Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (Mei 2025)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
|
Polifarmasi adalah pengonsumsian obat minimal 5 (lima) jenis dalam sekali waktu. Kondisi tersebut terjadi pada usia remaja dan dewasa yang dapat menyebabkan kerugian dalam hal medis.[1] Akan tetapi, polifarmasi bisa terjadi pada semua kalangan. Istilah polifarmasi terdiri dari 2 (dua) kata, yaitu poli 'banyak' dan farmasi 'obat-obatan'. Biasanya, usia dewasa mempunyai penyakit kronis sehingga melakukan polifarmasi untuk harapan sembuh, tetapi dapat terjadi risiko yang tidak diiinginkan.[2][3] Penyakit kronis tersebut, seperti jantung, paru-paru, hipertensi, dan diabetes. Oleh karena, jika terjadi sebuah fenomena tentang polifarmasi, penderita wajib memperhatikan penanganan khusus.
Dampak polifarmasi
suntingPolifarmasi berdampak negatif yang bukan hanya berhubungan dengan farmakologi, melainkan juga sosial dan ekonomi. Jika dikonsumsi dalam polifarmasi, obat akan berinteraksi antarobat dan bereaksi negatif sehingga menimbulkan hal yang buruk. Polifarmasi juga akan terjadi apabila obat dikonsumsi dalam takaran obat dan durasi terapi yang salah.[4] Hal tersebut disebut dengan overdosis yang dapat mengakibatkan kematian.
Pasien tidak meminum obat juga merupakan dampak polifarmasi. Efek samping dan kompleksitas aturan minum obat dapat mengakibatkan pasien berhenti untuk meminum obat tersebut. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh pasien yang mempunyai literasi yang belum mumpuni sehingga dibutuhkan peran dari tenaga medis untuk melakukan edukasi kepada pasien.[5]
Upaya polifarmasi
suntingPolifarmasi dapat diupayakan dengan mengurangi atau menghentikan konsumsi obat yang bermanfaat secara klinis. Berdasarkan sistematis, upaya tersebut berdampak positif yang mencakup peningkatan kualitas hidup dan penurunan efek samping obat.[6] Akan tetapi, upaya tersebut perlu diterapkan dengan pendekatan kerja sama, seperti pasien, apoteker, dan dokter.
Peran apoteker
suntingApoteker mempunyai peranan penting dalam mengelola polifarmasi. Contohnya, tindakan medication review secara berkala sebagai pengidentifikasi obat yang tidak diperlukan. Pengurangan jumlah dan indikasi obat dapat dilakukan dengan intervensi farmasi. Selain itu, apoteker perlu melakukan pemastian bahwa aturan mengonsumsi obat secara benar telah dilakukan oleh pasiennya.[7]
Pendekatan polifarmasi
suntingPolifarmasi membutuhkan pendekatan terstruktur dan pendekatan interdisipliner karena terdapat kompleksitas dalam fenomena polifarmasi. Sebagai solusi fenomena tersebut, tenaga medis dan pasien perlu kolaborasi untuk mengadakan pelatihan dan edukasi.[8] Di samping itu, penerapan kebijakan rasionalisasi pengonsumsian obat secara layanan primer dan layanan sekunder. Manajemen polifarmasi membutuhkan pendekatan holistik sebagai peningkatan efisiensi pelayanan medis dan keselamatan pasien yang dilakukan dengan komprehensif.[9]
Referensi
sunting- ^ Halli-Tierney, Anne D.; Scarbrough, Catherine; Carroll, Dana (2019-07-01). "Polypharmacy: Evaluating Risks and Deprescribing". American Family Physician (dalam bahasa American English). 100 (1): 32โ38.
- ^ Varghese, Dona; Ishida, Cecilia; Patel, Preeti; Haseer Koya, Hayas (2025). Polypharmacy. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. PMIDย 30422548.
- ^ Maher, Robert L; and Hajjar, Emily R (2014-01-01). "Clinical consequences of polypharmacy in elderly". Expert Opinion on Drug Safety. 13 (1): 57โ65. doi:10.1517/14740338.2013.827660. ISSNย 1474-0338. PMCย 3864987. PMIDย 24073682. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ^ Masnoon, Nashwa; Shakib, Sepehr; Kalisch-Ellett, Lisa; Caughey, Gillian E. (2017-12). "What is polypharmacy? A systematic review of definitions". BMC Geriatrics (dalam bahasa Inggris). 17 (1). doi:10.1186/s12877-017-0621-2. ISSNย 1471-2318. PMCย 5635569. PMIDย 29017448. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- ^ Baldwin, R. Michael; Ohlsson, Staffan; Pedersen, Rasmus Steen; Mwinyi, Jessica; IngelmanโSundberg, Magnus; Eliasson, Erik; Bertilsson, Leif (2008-05). "Increased omeprazole metabolism in carriers of the CYP2C19*17 allele; a pharmacokinetic study in healthy volunteers". British Journal of Clinical Pharmacology (dalam bahasa Inggris). 65 (5): 767โ774. doi:10.1111/j.1365-2125.2008.03104.x. ISSNย 0306-5251. PMCย 2432489. PMIDย 18294333.
- ^ Barzel, Uriel S.; Rajasekaran, Divya (2015-04). "Atypical Femoral Fracture: Report of a Case and a Hypothesis As to the Pathophysiology". Journal of the American Geriatrics Society (dalam bahasa Inggris). 63 (4): 827โ829. doi:10.1111/jgs.13369. ISSNย 0002-8614.
- ^ Kamba, Vyani (2021-04-17). "Peran Apoteker dalam Meningkatkan Kepatuhan Berobat pada Pasien Diabetes Melitus". JOURNAL OF NONCOMMUNICABLE DISEASES (dalam bahasa American English). 1 (1): 45โ50. doi:10.52365/jond.v1i1.225. ISSNย 2776-3161.
- ^ Utami, Primanitha Ria; Mayangsari, Fransisca Dita; Ferlania, Dianda Aryntya Firia; Melinda, Sinta Oktavia (2024-12-04). "EDUKASI KEPATUHAN MINUM OBAT LANSIA MELALUI PENGGUNAAN WEBSITE LAYANAN KEFARMASIAN". JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) (dalam bahasa Inggris). 8 (6): 5674โ5683. doi:10.31764/jmm.v8i6.26795. ISSNย 2614-5758.
- ^ Retnaningsih, Dwi; Deraya, Reanita Anggis; Anissya Putri, Iva; Selviana, Sinta; Sukesi, Niken (2024). Optimalisasi Asuhan Keperawatan: Mengatasi Tantangan pada Pasien Kanker Payudara selama Kemoterapi. Pekalongan: PT Nasya Expanding Management. hlm.ย 63. ISBNย 9786231157003. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)