Polder di NeรŸmersiel, Jerman, tampak udara, Mei 2012

Polder adalah sebidang tanah yang rendah, dikelilingi oleh tanggul atau timbunan yang membentuk semacam kesatuan hidrologis buatan, yang berarti tidak ada kontak dengan air dari daerah luar selain yang dialirkan melalui perangkat manual.[1] Polder umumnya dijumpai di kawasan delta sungai, bekas rawa, dan daerah tepi pantai yang elevasi lahannya berada di bawah permukaan air laut sekitarnya.

Etimologi

sunting

Kata "polder" berasal dari bahasa Belanda, diturunkan dari bahasa Belanda Pertengahan polre, dari bahasa Belanda Kuno polra, dan pada akhirnya dari akar kata pol- yang berarti sebidang tanah yang terangkat di atas lingkungan sekitarnya, dengan akhiran pembesar -er dan penyisipan -d-.[1] Kata ini pertama kali diserap ke dalam bahasa Inggris sekitar tahun 1600 dalam rujukan terhadap kawasan rawa di Belanda, Flandria, dan Frisia.[2] Saat ini, kata "polder" telah diadopsi ke dalam 36 bahasa di seluruh dunia.[1]

Jenis-jenis polder

sunting

Terdapat tiga jenis polder:[1]

  1. Polder reklamasi air โ€” tanah yang direklamasi dari badan air seperti danau atau dasar laut yang dikeringkan dan dijadikan kawasan tertentu.
  2. Polder dataran banjir โ€” dataran banjir yang dipisahkan dari laut atau sungai menggunakan tanggul.
  3. Polder rawa โ€” rawa yang dikelilingi air kemudian dikeringkan; disebut pula koog, terutama di Jerman.

Cara kerja

sunting
Contoh kincir angin polder. Permukaan air berbeda di bagian depan kincir dibandingkan dengan bagian belakangnya.

Tanah dasar berupa rawa yang dikeringkan akan surut seiring berjalannya waktu, sehingga seluruh polder pada akhirnya akan berada di bawah muka air sekitarnya. Air memasuki kawasan polder yang rendah melalui resapan (infiltration), tekanan air tanah, curah hujan, serta aliran sungai dan kanal. Ini berarti polder mengalami kelebihan air yang harus dipompa keluar atau dikeringkan dengan membuka pintu air pada saat muka air laut surut.[1]

Namun, pengaturan muka air dalam tanah tidak boleh terlalu rendah. Tanah polder yang terdiri dari gambut (bekas rawa) akan memperlihatkan percepatan pemampatan akibat dekomposisi gambut pada saat kondisi kering, karena gambut yang terpapar udara akan teroksidasi dan menyusut. Proses ini menyebabkan permukaan polder semakin dalam dari waktu ke waktu.[3]

Polder senantiasa berada pada bahaya banjir, dan tanggul yang mengelilinginya harus selalu dijaga. Tanggul-tanggul tersebut biasanya dibangun dengan material yang tersedia di daerah tersebut. Tanggul dari pasir rawan runtuh akibat oversaturation (tanah terlampau jenuh air), sementara tanah gambut kering malah lebih ringan daripada air sehingga berpotensi tidak stabil pada musim kering. Beberapa jenis binatang dapat menggali dan membuat terowongan pada struktur tanggul โ€” di Eropa, musang air (muskrat) dikenal karena perilaku ini dan diburu di beberapa negara karena kerusakannya pada tanggul polder.[1]

Sistem Kerja Polder

Teknologi pengeringan

sunting

Sepanjang sejarah, teknologi yang digunakan untuk mengeringkan polder berkembang pesat:

  • Kincir angin โ€” dikembangkan di Belanda sejak abad ke-15, memungkinkan pengeringan badan air yang signifikan untuk pertama kalinya.[4]
  • Pompa uap โ€” pertama kali digunakan pada tahun 1787 di Belanda, menggantikan kincir angin untuk skala yang lebih besar.[4]
  • Pompa listrik dan diesel โ€” digunakan pada era modern, memungkinkan pengelolaan air yang lebih presisi dan efisien.

Sejarah

sunting

Pembuatan polder memiliki sejarah panjang yang paling terkenal di Belanda, di mana sebanyak 20% luas wilayah daratan negara tersebut pernah direklamasi dari laut pada suatu titik dalam sejarahnya.[1] Pepatah terkenal dalam bahasa Inggris bahkan menyebut: "Tuhan menciptakan dunia, tetapi orang Belanda menciptakan Belanda" (God created the world, but the Dutch created the Netherlands).[1]

Embankmen pertama di Eropa dibangun pada zaman Romawi. Polder pertama dibangun pada abad ke-11. Polder tertua yang masih ada adalah Polder Achtermeer, dibangun pada tahun 1533.[1] Sejak abad ke-15, penggunaan kincir angin untuk pemompaan air memungkinkan pengeringan badan-badan air yang jauh lebih besar. Di Belanda, terdapat sekitar 3.000 polder yang dikelilingi tanggul, yang pada tahun 1961 mencakup sekitar 18.000 kmยฒ atau setengah dari total luas daratan negara tersebut.[1]

Di Tiongkok, kawasan Jiangnan di Delta Sungai Yangtze memiliki sejarah panjang pembangunan polder, dengan sebagian besar proyek dilaksanakan antara abad ke-10 hingga ke-13.[1]

Polder-polder terkenal

sunting
Contoh kincir angin polder. Permukaan air berbeda di bagian depan kincir dibandingkan dengan bagian belakangnya.

Belanda

sunting

Belanda merupakan negara yang paling identik dengan polder. Sekitar separuh total luas polder di Eropa barat laut berada di Belanda.[1] Beberapa polder terpenting meliputi:

  • Polder Beemster (1609โ€“1612) โ€” polder reklamasi bersejarah yang kini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO karena mempertahankan lanskapnya yang tertata rapi berupa ladang, jalan, kanal, dan tanggul dari abad ke-17.[5]
  • Polder Haarlemmermeer (selesai 1852) โ€” lokasi Bandar Udara Internasional Amsterdam Schiphol saat ini berdiri, yang secara harfiah dibangun di atas bekas danau yang dikeringkan.
  • Proyek Zuiderzee โ€” proyek besar abad ke-20 yang mencakup pembangunan Afsluitdijk (selesai 1932) dan penciptaan beberapa polder besar dari Zuiderzee:
    • Wieringermeer (selesai 1930) โ€” polder besar pertama dari Zuiderzee, seluas 193 kmยฒ.
    • Noordoostpolder (selesai 1942) โ€” seluas 469 kmยฒ, kini menjadi kawasan pertanian dan permukiman penting.
    • Flevopolder (1956โ€“1968) โ€” polder terbesar di Belanda dan salah satu pulau buatan terbesar di dunia menurut beberapa definisi, membentuk provinsi Flevoland.[6] Keempat polder IJsselmeer secara total menambah luas daratan Belanda sebesar sekitar 1.620 kmยฒ.[7]
Pompa angin di tanggul polder Overwaard dekat Kinderdijk

Bangladesh

sunting

Bangladesh memiliki 139 polder, 49 di antaranya menghadap laut, sementara sisanya berada di sepanjang berbagai distributari Delta Gangga-Brahmaputra-Meghna. Polder-polder ini dibangun pada 1960-an untuk melindungi pesisir dari banjir pasang surut dan mengurangi intrusi salinitas, serta juga dimanfaatkan untuk pertanian.[1]

Friedrichskoog, polder di Schleswig-Holstein

Tiongkok

sunting

Kota Kunshan memiliki lebih dari 100 polder. Kawasan Jiangnan di Delta Sungai Yangtze memiliki sejarah panjang pembangunan polder sejak abad ke-10 hingga ke-13.[1]

Indonesia

sunting

Di Indonesia, sistem polder diterapkan di beberapa kota pesisir yang menghadapi masalah banjir dan penurunan muka tanah. Jakarta menggunakan sistem polder di kawasan Pluit dan beberapa wilayah lainnya sebagai bagian dari manajemen banjir perkotaan.

Penggunaan militer

sunting

Selain untuk pertanian dan permukiman, polder pernah digunakan sebagai taktik militer. Salah satu contoh terkenal adalah penggenangan polder di sepanjang Sungai Yser selama Perang Dunia I. Dengan membuka pintu air pada saat air pasang dan menutupnya saat air surut, tentara Belgia berhasil mengubah polder menjadi rawa yang tidak dapat dilalui. Taktik ini efektif menghentikan laju tentara Kekaisaran Jerman dan memungkinkan pasukan Sekutu mempertahankan garis pertahanan mereka.[1] Dua warga sipil yang berjasa dalam operasi ini, Karel Cogge dan Hendrik Geeraerts, menjadi pahlawan nasional Belgia.[8]

Polder dan perubahan iklim

sunting

Seiring meningkatnya perubahan iklim dan kenaikan muka air laut, polder menghadapi tantangan baru. Di Belanda, bencana banjir besar tahun 1953 yang menewaskan lebih dari 8.000 jiwa mendorong pembangunan Delta Works (Deltawerken) โ€” jaringan besar infrastruktur pengendalian banjir yang terdiri dari 13 bendungan, penghalang, pintu air, dan tanggul untuk melindungi delta Rhine, Meuse, dan Scheldt.[9] Delta Works diakui oleh American Society of Civil Engineers sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Modern.[10]

Polder gambut menghadapi masalah khusus: ketika gambut terpapar udara akibat pengeringan, terjadi oksidasi yang menyebabkan penurunan permukaan tanah (subsidence) secara terus-menerus. Kondisi ini menciptakan lingkaran bermasalah di mana makin banyak air yang harus dipompa keluar seiring polder semakin dalam.

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o "Polder". Wikipedia.
  2. ^ "Polder โ€“ Etymology, Origin & Meaning". Online Etymology Dictionary.
  3. ^ "What Are Polders and How Do They Work?". Biology Insights.
  4. ^ a b "Land reclamation in the Netherlands". Wikipedia.
  5. ^ "Droogmakerij de Beemster (Beemster Polder)". UNESCO World Heritage Centre.
  6. ^ "Flevopolder". Wikipedia.
  7. ^ "IJsselmeer Polders". Encyclopรฆdia Britannica.
  8. ^ "Pertempuran Yser". Wikipedia bahasa Indonesia.
  9. ^ "Mengenal Delta Works, Cara Belanda Mengatasi Banjir". Kompas. 19 Juli 2021.
  10. ^ "Belajar Dari Sistem Polder Negara Belanda". MAULA Nusantara. 7 Maret 2016.

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Polder Alabio

Polder Alabio adalah sistem irigasi yang mengalir di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, Indonesia. Sistem irigasi ini mengalir melewati 4

Polder Air Hitam

Polder Air Hitam adalah sebuah polder yang berlokasi di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Polder ini dibangun pada tahun 2004 dengan

Stasiun Semarang Tawang

sebelah polder terdapat monumen lokomotif D301 59 yang dihiasi lampu berwarna serta air mancur menari di sekelilingnya. Pada bagian tengah polder tersebut

Reklamasi daratan

Salah satu proyek reklamasi berskala besar yang paling awal adalah Beemster Polder di Belanda, yang direalisasikan pada tahun 1612 dengan menambah lahan seluas

Polder Liang

Polder Liang adalah salah satu polder yang ada di Kalimantan Selatan, letaknya ada di sebelah barat kota Martapura di desa Tambak Baru. Luas polder adalah

Belanda

laut. Sebagian besar wilayah di bawah permukaan laut, yang dikenal sebagai polder, merupakan hasil dari upaya reklamasi lahan yang dimulai pada abad ke-14

Kinderdijk

terletak antara pertemuan polder dari sungai Lek dan Noord. Untuk menguras air Laut agar menjadi daratan dengan menggunakan polder yang berbentuk Kincir Angin

Busa kuantum

kembali pada tahun 1947 oleh fisikawan Belanda Hendrik Casimir dan Dirk Polder. Gagasan bahwa ruang angkasa, pada dasarnya, adalah kekaucauan berbusa dan