya juga mencakup kontribusinya yang tak ternilai.[3]

Fenomena ini menggambarkan Efek Matilda, istilah yang digunakan untuk menggambarkan bias terhadap pengakuan ilmuwan perempuan, di mana karya mereka sering kali dikreditkan kepada rekan laki-laki mereka. Sebagai seorang perempuan dalam dunia ilmiah yang didominasi laki-laki, Esther mengalami kesulitan besar untuk mendapatkan posisi yang layak. Bahkan, meskipun ia memiliki kontribusi besar dalam penelitian mikrobiologi, ia tidak pernah ditawari posisi tetap di universitas. Buku teks sering kali mengabaikan karyanya, dan banyak prestasi ilmiah yang ia capai lebih sering dikaitkan dengan suaminya, yang pada saat itu menjadi figur yang lebih menonjol dalam bidang tersebut.[12]

Seiring berjalannya waktu, meskipun dihadapkan pada diskriminasi dan kesulitan pengakuan, Esther terus bekerja keras dan memberikan kontribusi besar bagi ilmu pengetahuan. Ia tetap menjadi tokoh kunci dalam pengembangan mikrobiologi dan biologi molekuler, bahkan setelah pensiun pada tahun 1985. Ia mendirikan dan memimpin Pusat Referensi Plasmid di Stanford, yang tetap menjadi salah satu pencapaian penting dalam kariernya. Sebagian besar kontribusinya di bidang mikrobiologi tetap diakui oleh komunitas ilmiah meskipun sering kali tidak disebutkan dalam banyak narasi sejarah ilmiah.[2][13]

Referensi

sunting
  1. ^ "Professor Esther Lederberg | Biographical summary". WhatisBiotechnology.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-16.
  2. ^ a b Ferrell, Rebecca V. (2018). Esther Miriam Zimmer Lederberg: Pioneer in Microbial Genetics (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons, Ltd. hlm. 305–315. doi:10.1128/9781555819545.ch33. ISBN 978-1-68367-057-5.
  3. ^ a b "Esther Lederberg and Her Husband Were Both Trailblazing Scientists. Why Have More People Heard of Him?". Time (dalam bahasa Inggris). 2019-04-11. Diakses tanggal 2025-03-17.
  4. ^ Gottesman, Max E.; Weisberg, Robert A. (2004-12). "Little Lambda, Who Made Thee?". Microbiology and Molecular Biology Reviews (dalam bahasa Inggris). 68 (4): 796–813. doi:10.1128/MMBR.68.4.796-813.2004. ISSN 1092-2172.
  5. ^ Casjens, Sherwood R.; Hendrix, Roger W. (2015-05-01). "Bacteriophage lambda: Early pioneer and still relevant". Virology. 60th Anniversary Issue. 479–480: 310–330. doi:10.1016/j.virol.2015.02.010. ISSN 0042-6822. PMC 4424060. PMID 25742714. Pemeliharaan CS1: Format PMC (link)
  6. ^ Ruiz, Natividad; Silhavy, Thomas J. (2022-08-02). "How Escherichia coli Became the Flagship Bacterium of Molecular Biology". Journal of Bacteriology. 204 (9): e00230–22. doi:10.1128/jb.00230-22.
  7. ^ "Esther Lederberg and the Rise of Microbial Genetics". ASM.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-17.
  8. ^ "F Factor - an overview | ScienceDirect Topics". www.sciencedirect.com. Diakses tanggal 2025-03-17.
  9. ^ "The Lederberg experiment". evolution.berkeley.edu. Diakses tanggal 2025-03-17.
  10. ^ Lederberg, Joshua; Lederberg, Esther M. (1952-03). "Replica plating and indirect selection of bacterial mutants". Journal of Bacteriology. 63 (3): 399–406. doi:10.1128/jb.63.3.399-406.1952. PMC 169282. PMID 14927572. Pemeliharaan CS1: Format PMC (link)
  11. ^ "Replica Plating - an overview | ScienceDirect Topics". www.sciencedirect.com. Diakses tanggal 2025-03-17.
  12. ^ "Esther Lederberg – Pioneer in Microbial Genetics". Frontiers Science News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-17.
  13. ^ "Invisible Esther: The 'other' Lederberg at the Jackson Laboratory". www.jax.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-17.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Norman Ismail

penyajian yang lebih formal. Melalui karya tulisnya, ia menekankan pada metode plating atau seni menata makanan di atas piring sebagai elemen penting dalam pengalaman

Rodium

Terbitan: 4 Halaman: 558-567 Kushner, Joseph B. (1940). "Modern rhodium plating". Metals and Alloys. 11: 137–140. Amatayakul, W.; Ramnäs, Olle (2001).

Adolf Hitler

1972, hlm. 73–78. Messerschmidt 1990, hlm. 638. Bloch 1992, hlm. 178–179. Plating 2011, hlm. 21. Butler & Young 1989, hlm. 159. Bullock 1962, hlm. 434. Overy

Mitsubishi G4M

ringan dan nyaris tidak adanya perlindungan bagi awaknya, tanpa armor plating atau tangki bahan bakar diri menyegel. Kelalaian ini terbukti menjadi kelemahan

Korosi

dengan krom (Cromium plating) Krom memberi lapisan pelindung, sehingga besi yang dikrom akan menjadi mengkilap. Cromium plating dilakukan dengan proses

Besi

dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak dengan udara dan air. Tin plating (pelapisan dengan timah). Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi yang

Seni grafis

sepuluh sampai duapuluh karya. Untuk mengatasi ini, penggunaan electro-plating (pelapisan secara elektrik dengan bahan logam lain) telah dilakukan sejak

Galvanisasi

30 tahun. Sedang proses galvanis ada dua macam. Pertama adalah electro-plating atau UCP Galvanis. Proses ini dengan cara memberi aliran listrik dalam